Selasa, 02 Juli 2019

Jelajah Sumedang Bagian 3: Mata Air Cikandung dan Waduk Jatigede



Mata Air Cikandung
Setelah dari Curug Gorobog tujuan kami selanjutnya adalah Mata Air Cikandung. Karena ke mata air ini berlawanan arah dengan Curug Garobog jadi kami harus kembali lagi ke arah penginapan/kota. Dari Curug Gorobog berjarak sekitar 20km atau sekitar 10km dari pusat kota. Untuk ke sini kami mengandalkan Google Maps dengan kata kunci ‘Mata Air Cikandung’. Dari perempatan (Bundaran Alam Sari Sumedang) ambil kiri (kalo ke kanan ke Wado). Terus ke kiri nanti masuk ke Jalan Cikandung, ini adalah jalan desa dan kondisi jalannya rata dan tidak naik turun bukit.

Menyusuri Jalan Cikandung nanti terlihat papan petunjuk kayu kecil letak Mata Air Cikandung, masuk ke dalam sekitar 100m berupa jalan tanah nanti kita akan sampai di parkiran mata air, di depan deretan warung. Karena bulan puasa, semua warung tutup, hanya ada beberapa orang yang jaga parkir. Di sini tidak ada tiket masuk hanya bayar parkir dan itupun gak ada tarifnya. Di parkiran ini juga kita sudah berada di pinggir kolam Mata Air Cikandung.
Gang masuk ke mata air
Suasana di sekitar mata air
Kolam ini mempunyai kolam alami, berada di pinggir bukit dengan pohon-pohon besar. Di kelilingi oleh sawah menambah asrinya lingkungan di sini. Di pinggir kolam terdapat batu-batu besar yang kadang-kadang digunakan oleh anak-anak untuk loncat (orang dewasa jangan loncat karena dangkal). Kolam ini sangat bening bak kristal sehingga kita bisa melihat sampai ke dasar kolam dan mempunyai kedalaman maksimal sedada orang dewasa (1.5m). dasar kolam di penuhi batu-batu kerikil berwarna hitam, abu-abu dan kecoklatan, tidak terdapat tanah dan lumpur sehingga walaupun kita berenang tidak akan membuat keruh air kolam. Mata air ini menjadi hulu sungai yang lumayan lebar dan menjadi sumber pengairan warga. Mata air ini juga menjadi sumber air minum warga, ini terlihat dari adanya saluran pipa yang masuk ke sela-sela bebatuan (sumber mata air) jadi tidak langsung ke dalam kolam.
Jernihnya kolam Mata Air Cikandung
Bermain air
Bermain air
Karena memang sudah berniat untuk berenang di sini, kami pun masuk ke kolam, barang bawaan cukup ditaruh di atas bebatuan di pinggir kolam. Begitu masuk, terasa airnya begitu dingin dan perlu waktu untuk membiasakan tubuh. Kebetulan kami membawa kamera bawah air jadi bisa dipakai ketika menyelam hahahah. Saking jernihnya air di sini, foto kita seolah-olah bukan di dalam air. Di kolam ini ternyata ada juga ikan asli/endemik sini, berupa ikan kecil-kecil berwarna emas.
Pemandangan bawah air
Pemandangan bawah air
Di atas kolam juga terdapat jembatan kayu yang pas untuk berjalan 1 orang. Di sini kita bisa berfoto-foto dengan latar persawahan. Jembatan kecil ini juga dipakai oleh anak-anak lokal untuk ke seberang dan bermain di aliran sungai. Nah untuk yang bawa anak-anak balita di sini juga disediakan penyewaan ban. Hanya saja karena ini adalah sumber air masyarakat dan merupakan hulu sungai jadi sebaiknya jangan mandi menggunakan sabun dan sampo yang mengandung zat-zat kimia, karena saya lihat beberapa anak lokal mandi menggunakan sampo dan kadang-kadang terlihat satu dua sampah sampo bertebaran.
Bermain di jembatan

Bermain di jembatan
Berat sekali rasanya meninggalkan lokasi kolam ini karena suasananya yang sangat asri, air bersih dan dikelilingi oleh persawahan. Selanjutnya kami kembali ke penginapan untuk beristirahat sebentar untuk melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Waduk jatigede.
Waduk Jatigede
Lagi-lagi ke destinasi ini kami mengandalkan Google Maps. Berlawanan arah dengan tujuan sebelumnya, jalur ini mengikuti lingkar Sumedang-Wado. Memasuki jalan desa yang tidak terlalu bagus, melewati perbukitan dan sempat melintasi jalur tol baru, tol Cisumdawu. Jalan desa yang kecil dan jelek ini sempat membuat saya hampir tabrakan dengan sepeda motor dari depan. Sampai di suatu jalan masuk yang cuman cukup untuk satu mobil ternyata kami mengikuti titik di Maps “Puncak Damar Waduk Jatigede” dan balik kembali karena tujuan awal adalah ke gerbang waduk.
Jalan kecil memasuki hutan
Jalan berbatu keluar dari hutan
Mengikuti petunjuk penduduk lokal, kami memasuki portal yang pas buat satu mobil (titik koordinat ini tidak ada di Maps). Melewati portal kami memasuki wilayah hutan yang lumayan gelap dan jalannya pas untuk satu mobil (berharap tidak ada mobil dari depan). Kondisi jalan menurun dan di kanan berupa lembah yang mengingatkan saya perjalanan ke Kilometer 0  di Sabang. Keluar dari portal sampailah kami di area terbuka dengan jalan berbatu-batu. Ambil jalur kiri ke arah Waduk. Karena jalannya berupa bebatuan dan banyak lobang membuat city car jalannya tersendat karena sesekali kena batu base nya hahahha. Jalan beberapa ratus meter kami berencana putar balik hingga bertemu pemotor yang merupakan pegawai waduk dan menginfokan untuk ke arah depan waduk tidak bisa menggunakan mobil yang kami bawa dan kami di arah kan ke Tanjung Duriat untuk melihat panorama waduk.
Memasuki portal tanpa penjaga


Tanjung Duriat
Lurus sekitar beberapa ratus meter ketemu pertigaan, kami ambil kanan ke arah Tanjung Duriat, meskipun jalannya masih berbatu-batu tapi di sini adak mendingan. Sampai di portal tidak terlihat satupun penjaga di sini. Melewati portal kemudian sampailah kami di landmark Tanjung Duriat. Di sini kami parkir di sebuah gazebo di depan landmark. Dari landmark ini kita sudah melihat jelas Waduk Jatigede dari ketinggian.
Perlu dicatat bahwa waduk ini adalah waduk kedua terbesar di Indonesia. Meskipun sudah direncanakan dari jaman Belanda tapi baru terealisasi tahun 2008 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diresmikan tahun 2­­015 di era Presiden Jokowi. Waduk ini  dibuat dengan membendung aliran Sungai Cimanuk dan menenggelamkan 28 desa. Jadi kalau kita datang di musim kemarau maka akan terlihat bekas reruntuhan desa-desa ini. Waduk ini digunakan untuk mengairi sawah-sawah di Majalengka, Indramayu dan Cirebon dan juga digunakan buat PLTA.

Dari landmark kita bisa melihat puncak-puncak bukit yang menjadi pulau akibat genangan. Di bawah terdapat tanjung kecil yang digunakan untuk wisata perahu kelliling waduk. Mungkin kalau tidak tahu sejarah waduk ini kita akan mengira bahwa ini adalah danau alami. Hari semakin sore dan awan gelap juga semakin mendung. Memberanikan diri, saya melepas drone untuk melihat pemandangan waduk dari atas. Terlihat pintu air dan dam di kejauhan dan aliran sungai yang dikontrol lewat pintu air. Terdapat juga bukit yang menjorok ke waduk dimana terdapat tulisan besar Waduk Jatigede, mungkin kalau masih pagi kami bisa bermain di sana.
Waduk Jatigede dari atas
Waduk Jatigede dari atas
Di bukit sebelah kanan terdapat rumah pohon dan jembatan gantung yang tidak terlalu panjang buat disediakan untuk spot selfie. Hanya saja tidak ada petugas yang berjaga di sini. Dari spot ketinggian ini kita bisa mengambil foto dengan latar belakang danau. Karena cuaca sudah gelap karena mendung dan juga semakin sore kami segera kembali ke penginapan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan besok pagi.



Baca juga link terkait:
- Danau Biru Situ Cilembang
- Curug Gorobog
- Curug Sindulang/Curug Cidulang

Jelajah Sumedang Bagian 2: Curug Gorobog

Setelah dari Curug Cinulang kami balik lagi melewatin Cicalengka dan terus ke arah Sumedang kota. Sepanjang jalan kami mencari penginapan karena belum dibooking sebelumnya. Menggunakan Maps kami menemukan penginapan yang berada di pinggir jalan raya dekat perempatan lampu merah dengan harga per kamar Rp. 185.000. Hotel yang kami sewa merupakan hotel transit mirip kos-kosan dengan banyak kamar dan biasa disinggahi oleh sopir-sopir truk/box antar kota. Dan harap maklum kondisi kamarnya sangat sederhana hahaha.
Makananan yang menjadi iconnya Sumedang

Kota yang dijuluki dengan Kota Tahu ini ternyata tidak salah. Ikon kota ini berupa tugu yang atas nya berbentuk tahu hahaha. Siapa sih yang tidak tahu dan tidak suka tahu? Umumnya masyarakat Indonesia suka tahu dan di sini hampir di setiap sudut  banyak yang berjualan tahu. Dan ini juga yang menjadi menu berbuka puasa kami, tahu murah meriah Rp. 20.000 dapat 40 biji. Selain tahu, kota ini juga berlatar belakang Gunung Tampomas (1684mdpl) yang terlihat jelas kalau cuaca cerah. Karena berada di tengah, kota ini juga menjadi penghubung/jalan utama Bandung-Cirebon, jadi kalau mau ke Garut atau Majalengka juga bisa melewati jalan ini. Dan sekarang sedang dilakukan pembangunan jalan tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) yang menembus bukit dan merupakan tol pertama yang melewati terowongan. Untuk makan tidak masalah karena harga-harganya masih standar.

Curug Gorobog
Ini adalah spot kedua yang kami kunjungi selama di Sumedang. Lokasi curug ini juga termasuk yang terdekat dari tempat kami menginap sekitar 45 menit. Curug ini berada di Desa Citengah. Seperti umumnya curug, curug ini juga berada di daerah perbukitan.

Melewati jalan desa dengan pemandangan yang aduhai, of course berupa perbukitan karena Sumedang berada dan dikelilingi oleh perbukitan nan subur. Dimana-mana terlihat sawah membentang, tidak salah jika Sumedang menjadi salah satu pusat kerajaan Sunda yang makmur dahulunya yaitu Sumedang Larang.
Suasana pedesaan
Melewati perkampungan kemudian kami melewati jalan mendaki, berkelok-kelok dan kecil. Perbukitan yang diselimuti oleh hutan lebat nan perawan. Di atas-atas bukit terlihat bangunan yang awalnya kami bertanya-tanya itu apa, dan ternyata kamipun melewatinya, kagum sendiri karena melewati berhasil melewatinya hahaha. Menyisiri pinggir perbukitan, terlihat hamparan sawah dengan dihiasi sungai yang berkelok-kelok yang merupakan aliran dari Curug Gorobog.
Desa Citengah
Meskipun berada di atas perbukitan dan tengah hutan ternyata ada beberapa spot wisata di sini, ada tempat pemandian alami lengkap dengan resto salah satunya bernama Kampung Karuhun. Terus ke atas, jalanan semakin sepi, gelap dan sudah terlihat bangunan hingga sampai di lokasi wisata yang baru di buka yang berada pas di bawah Curug Gorobog. Spot ini sedang di benahi, sepertinya dibuat dengan konsep natural. Tidak jauh dari lokasi ini di sebuah tikungan, kita akan menemukan gerbang Curug Gorobog. Nah jika teruskan ke atas sekitar 300m kita akan bertemu dengan perkebunan teh, tapi kami skip spot ini karena sudah biasa melihat kebun teh.
Salah satu view menuju Curug Gorobog
Di depan gerbang terdapat area agak luas yang cukup untuk beberapa mobil dan sebuah saung tapi tidak terlihat satupun pengunjung di sini. Setelah parkir kemudian berjalan kaki sekitar 100m kami bertemu dengan loket masuk tapi tidak ada petugas hingga kami melanjutkan perjalanan. Suasana di sini sangat-sangat asri, sepanjang jalan yang sudah di cor ini kami bisa merasakan suasana pegunungan dengan pohon-pohon besar. Pohon-pohon di sini bukan pohon pinus, bearti tanaman asli, karena bagaimanapun pohon pinus bukan pohon asli Jawa tapi dari Sumatera, dan kurang bagus buat ekosistim karena menyerap  banyak air dan bisa membuat kering wilayah sekitarnya. Berjalanan di pinggir lembah, terlihat pegunungan yang menghijau ditutupi oleh hutan perawan.
Suasana hutan dari loket menuju curug
Suasana hutan
Hanya sekitar 100-150m berjalan kami pun sampai di lokasi air terjun, ditandai dengan adanya bangunan-bangunan seperti spot selfie di pinggir sungai, saung, dan musholla. Di sini kami bertemu petugas yang sedang bersih-bersih area curug (yang memang sudah bersih), sedikit berbincang-bincang dan sekalian membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000/orang. Begitu memasuki area ini sudah berasa suasana adem dan asri. Taman-taman ditata rapi dan terdapat tong-tong sampah. Dan dari saung di kejauhan sudah terlihat Curug Gorobog hingga ke tertinggi.
Curug Gorobog 4 tingkat

Bukan hanya curug utama yang ada di sini, di sebelah kanan terdapat aliran sungai yang lebih kecil, membentuk curug bertingkat melewati batu cadas. Karena bentuknya yang landai, pengunjung bisa menaikinya. Sementara airnya yang jernih dan tidak terlalu deras bisa untuk bermain air.
Curug yang lebih kecil
Curug yang lebih kecil
Sementara itu, curug utama terdiri dari 4 tingkatan yang bisa kita lihat dari jauh, namun dari dekat, tingkatan pertama dan kedua tidak terlihat. Tingkat pertama agak tersembunyi, sementara tingkat kedua lebih besar dan terlihat, yang paling bagus adalah tingkat ketiga yang terdiri dari 2 curug dan salah satunya membentuk seperti tirai air. Sementara itu tingkat ke empat adalah yang paling bawah yang tertinggi. Total tinggi curug ini sekitar 40 meter. Airnya sejuk dan jernih karena langsung dari pegunungan. Tingkat terakhir ini kita bisa merasakan langsung kesejukan air sungai yang yang dalamnya cuman semata kaki sampai sebetis.

Curug Gorobog dari depan
Aliran air yang tidak dalam
Curug Garobok 4 tingkat


Untuk ketingkat paling atas belum ada akses sementara ke tingkat 2 ada jalan setapak kecil di bukit sebelah kanan namun jarang ada pengunjung ke tingkat ini. Untuk ke tingkat 3 disediakan jalan setapak di sisi bukit sebelah kiri. Harap berhati-hati ke tingkat ini karena jalannya menyisiri pinggir tebing. Hanya, Revan, Ringgo dan Jay ke tingkat ini sementara saya hanya mengambil foto mereka dari jauh.
Naik ke tingkat atas
Curug Gorobog tingkat atas
Hanya saja, kami tidak bermain air atau berenang di sini karena masih pagi dan kami berencana bermain air dan berenang di Mata Air Cikandung yang menjadi tujuan selanjutnya. Jadi buat kalian jika ke Sumedang, spot ini sangat saya rekomendasikan untuk menikmati suasana alam yang asri dan sepi. Selain curug juga pemandangan sepanjang jalan menuju curug ini.

Info:
Nama  : Curug Gorobog
Lokasi  : Desa Citengah-kab. Sumedang-Jawa Barat
Biaya   : HTM Rp. 5.000 dan parkir gratis





Baca juga link terkait:
- Danau Biru Situ Cilembang
- Mata Air Cikandung dan Waduk Jatigede
- Curug Sindulang/Curug Cidulang























Senin, 01 Juli 2019

Jelajah Sumedang Bagian 1: Curug Sindulang/Curug Cinulang


Trip kali ini saya, Revan, Ringgo dan Jay berpetualang ke Sumedang, salah satu kota di Jawa Barat yang belum pernah saya kunjungi. Trip ini dimulai tanggal 13 Mei dan berakhir 16 Mei dengan rute Bogor-Cikampek-Cileunyi-Sumedang dan kembali via Subang-Purwakarta. Berangkat dari Bogor sekitar jam 5.30 pagi karena hari Senin jalan tol Jagorawi hingga Cikampek sangat macet dan baru bisa keluar kemacetan sekitar jam 9 pagi. Lewat KM45 jalan tol sudah lancar dan kami beristirahat sebentar di KM55.



Trip kali ini saya, Revan, Ringgo dan Jay berpetualang ke Sumedang, salah satu kota di Jawa Barat yang belum pernah saya kunjungi. Trip ini dimulai tanggal 13 Mei dan berakhir 16 Mei dengan rute Bogor-Cikampek-Cileunyi-Sumedang dan kembali via Subang-Purwakarta. Berangkat dari Bogor sekitar jam 5.30 pagi karena hari Senin jalan tol Jagorawi hingga Cikampek sangat macet dan baru bisa keluar kemacetan sekitar jam 9 pagi. Lewat KM45 jalan tol sudah lancar dan kami beristirahat sebentar di KM55.


Curug Sindulang/Curug Cinulang

Keluar Cikampek lanjut tol Purbaleunyi kemudian keluar tol Cileunyi. Keluar tol ini kita sudah memasuki wilayah Rancaekek di Bandung Barat. Wilayah ini lumayan padat penduduk, tipikal wilayah-wilayah di Jawa Barat.  Keluar jalan tol ini ke Curug Sindulang atau lebih dikenal dengan nama Curug Cinulang berjarak sekitar 1 jam perjalanan.Dan di sini nanti ada percabangan menuju Nagreg (ke Garut) dan ke Sumedang kota. Karena Curug Cinulang berada di perbatasan dengan Cicalengka, maka kita terus menuju Cicalengka. Menuju daerah perbatasan ini kita akan memasuki jalan ke arah perbukitan/pegunungan jadi kondisi jalannya akan terus naik.

Kondisi jalan yang kurang bagus dan tidak selebar jalan utama, tapi kita akan di suguhi dengan pemandangan yang angat cantik. Di spot tertentu kita akan bisa melihat pemandangan kota yang di kelilingi oleh perbukitan sementara di sisi lain berupa pegunungan dengan view pedesaan dan sawah-sawah yang menghampar bak permadani.








Di satu spot yang rata seperti lapangan kita bisa parkir di sini. Terdapat beberapa warung yang saat itu tutup karena puasa. Di spot ini kami mampir untuk berfoto setelah kembali dari Curug Cinulang. Siang itu terlihat sekelompok anak SMP berpakaian corat-coret sepertinya habis merayakan kelulusan. Sepertinya spot ini adalah spot favorit warga dan pas sekali untuk melihat sunset/sunrise dan citylight. Dan bagusnya lagi, lahannya luas sehingga bisa bebas parkir.
View Cicalengka
View dari bukit



Menyusuri Jl. Curug Cinulang yang berkelok-kelok dan naik turun bukit pemandangannya yang hijau memanjakan mata. Meskipun begitu kita harus hati-hati berkendara karena kondisi jalan dan juga karena kita berada di sisi bukit. Kadang-kadang kita melewati satu dua tempat wisata alam dan resto-resto berkonsep natural, salah satunya Pondok Wisata Aki Enim yang juga bisa ditemukan di Maps. Di sisi kiri berupa lembah dengan sungai dan persawahan.
Di suatu tanjakan kami membaca plang petunjuk arah ke Curug Cinulang, berikutnya kami membaca lagi petunjuk arah yang ternyata keduanya adalah pintu masuk lama (tidak resmi). Tidak jauh dari jalur tadi, kami sampai di gerbang resmi Curug Cinulang. Karena berada di sisi lembah, tidak tersedia lahan parkir yang luas, hanya memanfaatkan sedikit badan jalan. Saat itu terlihat beberapa motor pengunjung yang datang lebih dahulu. Untuk biaya parkir mobil Rp. 10.000 sementara tiket masuk ke curug Rp. 5.000/orang.
Gerbang masuk Curug Cinulang
Dari loket kita akan melewati jalan turun, jalan yang sudah di cor. Tidak beberapa jauh terdapat anak sungai kecil berair jernih yang jadi cikal salah satu curug yang ada di area ini. Melewati jembatan kecil di atas anak sungai ini kita sudah bisa melihat kemegahan Curug Cinulang. Terlihat 2 air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50m dengan arus yang sangat deras dan mengaliri Sungai Citarik yang membelah lembah ini. Curug ini juga yang menjadi batas wilayah kab. Sumedang dan Bandung Barat. Dari nama aslinya:  Curug Sindulang kita bisa menebak bahwa curug ini bagian dari Sumedang karena nama Sindulang berasal dari nama salah satu desa di Sumedang.
View curug dari atas dekat gerbang masuk
Jalan masuk menuju curug
Oke kita lupakan dulu klaim wilayah ini... yang jelas Curug ini adanya di Jawa Barat hahahaha. Selanjutnya kita berada di area yang lumayan rata dan luas, di sini kita bisa ke musholla dan toilet. Hanya saja musholla dan toiletnya kurang terawat dan terlihat lusuh. Dari sini kita terus ke bawah, dan saking derasnya curug ini, sepanjang jalan kita bisa merasakan tampiasnya. Satu hal yang sangat mengganggu adalah melihat pemandangan warung-warung yang bertebaran sepanjang pinggir sungai sekitar curug. Boleh dikata, setiap area rata terdapat warung yang terbuat dari kayu dengan atap terpal yang sudah hancur diterpa kencangnya angin yang berasal dari curug. Menurut saya seharusnya warung-warung ini berada di atas agar terlihat rapi dan bersih.
Sampai di bawah, tampias semakin kuat, berdiri di sekitar sini harus rela basah. Bukan hanya itu, semua bebatuan di sekitar ini menjadi sangat sangat licin. Jadi harap berhati-hati ketika mendekati area curug, jangan sampai tergelincir ke arus sungai. Di atas sungai terbentang jembatan bambu untuk mencapai seberang sungai yang ternyata dari seberang juga terlihat akses menuju curug ini. Dan lagi-lagi, jembatan bambu ini juga sangat licin, dan berbahaya, dan saya sempat tergelincir dan untung berpegangan pada sisi jembatan.
Di tebing sebelah kiri terlihat curug yang sungainya kami lewati tadi. Debitnya tidak terlalu deras tapi terlihat cantik dengan tipe cascade, mengalir melewati bebatian dan terlihat bertingkat. Air dari curug ini langsung masuk ke derasnya arus Sungai Citarik. Sementara curug utama, dengan ketinggian sekitar 50m, terdiri dari 2 curug dengan debit besar dan arus yang sangat kuat, mungkin karena masih sering turun hujan meskipun seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Di balik kecantikan curug ini sangat disayangkan banyak nya sampah yang terbawa aliran sungai dan banyak yang menyangkut di sela-sela bebatuan sungai, jadi terlihat agak kotor.. Perlu dicatat, di aliran atas curug ini terdapat wana wisata air.
Curug di tebing sebelah kiri
Ringgo @Curug Cinulang
Menyeberangi sungai melewati jembatan bambu, kami sampai di sebuah saung yang lumayan luas tapi tetap saja kebasahan tampias dari curug. Di saung ini kami menaruh tas sekaligus berteduh. Di area ini tersedia juga beberapa toilet dan juga terlihat jalan setapak menuju atas bukit. Lewat sini kita bisa turun ke sungai dengan aman untuk mengambil foto-foto curug. Kita bisa duduk di bebatuan dekat curug dan teman lain bisa mengambil foto dari sudut yang pas yang agak aman dari tampias. Di sini kita tidka bisa berlama-lama menggunakan kamera DSRL karena akan basah dan bisa rusak. Jadi gunakan HP dan jaga tetap kering.
Di depan Curug Cinulang
Di depan Curug Cinulang
Di depan Curug Cinulang
Meskipun bulan puasa, di sini juga ada beberapa pengunjung lain walau kurang dari 10 orang. Dan memasuki tengah hari kami meninggalkan curug ini menuju Sumedang kota. Mudah-mudahan kedepannya curug ini lebih dikelola profesional dan ditata sehingga lebih dapat dinikmati wisatawan sebagaimana kita menikmati keindahannya lewat cuplikan lagu Sunda yang ditulis kang Yayan Jatnika di Chanel Youtube ini dengan judul sama, Curug Cinulang. Berikut cuplikan lyric lagu tersebut yang mengambarkan kegalauan akan masa depan cinta seseorang:
Curug Cinulang
Di curug Cinulang
Bulan béntang narémbongan
Hawar-hawar aya tembang
Tembang asih tembang kadeudeuh duaan


Di curug Cinulang
Anjeun ceurik balilihan
Muntang kana panghareupan

Cinta urang mugia sing papanjangan


 Kabaseuhan cai kahéman
Kacérétan ibun kamelang
Meungkeut pageuh geter rasa kahariwang
Hariwang cinta urang panungtungan
Kabaseuhan cai kaheman
Kaceretan ibun kamelang
Mengket pageuh geter rasa kahariwang
Hariwang cinta urang panungtungan


Terjemahan:

Di Curug Cinulang
Bulan bintang bermunculan
Seperti ada lantunan lagu
Lagu cinta lagu tersayang berdua



Di Curug Cinulang
Batin menangis kesakitan
Berharap pada masa depan
Cinta kita semoga kekal selamanya


Terbasahi air kebahagiaan
Terciprati kehawatiran
Diikat kuat dengan rasa kecemasan
Cemas cinta kita berakhir

Info:
Nama : Curug Sidulang/Curug Cidulang
Lokasi: Desa Sidulang-kab. Sumedang
Biaya: HTM Rp. 5.000 dan parkir (mobil) Rp. 10.000


Baca juga link terkait:
- Danau Biru Situ Cilembang
- Mata Air Cikandung dan Waduk Jatigede
- Curug Gorobog

Jelajah Cianjur Selatan, Garut Selatan dan Bandung Selatan Bagian 11: Curug Dengdeng

Dari Rancabuaya dan Puncak Guha, yang menjadi tujuan kami selanjutnya dan finish di Ciwidey. Karena masih ada waktu kami mampir dulu di Curug Dengdeng yang kebetulan searah. Curug Dengdeng ini sudah masuk wilayah Cianjur Selatan dan sewaktu melewati jalur ini sebelumnya, kami belum mengetahui keberadaan curug ini.

Oh iya, sebenarnya Curug Dengdeng ini mempunyai nama yang sama dengan Curug Dengdeng di daerah Cipanas, dan keduanya sama-sama berada di daerah Cianjur. Curug Dengdeng Cipanas ini pernah kami kunjungi sebelumnya, bisa di lihat di link berikut: Curug Dengdeng-Cipanas dan Curug Dengdeng-Rumpin Bogor



Dari Rancabuaya ke Curug Dengdengk ami melewati Pantai Jayanti dan terus naik ke atas melewati perkampungan dan perbukitan. Jarak dari Rancabuaya sekitar 40km dan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Mengikuti Google Maps, dan mendekati lokasi kami bertanya pada penduduk lokal. Berpatokan pada SMK 1 yang ada di seberang gang, kami parkir di sebuah warung kecil dipinggir jalan.
Penampakan SMK 1 yang jadi patokan
Menyeberangi jalan dan masuk ke jalan desa, melewati perkampungan yang membingungkan. Sempat nyasar beberapa kali kemudian kami bertemu dengan anak pemilik warung dan bersedia mengantar ke lokasi. Melewati kebun-kebun warga hingga sampai di batas hutan. Dari sini trekking sebenarnya dimulai. Menyusuri jalan setapak yang masih alami, menuruni bukit dengan pemandangan hutan tropis.
Melewati jalan kebun
Menuruni bukit
Ada satu titik di jalur ini yang ekstrim yaitu melewati tebing batu (terlihat) seperti tebing air terjun yang kering. Melewati titik ini kemudian menuruni tebing batu dengan pegangan tali. Dari titik ini perjalanan sudah mulai santai hingga sampai ke pinggiran sungai. Sampai di pinggiran sungai kita sudah melihat Curug Dengdeng dari kejauhan. Selanjutnya menuruni bukit yang tertutup semak-semak hingga sampai di pinggir sungai. Di sini kita bisa melihat curug kecil namun tinggi yang tersembunyi diantara tebing. 
Curug yang lebih kecil
Curug Dengdeng dari kejauhan
Curug Dengdeng dari kejauhan
Untuk ke curug utama kita harus berjalan sekitar 50m, menyeberangi sungai yang terlihat kering. Melewati bebatuan besar dan kecil hingga kami sampai di dekat kolam. Hanya ada 4 orang ABG lokal yang santai di atas batu besar.  Curug utama ini tingginya sekitar 25m dengan debit air yang tidak terlalu besar. Keunikan curug ini adalah batu tebingnya yang berwarna coklat kehitaman. Biasanya tebing-tebing curug ditumbuhi lumut atau tumbuhan menjalar tapi di curug ini tidak tumbuh seolah-olah terbentuk dari batu cadas. Sementara itu, air sungai yang jatuh terbagi menjadi beberapa bagian sehingga terlihat seperti alur air yang terlihat unik. 
Curug Dengdeng dari dekat
Curug Dengdeng dari dekat

Air yang jatuh terkumpul di kolam yang lumayan luas dan airnya tidak begitu dalam.  Meskipun tidak sejernih curug-curug di gunung namun air di sini lumayan jernih dan bisa untuk berenang. Tapi kebanyakan pengunjung puas hanya dengan duduk-duduk di bebatuan besar di depan curug dan menikmati kesunyian hutan dan lembah.
Kolam curug bisa dipakai untuk berennag
Setelah puas berfoto-foto, saya dan Ringgo melanjutkan perjalanan kembali ke parkiran. Meskipun perjalanan turun tidak terlalu menguras tenaga tapi pejalanan pulang sedikit terasa capek karena cuaca mulai panas dan tidak membawa air minum. Jadi buat kalian yang mau ke curug ini jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman.