Selasa, 06 Maret 2018

Desa Wisata Ciasihan Bagian 3. : Curug Cikuluwung Herang (Curug Bendungan) dan Curug Kiara

Setelah mengunjungi Curug Kiara minggu sebelumnya tanggal 27 Januari. Minggu depannya 4 Februari 2018 saya kembali ke Desa Ciasihan. Kali ini bareng teman-teman dari Traveler-Backpacker (TRACK) Kaskus Regional Bogor. Terakhir kamu jalan bareng ke Puraseda, hunting Curug dari Curug Cikoneng sampai Curug Salawe.
Berangkat pagi ternyata di jalan dari rumah ke tempat berkumpul di depan IPB Dramaga, hujan sangat lebat. Sempat istirahat sebentar di SPBU dan mengisi bensin, akhirnya perjalanan lanjut. Terkumpul ada 16 orang  yang berkumpul disusul Kang Danny yang gabung kemudian, jadi total peserta jadi 17 orang dengan menggunakan 10 motor.
Mampir di minimarket buat membeli bekal
Karena jalur yang kami lewati sudah sering di bahas di blog-blog sebelumnya termasuk ke Ciasmara, jadi tidak saya ceritakan dengan detail. Sampai di Desa Ciasihan, dipertigaan Ciasihan-Cibatok-Cemplang, kami menunggu Kang Danny, setelah terkumpul, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi, saat itu suasana gerimis.
Sampai di loket wisata, kami membayar tiket masuk Rp.5.000 per orang. Kemudian dilanjutkan ke lokasi parkir di area masjid. Dari parkir, dilanjutkan trekking sekitar 200 m. Kabut tebal menyelimuti perjalanan kami.
Cuaca berkabut
Cuaca berkabut
Sampai di loket pembayaran, ternyata tiketnya naik dari Rp. 10.000 minggu lalu menjadi Rp. 20.000. Mau gak mau kami tetap membayar meski protes karena naik 100% dalam rentang 1 minggu.
Setelah membayar tiket masuk, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri sisi bukit sepanjang jalur irigasi, kita harus extra hati-hati. Di sisi kiri dimana terdapat jurang di selimuti kabut sehingga kita juga tidak bisa melihat Gunung Salak.
Trek melewati saluran irigasi
Trek melewati saluran irigasi dengan Susana kabut
Tujuan pertama yaitu (kembali lagi) ke Curug Cikuluwung Herang (sekarang di sebut Curug Bendungan). Jalan beriringan sekitar 30 menit kami sampai di bendungan yang diselimuti kabut tebal. Tapi tetap bisa berfoto bersama hehehehe...
Sampai di irigasi Cikuluwung
Lanjut sekitar 50 meter kami sampai ke curug. Gak menunggu lama, meski kondisi sangat dingi, semua menceburkan diri ke kolam.
Curug Cikuluwung
Awalnya saya tidak berniat berenang di sini, tapi melihat Kang Dani dan Lukman berang dan naik ke tebing saya pun ikut-ikutan naik. Perlu keberanian dan bantuan untuk bisa naik ke atas.
Naik ke tebing
Naik ke tebing
Naik ke tebing
Naik ke tebing
It's me...!!!!
Awalnya cuman naik di tebing bagian bawah dan loncat-loncat ke kolam. Tapi pas Lukman dan Kang Danny ke atas, ternyata ada curug di atasnya. Saya pun ikut ke atas, tapi harus melewati curug yang berarus deras. Harus hati-hati, kalo gak, bisa ke bawa arus dan jatuh ke kolam. Di atas, curugnya gak terlalu tinggi, tapi kolamnya luas dan gak terlalu dalam. Di sini, kabut nya tebal di banding di bawah. Nah, jika kalian ke sini, coba lah ke curug di atasnya, hanya saja perlu sedikit usaha.
Curug di atas Curug Bendungan
Curug di atas Curug Bendungan
View dari atas
View dari atas
Dari atas, cara cepat kembali lagi tentu saja dengan cara loncat. Cobalah loncat dari sisi yang lebih tinggi, pasti lebih seru.
Setelah puas berenang di curug, kami melanjutkan ke Curug Kiara.Rute yang di tempuh sama dengan rute ke curug ini. Jadi kita balik lagi hingga ada petunjuk arah ke Curug Kiara. Dari jalur irigasi ke Curug Kiara sekitar 50m. Selanjutnya turun melewati tangga vertical. hati-hati turun di sini, lambat-lambat asal selamat. Di bawah sudah ada beberapa rombongan yang sedang mengambil foto. Begitu kita datang, langsung suasana jadi rusuk, kami yang memang sudah basah-basah langsung menceburkan diri. Melewati leuwi yang tidak terlalu dalam, kami menyeberang ke atas, ke curug utama. Di curug utama, tidak ada yang berani masuk karena tidak terlalu luas dan arusnya deras. kami hanya berada di bebatuan besar di sekitaran curug mengambil bebrapa foto.
Curug Kiara
Curug Kiara
Curug Kiara
Curug Kiara
Selanjutnya kami banyak berenang di aliran bawah yang leuwinya tidak terlalu dalam dan dikeliling tebing eksotis.



Puas berenang, kami pun menyiapkan makan siang. Ada yang memasak mie, pizza, brondong dan roti.Gak usah heran ya, kok sempat-sempatnya memasak pizza hehheh. Terima kasih sama Putri yang udah menyiapkan semuanya 😃.
Makan siang
Asyiknya rame-rame...
Asyiknya rame-rame...
Berada di luar air, ternyata membuat badan malah menggigil hehhehe. Dan meski cuaca tidak mendukung, pengunjung malah bertambah. Selesai menyantap makanan, beres-beres dan bersih-bersih (ini harus!!!), kami pun melanjutkan perjalanan menuju Curug Batu Ampar, Curug Batu Susun dan Curug Bidadari.

Link terkait:
- Curug Geblug
- Curug Batu Ampar, Curug Batu Susun dan Curug Bidadari
- Curug Kiara
- Curug Cikuluwung Herang dan Curug Emas
- Curug Saderi dan Curug Cimanglid
- Curug Cikawah dan Curug Gleweran

Jumat, 02 Maret 2018

Wisata Tenjolaya-Bogor Part VIII: Curug Sawer dan Curug Segitiga

Ini adalah perjalanan ke-3 ke lokasi wisata Curug Cipeuteuy atau Situs Megalitik Arca Domas/Cibalay. 2 perjalanan sebelumnya silahkan di baca di sini:


Minggu, 21 Januari 2018, kali ini kami bertiga, saya, Revan dan Cici menggunakan 2 motor, saya berboncengan dengan Revan dan Cici menyewa ojeg. Kami janjian di salah satu SPBU di daerag Gunung Batu. Meski cuaca pagi itu mendung, kami tetap melanjutkan perjalanan.
Sebenarnya tujuan kali ini adalah mengunjungi Curug Ciseeng yang dulu belum ada namanya dan berharap kali ini curugnya sudah dibuka alias ada akses buat turun.
Tidak perlu dijelasin lagi perjalanan kami menuju lokasi ini. Jadi setelah sampai di lokasi, kami parkir di tempat ibuk yang biasa, yang anaknya juga pegawai Taman Nasional dan juga penjaga tiket masuk kawasan ini. Karena mas yang jaganya belum ke loket, jadi kami bayar tiketmasuk di parkiran, sekarang jadi Rp. 15.000/orang yang sebelumnya Rp. 10.000. Selanjutnya trekking sekitar 15 menit. Sampai di gerbang Situs Arca Domas, kami mengambil langsung arah ke curug jadi kami tidak melewati situs. 
Melewati hutan pinus hingga sampai di loket. Di sini kami istirahat sebentar, sampai penjaganya sampai. Setelah ketemu, kami pun di ajak menuju Curug Sawer, yang menurut mas nya belum ada pengunjung yang ke sana. Karena excited, jadi kamipun oke aja. 
Awal perjalanan
Jalur curug baru ini, mengikutin aliran kali kecil (irigasi?) di depan loket, sebelum turun menuju camping ground.  
 
 
Menyusuri kali ini yang masih di hutan pinus dan jalannya masih berupa jalan setapak. Selanjutnya mengikutin jalan yang baru saja di buka, karena cuman berupa tanah merah, jadi jalannya agak licin. Selanjutnya kami menyeberangi sungai melewati jembatan kayu kecil. 
 
Di seberang, kami naik bukit lagi hingga menemukan area camping ground yang baru dipersiapkan. Nah sebenarnya dari sini kita ambil jalur lain hingga ke sungai dan mengikuti alur sungai sampai ke Curug Cipeuteuy.
 
Meninggalkan camping ground ini, kemudian kami melewati jalan tanah lagi yang licin. Selanjutnya menyusuri pinggir sungai dengan trek berbatu. Tentu saja batunya licin-licin karena jarang sekali dilewatin kecuali pekebun. 
Sepanjang perjalanan, aliran sungai terlihat kering dan tidak teraliri. Mengherankan, begitu masuk aliran sungai, kami menemukan leuwi dan curug kecil yang airnya lumayan deras dan sangat bening. 
 
Selanjutnya sekitar 50m di depan juga terlihat curug-curug kecil dengan leuwi yang menggoda kita untk menceburkan diri. Melanjutkan perjalanan, masih dengan trek berbatu yang licin, kami menemukan lagi curug dan leuwi. 
Tidak jauh dari curug kecil ini, dikejauhan kami melihat curug yang mengalir di tebing sebelah kiri. Kemudian di kejauhan terlihat tujuan utama kami, Curug Sawer. Nah menurut guide nya, kami adalah pengunjung pertama yang datang kesana, ini menurut dia loh ya... hehehehe.
 
 
Curug nya lumayan tinggi, tapi debitnya kecil, kalau besar pastilah spektakuler banget. Mungkin kami sedang tidak beruntung.
 
 
 
Di bawahnya tidak terdapat leuwi yang dalam. Saya sempatkan untuk mandi di bawah air terjunnya. Seperti yang di duga, dingin bangeeeet hahahaha. Di bawah aliran curug ini ada beberapa leuwi yang gak terlalu dalam. Nah di sini ada udang-udang endemik sungai ini. Berwarna agak kemerahan.
 
Setelah puas bermain di sini, kamipun kembali. Nah sampai di caping ground tadi, kami mengambil jalur pintas ke sungai. 
Jalur pulang menuju Curug Cipeuteuy
 Sampai di Curug Cipeuteuy saya dan Revan bermaksud ke Curug Ciseeng yang beda pengelola, tapi sayang curug nya di pagar/ditutup jadi tidak bisa turun. Hanya saja buat kalian yang mau kemping, di sekitar Curug Ciseeng disediakan camping ground hanya saja beda pengelola dengan Curug Cipeuteuy.
Selanjutnya kami menuju Curug Segitiga. Curug ini berada di bawahnya Curug Cipeuteuy. Jadi dari Cipeuteuy ambil jalur kiri yang ada jembatan kecil. Kira-kira 50 meter terdapat tangga turun ke sungai. Nah di bawah ada 2 aliran sungai, yang kiri dari Curug Ciseeng yang membentuk curug kecil, dan kanan adalah Curug Segitiga yang merupakan aliran dari Curug Cipeuteuy.
Tangga menuju Curug Segitiga
Melewai tebing nan eksotis, sekitar 50 meter terlihat Curug Segitiga yang menurut saya lebih bagus dibanding Curug Cipeuteuy. Ada 2 aliran curugnya, di tengahnya kita bisa naik ke batunya dan loncat ke leuwinya yang dalamnya sekitar 2 meter. Kolamnya juga luas dibandingkan Cipeuteuy. Jadi buat yang pengen berenang saya sarankan berenang di sini. Hanya saja buat yang gak bisa berenang harus hati-hati sebaiknya berenang di pinggir atau di Curug Cipeuteuy yang dangkal. Di sini saya puas berenang dan loncat-loncat tanpa diganggu pengunjung lain.
 
 
 
 
Karena udah mulai hujan kami kembali dan berteduh di warung di area camping ground. 
Menunggu hujan sambil ditemani mie dan teh hangat adalah moment yang indah bukan 😀😋😜
Berfoto di hutan pinus sebelum pulang
Berfoto di hutan pinus sebelum pulang