Selasa, 15 Maret 2016

Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 3

Artikel ini adalah kelanjutan dari Trip Story Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand, klik link dibawah untuk melihat artikel sebelumnya


Hari ketiga 02 Februari 2016, Mengunjungi Madame Tussauds Bangkok dan Perjalanan dari Bangkok ke Pattaya

Rasa lelah masih terasa, namun harus tetap semangat bangun pagi untuk melanjutkan keliling Bangkok berlanjut ke Pattaya untuk hari ketiga ini. Rencana tujuan hari ini adalah mengunjungi museum patung lilin Madame Tussauds Bangkok di pusat perbelanjaan Siam Discovery dan berlanjut meninggalkan Bangkok menuju Pattaya.
Madame Tussauds Bangkok

Setelah makan pagi dengan menu seperti biasa dari minimarket sevel eleven, saya dan teman lainnya bersiap diri untuk check out dari Wall Street Inn Hotel Bangkok dan menitipkan barang untuk sementara di reception hotel, agar jalan-jalan ke museum Madame Tussauds bisa leluasa tidak ribet dengan barang dan tas bawaan. Tepat pukul 09.00 pagi saya meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke BTS Station Sala Daeng. Untuk menuju ke museum Madame Tussauds kita bisa menggunakan BTS dan turun di BTS Station Siam. Perjalanan dari BTS Sala Daeng menuju BTS Siam tidak sampai 15 menit dengan harga tiket 25 baht (Rp. 10.250). Setelah sampai di BTS Station Siam, deretan mall terkenal dan terbesar di kota Bangkok sudah bisa kita lihat seperti Siam Paragon, Siam Center dan Siam Discovery, lokasi museum Madame Tussauds berada di dalam gedung di salah satu mall tersebut, yaitu di lantai 6 Siam Discovery.
Jalanan kota dan railway BTS Bangkok

Tampaknya terlalu kepagian saya sampai di lokasi museum Madame Tussauds, bahkan gedung mallnya saja belum buka haahaa, sambil menunggu mallnya buka jam 10.00 pagi, akhirnya saya manfaatkan waktu untuk menikmati pemandangan disekitar mall dan pemandangan kota Bangkok di pagi hari. Aksi foto-fotopun mulai digelar, pemandangan kota Bangkok menjadi obyek bidikan kemara, bahkan kereta BTS yang melaju di atas railway yang mengantung di atas jalan raya menjadi pemandangan yang patut diabadikan, karena pemandangan seperti itu belum bisa kita temui di kota-kota besar di Indonesia (setidaknya untuk saat ini). Tak lupa foto selfi pun dilakukan dengan latar belakang mall terbesar di Bangkok.
Foto dulu di Siam Paragon Bangkok

Museum MadameTussauds Bangkok

Akhirnya pintu gerbang mall dibuka juga, berarti waktu sudah pukul 10.00 pagi lebih, tanpa buang banyak waktu saya bergegas masuk ke dalam mall Siam Center menuju jalan tembusan ke mall Siam Discovery tempat museum Madame Tussauds berada. Museum Madame Tussauds Bangkok buka dari jam 10.00 pagi sampai jam 21.00, dengan harga tiket masuk sebesar 850 baht (Rp. 348.500) perorang dewasa jika langsung membeli tiket di lokasi, untuk lebih mengirit harga tiket, Anda bisa membeli tiket secara online melalui website Madame Tussauds Bangkok dengan memanfaatkan paket early bird tickets dengan potongan 50 % seperti yang saya lakukan (lumayan mengirit 425 baht), untuk membeli tiket bisa klik link berikut https://www2.madametussauds.com/bangkok/en/tickets/

Paket early bird tickets ini bisa digunakan untuk masuk ke museum Madame Tussauds Bangkok sebelum jam 12 siang dan tiket valid 30 hari sejak transaksi pembelian online, lumayan irit kan, jadi kita cuma membayar tiket masuk 425 baht (Rp. 174.250) dengan memanfaatkan tiket online ini.

Bagi Anda yang suka berfoto dengan para artis dan tokoh-tokoh terkenal dari penjuru dunia, berkunjung ke museum Madame Tussauds merupakan pilihan yang cocok, meskipun  hanya berfoto dengan patung, namun patung-patung tersebut di buat semirip mungkin dengan orang aslinya, mulai dari tinggi badan, warna kulit dan ciri-ciri yang lain, sekilas patung-patung tersebut terlihat begitu hidup menyerupai manusia aslinya.
Me dan patung Presiden Ir. Soekarno di Madame Tussauds Bangkok

Dibarisan depan setelah pintu masuk, tokoh-tokoh dunia siap menyambut kedatangan Anda, salah satunya patung presiden pertama Indonesia Ir Soekarno, para pengunjung dari Indonesia pasti berebut dan mengantri untuk berfoto dengan patung lilin Bapak Proklamator tersebut, termasuk saya juga berkesempatan berfoto dengan patung beliau. Penempatan patung-patung di museum ini dibagi berdasarkan bidang dan profesi dari tokoh yang diabadikan, seperti para tokoh dan pemimpin negara, ilmuwan, olahragawan, penyanyi, aktor dan aktris.
Mr. President Barrack Obama & First Lady Michelle Obama di Madame Tussauds bangkok

Patung para pesohor dunia yang mejeng di Museum Madame Tussauds Bangkok diantaranya Mahatma Gandhi, mendiang Lady Diana, Barrack & Michelle Obama, Cristiano Ronaldo, Angelina Jolie & Brad Pitt, Jackie Chan, Madonna, Lady Gaga, Beyonce Knowles dan masih banyak lagi. Tak terasa, saya hampir 2 jam menghabiskan waktu untuk bersantai dan berfoto-foto di dalam museum patung ini.
Brad Pitt dan Angelina Jolie di Madame Tussauds Bangkok

Setelah keluar dari museum Madame Tussauds, perjalanan di lanjutkan ke MBK Shopping Mall Bangkok untuk yang kedua kalinya, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Siam Discovery tempat museum Madame Tussauds berada, cukup jalan kaki mengarah ke BTS National Stadium dan melewati jalan tembusan dari BTS ke dalam mall MBK, rencana ke MBK shopping mall cuma mengantar teman mencari oleh-oleh untuk keluarganya, tapi akhirnya saya tergoda juga membeli souvenir khas Thailand untuk oleh-oleh juga.
Toko souvenir buat oleh-oleh di MBK shopping mall Bangkok

Hari semakin siang menjelang sore, tepat pukul 14.30 saya keluar dari MBK shopping mall. Untuk kembali ke Wall Street Inn Hotel mengambil barang dan tas yang di titipkan di reception saat check out pagi tadi, saya naik kereta dari BTS National Stadium menuju BTS Sala Daeng dengan harga tiket 25 baht (Rp. 10.250) menuju hotel.

Perjalanan dari Bangkok ke Pattaya

Misi explore Bangkok sudah selesai (walaupun belum semua dikunjungi), sekarang waktunya berpindah lokasi dari Bangkok ke Pattaya. Transportasi dari Bangkok menuju Pattaya bisa menggunakan shuttle bus dari 2 tempat di Bangkok, yaitu dari terminal Morchit dan terminal Ekamai dengan jadwal keberangkatan setiap 30 menit dari jam 05.00 pagi sampai dengan jam 22.00 malam (detail transportasi Bangkok - Pattaya bisa klik disini)

Terminal Ekamai jaraknya lebih dekat dari lokasi hotel tempat saya menginap di Bangkok, jadi saya berangkat ke Pattaya dari terminal tersebut. Untuk sampai ke terminal Ekamai, rute yang saya tempuh dari BTS Sala Daeng (BTS terdekat dengan hotel tempat saya menginap di Bangkok) menuju BTS Ekamai dengan harga tiket 42 baht (Rp. 17.220) sekitar 20 menit perjalanan. Sesampai di BTS Ekamai, tinggal keluar melalui pintu exit 2, dan lanjut jalan kaki sekitar 200 meter menuju terminal Ekamai. Di terminal ini membuka beberapa loket tiket yang melayani beberapa rute, tinggal pilih loket dengan rute menuju Pattaya, harga tiket shuttle bus dari Bangkok menuju Pattaya sekitar 115 baht (Rp. 47.150) dengan jarak tempuh sekitar 2.5 sampai dengan 3 jam perjalanan (tergantung kondisi jalan dan macet).
Transportasi shuttle bus dari Bangkok menuju ke Pattaya di Ekamai terminal

Perhatikan tiket bus yang sudah di beli, karena di lembaran tiket tersebut dijelaskan no bus dan no kursi tempat duduknya, jadi jangan asal duduk di dalam busnya, harus disesuaikan dengan no tempat duduk yang tercetak di tiket. Sambil menunggu bus berangkat, saya sempatkan mampir ke salah satu kios di terminal yang menjual makanan dan minuman, sebagai bekal diperjalanan yang hampir 2 jam lebih dan sebagai pengganjal perut karena belum sempat makan siang.
Tiket shuttle bus dari Bangkok ke Pattaya

Bus dari Bangkok menuju Pattaya akhirnya berangkat dari terminal Ekamai tepat pukul 15.40, ontime sesuai jadwal. Alhamdulillah perjalanan lancar dan tidak macet, memasuki kota Pattaya hujan menguyur kawasan tersebut, jalanan basah dan banyak pengendara motor yang kehujanan terlihat selama perjalanan dari dalam bus. Sekitar pukul 18.10, bus sampai juga di terminal bus Pattaya (kurang tahu nama terminalnya apa), jadi total perjalanan dari Bangkok ke Pattaya saat itu sekitar 2.5 jam perjalanan. Dari terminal Pattaya menuju hotel saya menggunakan tranportasi umum yang sering digunakan di Pattaya, yaitu Songthaew, semacam bemo dengan bak terbuka dibagian belakang dengan penutup dan kursi menyamping yang saling berhadapan yang standby di dalam terminal bus dengan harga tiket 50 baht (Rp. 20.500), dan Songthaew akan berangkat jika penumpang sudah penuh.
Songthaew ... alat transportasi yang di gunakan di Pattaya - Thailand

Perjalanan dari terminal bus menuju hotel dengan naik Songthaew sekitar 30 menit, hotel yang saya pilih untuk menginap di Pattaya yaitu A One Star Hotel Pattaya yang lokasinya sangat dekat dengan pantai Pattaya, cukup berjalan kaki tidak sampai 5 menit dari hotel sudah sampai pantai Pattaya. Check in hotel sekitar pukul 18.50, setelah mandi-mandi tanpa buang banyak waktu, saya dan teman yang lain segera jalan-jalan keluar hotel untuk mencari makan dan menikmati suasana malam hari di Pattaya.
Kondisi kamar A One Star Hotel Pattaya - Thailand

Walking Street Pattaya 

Menikmati wisata malam hari di Pattaya sambil melahap menu chicken kebab seharga 60 baht (Rp. 24.600) sambil duduk di tepian pantai Pattaya untuk pertama kalinya, hal ini menjadi satu pengalaman baru yang sangat menyenangkan. Meskipun kondisi gelap, namun suasana di tepi pantai masih ramai dengan pengunjung, langkah kaki terus berjalan menyusuri pinggiran pantai yang berbatasan langsung dengan jalan raya tersebut.
Penjual chicken kebab di tepi pantai Pattaya

Dari kejauhan terlihat tulisan yang bercahaya bertuliskan "Pattaya City", maksud hati ingin mendekati tulisan tersebut dan berfoto dengan latar belakangnya, langkah kakipun semakin semangat menuju lokasi tulisan tersebut, tapi ternyata jauh juga tempatnya, sampai kaki terasa pegal dan kami pun menyerah dan melanjutkan perjalanan dengan naik Songthaew menuju ke arah tulisan tersebut dengan membayar 10 baht (Rp. 4.100). Sampai Songthaew yang kami naiki berhenti diujung belokan jalan yang bertuliskan "Walking Street" dengan suasana yang sangat ramai, saya dan teman lainnya pun menjadi penasaran ada apa di dalam walking street tersebut?, niat menuju tulisan Pattaya City pun berubah menuju Walking Street Pattaya.
Walking street Pattaya - Thailand

Walking Street Pattaya hampir mirip dengan Khaosan Road di Bangkok, satu jalan di tutup untuk kendaraan umum, dan pengunjung harus berjalan kaki untuk menikmati suasana di Walking Street Pattaya tersebut. Deretan pub, club, cafe, restaurant dan penjual di pinggir jalan menjadi pemandangan di sepanjang jalan ini dengan iringan musik dari club-club untuk menarik perhatian pengunjung, wisatawan dengan anak kecil sangat disarankan untuk tidak berkunjung ke lokasi ini, karena ada beberapa club yang pegawainya berpakain sangat mini dan berjejer di pinggir jalan menawarkan produk club mereka.
Suasana malam di Walking Street Pattaya - Thailand

Alcazar Cabaret Show Pattaya

Setelah cukup lelah berjalan kaki menyusuri jalanan Walking Street Pattaya, tujuan berikutnya adalah ke Alcazar Cabaret Show Pattaya, tempat para ladyboy Thailand mengelar show spectaculer. Dengan naik Songthaew dan membayar 10 baht (Rp. 4.100), akhirnya saya tiba juga di gedung Alcazar tempat show berlangsung, gedungnya berdiri tepat di tepi jalan raya dengan hiasan lampu warna-warni yang menarik perhatian tiap pemakai jalan. Tujuan asli ke tempat ini bukan untuk melihat pertunjukan spectaculer para ladyboy tersebut di atas panggung, tetapi hanya ingin melihat lebih dekat para ladyboy Thailand yang rumornya kecantikan meraka sangat sempurna melebihi kecantikan wanita tulen.
Gedung Alcazar show di Pattaya

Biasanya setelah show berakhir, para ladyboy akan keluar dari gedung pertunjukan dan berkumpul di area parkir diluar gedung untuk sesi foto bersama, nah kesempatan inilah yang saya pergunakan untuk melihat kecantikan meraka tanpa harus melihat shownya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, puluhan perempuan cantik yang tidak tulen alias ladyboy berjalan keluar gedung dengan pakaian super seksi yang glamour bersiap untuk sesi foto bersama. Ternyata benar, para ladyboy tersebut terlihat sangat cantik sekali, kulit putih mulus dan kelihatan begitu feminim. Kita bisa mengambil foto mereka dengan leluasa tetapi mereka tidak akan melihat ke arah kamera, kecuali jika kita ingin foto bareng bersama mereka, mereka akan merespon dan kita harus membayar untuk foto bersama, saat itu saya memilih salah satu ladyboy yang kelihatan paling cantik untuk saya ajak foto bersama dengan membayar 50 baht (Rp. 20.500).
Sesi foto bersama ladyboy setelah Alcazar show

Setelah puas melihat langsung para ladyboy dalam sesi foto bersama, waktunya kembali ke hotel untuk istirahat. Ternyata lokasi gedung Alcazar dengan hotel tempat saya menginap tidak terlalu jauh, hanya berjalan kaki sekitar 10 menit, sebelum kembali ke hotel, saya dan teman yang lain menyempatkan makan malam di pinggir jalan setelah memastikan menu makanan tersebut bebas dari babi (pork), anggap saja kaya wisata kuliner di Pattaya dengan pilihan banyak menu makanan. Rasa lelah melanda setelah seharian penuh dengan aktifitas, jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari saat tiba di hotel, waktunya istirahat mengumpulkan tenaga untuk explore pantai Pattaya keesokan harinya.
Menu wisata kuliner di Pattaya - Thailand

Pengeluaran hari ketiga : (kurs 1 baht = Rp. 410)
  • Makan pagi di seven eleven (72 baht) ---> Rp. 29.520
  • Tiket BTS Sala Daeng - Siam (25 baht) ---> Rp. 10.275
  • Beli souvenir, baju, koper (1.780 baht) ---> Rp. 729.800
  • Tiket BTS National Stadium - Sala Daeng (25 baht) ---> Rp. 10.250
  • Tiket BTS Sala Daeng - Ekamai (42 baht) ---> Rp. 17.220
  • Shuttle bus Bangkok - Pattaya (115 baht) ---> Rp. 47.150
  • Camilan dan minuman pengganti makan siang (75 baht) ---> Rp. 30.750
  • Naik Songthaew dari terminal Pattaya - Hotel (50 baht) ---> 20.500
  • Chicken kebab Pattaya (60 baht) ---> 24.600
  • Camilan dan minuman (54.5 baht) ---> 22.345
  • Naik songthaew ke Walking Street (10 baht) ---> Rp.4.100
  • Naik songthaew ke Alcazar (10 baht) ---> Rp. 4.100
  • Foto dengan ladyboy (50 baht) ---> Rp. 20.500
Total pengeluaran hari ketiga : Rp 971.110


Kelanjutan dari artikel ini klik link berikut : Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 4 (Menikmati suasana pantai Pattaya, dan perjalanan balik dari Pattaya menuju Bangkok)








Minggu, 13 Maret 2016

Petisi; Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan


Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara
Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara. Foto: Google

Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara

Pemberian ijin peningkatan produksi batubara dari 4 jt ton menjadi 20 jt ton serta pengangkutan lewat Sungai Kedang Kepala telah mengakibatkan terganggunya habitat Pesut Mahakam. Sungai Kedaung Kepala merupakan sungai kedua habitat utama Pesut Mahakam yang diduga terganggu oleh Bayan Resources.

Studi yang telah dilakukan oleh Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) dari tahun 1999 hingga sekarang menunjukkan bahwa populasi Pesut telah diambang kepunahan dengan jumlah populasi kurang dari 90 ekor! 

Studi juga menunjukkan bahwa tersisa 3 dari 5 anak sungai yang dulunya dapat dipergunakan oleh pesut tanpa gangguan ponton batubara (tapi untuk berapa lama, tidak ada yang tahu?!).  Anak-anak sungai ini dipergunakan pesut untuk mencari makan, bermain-main, kawin dan melahirkan. Sementara sungai Mahakam lebih banyak dipakai oleh pesut untuk berenang dari satu muara anak sungai ke muara anak sungai lainnya. Dikarenakan ponton mengeluarkan suara kebisingan yang melebihi 80 desibel dan sangat mengganggu pesut, maka pesut lebih memilih untuk menghindar dan tidak masuk anak sungai tersebut.

Suara bising tersebut dapat menghalau pantulan sonar pesut sehingga membuatnya sulit berorientasi dan dapat berkibat ditabrak ponton.  Apalagi untuk mencari makan, sudah tidak dapat dilakukan lagi.  Studi genetis juga telah membuktikan bahwa DNA pesut sudah berbeda secara signifikan dengan jenis terdekat yang berada di pesisir seperti muara Mahakam, Teluk Balikpapan dan daerah atau negara lainnya dan ada wacana untuk menggantikan nama Orcaella brevirostris dengan Orcaella mahakamensis.  Ironisnya pada saat pesut sudah lebih banyak dikenal dan disayangi oleh publik umum, tantangan menghadapi ancaman malah bertambah lebih banyak oleh kebijakan pemerintah yang tidak mendukung upaya kelestariannya.

Bukannya menghentikan, gubernur malah memberi ijin peningkatan produksi batubara pada PT. Bara Tabang menjadi 20 jt ton secara bertahap, tahun pertama 4 jt, kedua 8 jt dan ketiga 15 jt.

Kenyataannya, tahun 2016 ini ijin produksi masih 4 jt ton/tahun, namun melihat banyaknya ponton yang hilir mudik di sungai kedang kepala siapa yang bisa menjamin bahwa jumlah produksi tidak lebih dari itu? Menurut informasi dari masyarakat, belasan ponton beroperasi tiap harinya, bahkan lebih banyak dari sebelum petisi ini digaungkan, jadi apa benar secara bertahap, atau hanya untuk mengelabui masyarakat saja?

Alasan peningkatan produksi karena instruksi Pemerintah Pusat bahwa dalam MP3EI Kalimantan adalah koridor energi dan Kaltim kebagian “jatah” menghidupi atau menghasilkan 10.000 MW (tidak semua untuk Kaltim) dari total 30.000 MW, apa lagi kalau bukan dari PLTGU berbahan bakar batubara.

Oleh karena itu, walaupun harga batubara dipasaran dunia anjlok, tetap saja perusahaan dapat untung dengan menjual dipasaran domestik, karena program pemerintah dipakai sebagai argumen.

Kenapa tidak difikirkan sumber energi terbarukan, seperti yang berasal dari angin, matahari, air, arus, dsb?  Apa karena kurang menguntungkan dari segi “pendapatan” pribadi?

Di lain sisi, keberadaan Pesut Mahakam terus menerus diganggu oleh penguasa, sebagai salah satu satwa terlangka di Indonesia dan dunia, sudah menjadi kewajiban bersama bagi kita untuk benar-benar menjaganya, bukan sekedar lip service untuk memenangkan hati demonstran, kemudian dikhianati tak lama kemudian?

Apakah kerakusan akan membuat Pesut Mahakam punah?  Setelah batubara habis, apa yang tersisa bagi generasi penerus?  Kalimantan menjadi tidak lebih baik dari permukaan bulan, banyak lubang, gersang, dan akhirnya menjadi gurun pasir dimana anak cucu kita tidak akan bisa hidup layak.

Mari selamatkan Kalimantan, flora fauna Borneo, demi anak cucu dan menandatangani petisi ini untuk memohon transport ponton di anak-anak sungai Mahakam dihentikan.  Anda juga dapat tweet link petisi ini ke @jokowi, @bravonur, dan @susipudjiastuti dengan permohonan perhatian satwa endemik Kalimantan ini.

Petisi ini dibuat oleh Yayasan Konservasi RASI 

Petisi; Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara ditujukan kepada: 
> Presiden RI Jokowi
> Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Siti Nurbaya)
> Kementerian Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti)
> Gubernur Kalimantan Timur (Awang Faroek Ishak)

Tandatangani petisi ini di Change.org [klik disini] 


Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan
Kondisi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) kian memprihatinkan, terbukti kini sangat sulit melihat satwa langka ini di habitatnya. Padahal awal 1990-an masih sering terlihat saat pagi dan petang hari. Itu menandakan mamalia ini kian terdesak, namun komitmen Pemda dipertanyakan karena tampaknya lebih perduli membangun tugu pesut ketimbang menyelamatkannya, terlihat dari dana APBD setiap tahun dalam upaya penyelamatan habitatnya tidak terlihat.
(Iskandar Datu/ANTARA)

Pesut Mahakam Fauna Identitas Provinsi Kalimantan Timur

Pesut atau lumba-lumba air tawar adalah spesies mamalia air yang menghuni wilayah perairan tawar di India, Indocina, Filipina dan Kalimantan. Tidak ada catatan fosil. Pesut pertama kali dideskripsikan oleh Sir Richard Owen tahun 1866 berdasarkan satu spesiemen yang ditemukan tahun 1852, di pelabuhan Vishakhapatnum di pantai timur India. Pesut adalah salah satu spesies dari genus Orcaella. Kadang-kadang pesut terdaftar dalam beragam famili yang terdiri dari ia sendiri dan pada Monodontidae dan dalam Delphinapteridae. Sekarang ada persetujuan bahwa pesut termasuk famili Delphinidae.

Secara genetis, pesut berhubungan dekat dengan paus pembunuh. Nama spesies brevirostris berasal dari bahasa Latin yang berarti berparuh pendek. Tahun 2005, analisis genetik menunjukkan bahwa lumba-lumba sirip pendek Australia merupakan spesies kedua dari genus Orcaella.

Seluruh tubuh berwarna kelabu hingga biru tua, bagian bawahnya berwarna lebih pucat. Tidak ada pola yang khas. Sirip punggung kecil dan membulat di tengah punggung. Dahinya tinggi dan membulat; tidak bermoncong. Sirip tangan lebar membulat. Spesies di Kalimantan yang mirip adalah Porpoise tak bersirip, Neophocaena phocaenoides, mirip tapi tidak punya sirip punggung: lumba-lumba bungkuk, Sausa chinensis, lebih besar, moncong lebih panjang dan sirip punggung lebih besar.

Dalam berbagai bahasa Orcaella brevirostris (nama Latin) adalah: Inggris: Irrawaddy dolphin, Dialek lokal Chilika: Baslnyya Magaratau Bhuasuni Magar (lumba-lumba penghasil minyak), Oriya: Khem dan Khera, Perancis: Orcelle, Spanyol: Delfín del Irrawaddy, Jerman: Irrawadi Delphin, Burma: Labai, Indonesia: Pesut, Melayu: Lumbalumba, Khmer: Ph’sout, Lao: Pha’ka and Filipino: Lampasut. Dalam bahasa Thai, salah satu namanya adalah pía loma hooa baht, karena kepalanya yang membundar dianggap menyerupai mangkuk rahib Budhha, hooa baht.

Penampilan pesut mirip dengan beluga, meski lebih berkerabat dengan orka. Spesies ini mempunyai melon (jaringan berlemak dan berminyak di kepala). Moncongnya tidak khas. Sirip punggung yang terletak dua pertiga posterior di punggung, pendek, tumpul, dan segitiga. Sirip tangan panjang dan lebar. Secara keseluruhan ia berwarna cerah, namun lebih putih di bawah tubuh daripada di punggung. Pesut dewasa beratnya lebih dari 130 kg dan panjangnya 2,3 m psaat dewasa. Panjang maksimum yang tercatat adalah jantan 2,75 m dari Thailand.

Lumba-lumba ini dianggap mencapai kedewasaan seksual pada 7 sampai 9 tahun. Di belahan bumi utara, perkawinan dilaporkan berlangsung pada bulan Desember sampai Juni. Masa hamilnya 14 bulan, melahirkan seekor anak setiap 2 hingga 3 tahun. Saat lahir panjangnya 1 m dan beratnya 10 kg. Anak itu disapih setelah berumur dua tahun. Umur pesut dapat mencapai 30 tahun.


Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan
Kampanye pelestarian Pesut Mahakam dalam rangka memperingati hari Lumba-lumba air tawar sedunia, Oktober 2014 silam. Sumber: Google

Selasa, 08 Maret 2016

Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 2

Artikel ini adalah kelanjutan dari trip story Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 1, klik link tersebut untuk melihat artikel sebelumnya.

Hari kedua 01 Februari 2016, mengunjungi Wat Pho, The Grand Palace, Wat Arun dan Khaosan Road

Sesuai rencana semula, untuk hari kedua di Bangkok ini saya akan mengunjungi landmark atau icon wisata di Bangkok yaitu The Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun. Jam 7 pagi saya baru bisa bangun tidur karena kecapaian habis jalan-jalan di Patpong Night Market semalam. Bisa dibilang hari ini bakalan lebih melelahkan lagi karena harus berkeliling di beberapa tempat seharian penuh.
patung budha di wat pho
Deretan patung Budha di Wat Pho - Bangkok

Karena itu tenaga harus dipersiapkan sebaik mungkin. Karena mengambil paket hotel yang tanpa makan pagi, terpaksa menu makan pagi harus cari sendiri, beruntung dekat lokasi hotel terdapat minimarket seven eleven (7-11), minimarket ini menjadi andalan saya dan teman saya yang lain untuk membeli makanan dan perlengkapan yang diperlukan lainnya, bahkan menu makan pagi, siang ataupun malam juga kebanyakan saya beli di minimarket ini, menunya standard makanan siap saji yang di packing dan jelas terlihat terbuat dari apa (untuk menghindari makanan berbahan babi atau pork yang banyak di jual di Bangkok ini), harga makanan siap saji yang bisa di hangatkan di kasir dengan microwave ini harganya bervariasi, saat itu saya pilih menu fried rice with korean style chicken (bahan dari ayam jadi aman tanpa mengandung babi) seharga 39 baht (Rp. 15.990).
kuliner di bangkok
Menu andalan selama di Bangkok

Perjalanan dari hotel menuju Wat Pho, The Grand Palace dan Wat Arun
Setelah makan pagi dan mempersiapkan apa saja yang harus dibawa untuk trip hari ini, tepat pukul 08.15 pagi saya meninggalkan hotel dan berjalan menuju BTS Station Sala Daeng, selama perjalanan dari hotel ke BTS Sala Daeng terlihat kesibukan pagi hari warga Bangkok yang bersiap-siap berangkat ke tempat kerja dan aktifitas lainnya
BTS Sala Daeng Bangkok
BTS Station Sala Daeng - Bangkok

Lokasi tempat wisata yang akan saya kunjungi hari ini tempatnya saling berdekatan, Wat Pho dan The Grand Palace saling bersebelahan hanya terpisah oleh jalan raya, sedangkan Wat Arun berada di seberang sungai dari lokasi Wat Pho dan The Grand Palace, ketiga tempat ini berada di pinggiran sungai paling terkenal di Bangkok - Thailand yaitu sungai Chao Phraya. Untuk menuju ke 3 tempat wisata tersebut, dari BTS station Sala Daeng (BTS terdekat dari hotel saya menginap) arahkan rute menuju BTS station Saphan Taksin, lama perjalanan dari BTS Sala Daeng ke BTS Saphan Taksin sekitar 30 menit dengan harga tiket 28 baht (Rp. 11.480) saat itu kurs 1 baht = Rp. 410.
BTS Saphan Taksin Bangkok
Pintu keluar menuju dermaga Sathorn Pier di BTS Saphan Taksin - Bangkok

Sesampai di BTS station Saphan Taksin, kita harus berpindah tranportasi dengan menggunakan kapal (boat) melalui dermaga Sathorn Pier untuk menuju ke 3 tempat wisata tersebut. Dermaga Sathorn Pier dan Sungai Chao Phraya sudah bisa terlihat saat kita turun dari BTS station Saphan Taksin melalui pintu exit 2. Boat yang melayani penumpang umum di sungai Chao Phraya ini dibagi berdasarkan warna bendera, ada beberapa warna bendera yang berbeda di masing-masing boatnya, cuma yang paling sering digunakan oleh para pengunjung atau wisatawan yaitu boat berbendera biru dan orange, boat berbendera biru dikhususkan untuk para wisatawan karena ada guide selama perjalanan yang menjelaskan lokasi yang di lalui oleh boat dengan biaya yang lebih mahal dari boat yang warna orange, sedangkan boat dengan bendera warna orange tiketnya lebih murah, biasanya digunakan oleh warga lokal bahkan para wisatawan bisa menggunakan boat berbendera orange ini untuk mengirit pengeluaran.
tiket boat chao phraya
Antrian di dermaga Sathorn Pier - Bangkok menunggu boat

boat di sungai chao phraya
Boat berbendera biru melaju di sungai Chao Phraya

Terlihat antrian begitu panjang saat itu di dermaga Sathorn Pier, saya sempat kebingungan juga harus antri sebelah mana karena takut salah boat, daripada salah boat saya bertanya ke petugas dermaga dan dijawab menggunakan bahasa gaul Thailand yang tidak tahu apa itu artinya (makin mumet kepala), saya dan teman lainnya sempat mondar-mandir disekitar dermaga lebih dari 15 menit hanya untuk mencari kepastian boat berbendera orange sebelah mana, akhirnya keputusan nekat mengantri di antrian paling panjang, dan ternyata benar yang paling ramai dan yang paling penuh pasti yang murah termasuk antrian di boat bendera orange dengan harga ekonomis ini. Tepat pukul 09.20 boat berbendera orange akhirnya melaju menyusuri sungai Chao Phraya membawa saya dan para penumpang lainnya, lama perjalanan dari dermaga Sathorn Pier ke dermaga Tha Tien N8 (dermaga terdekat dengan lokasi Wat Pho dan The Grand Palace) sekitar 30 menit dengan biaya tiket 13 baht (Rp. 5.330) yang kita bayar saat di atas kapal.

Wat Pho

Setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan BTS dan boat, akhirnya sampai juga di tempat wisata yang akan saya kunjungi untuk yang pertama kalinya, yaitu Wat Pho. Setelah keluar dari dermaga Tha Tien, ikuti saja jalur menuju pintu keluar, sampai terlihat perempatan jalan, lokasi Wat Pho berada di sebelah kanan dari perempatan jalan tersebut, sedangkan The Grand Palace berada di sebelah kiri dari perempatan jalan tersebut.
wat pho
Patung Budha di Wat Pho

Yang terkenal dari Wat Pho adalah patung Budha tidur berukuran super besar dan berlapis emas, berlokasi di Distrik Phra Nakhon dan berdekatan dengan lokasi The Grand Palace, dengan jam buka operasional antara pukul 08.30 sampai dengan pukul 18.30 dengan harga tiket masuk saat itu 100 baht (Rp. 41.000), sudah termasuk free 1 botol mineral water yang bisa kita tukarkan tidak jauh dari pintu masuk. Bersiaplah menguras tenaga dengan berpanas-panasan selama memutari kompleks bangunan di lokasi ini, candi dan patung-patung Budha beserta kuilnya banyak kita jumpai di lokasi ini. Dengan berjalan santai sambil berphoto-photo menikmati setiap sudut kompleks bangunan ini diperlukan waktu sekitar hampir 1.5 jam.
wat pho
Foto dulu di Wat Pho - Bangkok

The Grand Palace

Sekitar pukul 12.00, saya keluar dari Wat Pho dan berlanjut ke lokasi berikutnya, yaitu The Grand Palace. Lokasi Wat Pho dan The Grand Palace lokasinya berdekatan, tetapi harus jalan memutar karena tembok tinggi yang terlihat dekat dengan Wat Pho merupakan bagian belakang dari The Grand Palace, sedangkan pintu masuknya berada di sisi depannya.

Selama berjalan kaki dari Wat Pho ke The Grand Palace atau sebaliknya, perlu berhati-hati terhadap orang yang menawarkan jasa atau memberi informasi kalau The Grand Palace atau Wat Pho di tutup dan buka sekitar jam sekian, karena itu hanyalah trik dari meraka agar kita memakai jasa transportasi tuk-tuk untuk diajak berkeliling sambil menunggu jam buka tempat wisata tersebut, seperti yang saya alami saat berjalan dari Wat Pho menuju ke The Grand Palace, saya bertanya kepada warga lokal yang kebetulan berdiri di tepi jalan dan saya menanyakan arah menuju The Grand Palace, warga lokal tersebut menjelaskan kalau The Grand Palace ditutup karena ada acara upacara di sana dan baru buka lagi pukul 14.00 (saat itu pukul 12.00 lebih sedikit), dan dia menyarankan agar saya naik tuk-tuk dulu untuk berkeliling sekitar daerah tersebut dan diantar ke beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi dengan membayar sekian baht sambil menunggu jam 14.00, dan tanpa canggung dia menghentikan tuk-tuk dan berbicara dengan sopir tuk-tuk, namun tawaran itu saya tolak dan saya tetap berjalan menuju lokasi The Grand Palace.
tuk tuk thailand
Ketemu deretan Tuk-Tuk saat jalan kaki dari Wat Pho menuju The Grand Palace

Sesampai di depan pintu masuk The Grand Palace, ratusan pengunjung penuh sesak untuk masuk ke lokasi wisata, ternyata info dari warga lokal yang saya temui di jalan tadi tidak benar, The Grand Palace tetap buka normal seperti biasa dengan harga tiket masuk sebesar 500 baht (Rp. 205.000). Ada aturan cara berpakaian untuk masuk ke lokasi The Grand Palace, yang pasti harus berpakaian sopan dan tertutup, baju dengan lengan terbuka dan celana pendek tidak diperkenankan masuk ke lokasi wisata, karena The Grand Palace terdapat banyak kuil dan tempat suci yang dipakai warga lokal untuk sembayang.
The Grand Palace Bangkok
The Grand Palace - Bangkok

The Grand Palace Bangkok ini mempunyai luas area yang sangat luas, bisa hampir 3 jam berjalan santai sambil berphoto dibeberapa spot yang dianggap menarik, karena keterbatasan waktu untuk ke lokasi wisata selanjutnya, saya mempersingkat untuk berkeliling The Grand Palace hanya sekitar 2 jam, itupun sudah hampir tiap sudut tidak luput dari jepretan kamera dengan kondisi cuaca yang sangat panas, saran saya bawalah bekal air minum untuk pengobat haus selama menyusuri lokasi The Grand palace, cafetaria hanya bisa kita temui sesaat sebelum pintu keluar, saya sempat mampir ke cafetaria tersebut untuk membeli minuman softdrink seharga 20 baht (Rp. 8.200) untuk menghilangkan haus yang tertahan sejak dari pintu masuk The Grand Palace.

Wat Arun

Setelah keluar dari The Grand Palace sekitar pukul 15.00, langkah kaki berjalan menuju dermaga Tha Tien N8 (dermaga tempat kita turun dari boat), selama berjalan kaki ke arah dermaga, saya sempat membeli buah segar asli Bangkok, buah mangga yang saya pilih seharga 20 baht (Rp. 8.200), buahnya sangat segar dan saya nikmati sambil berjalan kaki menuju ke arah dermaga.

Setelah sampai dermaga Tha Tien yang merupakan dermaga paling dekat dengan lokasi Wat Pho dan The Grand Palace, saya harus menyebrang sungai Chao Phraya dengan boat untuk sampai ke lokasi wisata berikutnya, yaitu Wat Arun. Lokasi Wat Arun tepat diseberang sungai, bahkan bangunan Wat Arun bisa terlihat jelas dari seberang sungai. Harga tiket boat penyebrangan ke Wat Arun hanya 2.5 baht (Rp. 1.025) sekali jalan, dengan lama penyebrangan tidak sampai 3 menit. Sayang sekali bangunan Wat Arun saat itu sedang di renovasi, besi-besi penyangga terlihat mengelilingi bangunan Wat Arun.
Wat Arun Bangkok
Wat Arun yang sedang di renovasi terlihat dari dermaga Tha Tien

Harga tiket masuk Wat Arun sebesar 50 baht (Rp. 20.500), saya memutuskan tidak masuk ke dalam lokasi wisata Wat Arun karena sedang di renovasi, saya hanya berjalan keliling sekitar taman dan berphoto dengan latar belakang bangunan Wat Arun dari jarak jauh, sayang sekali ya, tapi mau bagaimana lagi, mungkin next time kalau diberi kesempatan bisa jalan-jalan lagi berkunjung ke tempat ini. Dari dermaga di Wat Arun saya harus menyebrang lagi dengan boat ke dermaga Tha Tien yang berada tepat diseberang sungai.

Perjalanan dari Wat Pho, The Grand Palace dan Wat Arun untuk kembali ke hotel
Sungguh melelahkan hari ini apalagi belum sempat makan siang, sekitar pukul 16.00 saya dan teman yang lain sudah standby di dermaga Tha Tien menunggu boat bendera orange untuk membawa saya dan penumpang lainnya ke dermaga Sathorn Pier untuk kembali ke hotel. Namun, sudah hampir 45 menit menunggu, boat bendera warna orange tidak muncul juga, yang menampakkan diri justru boat berbendera biru dengan harga lebih mahal, daripada menunggu lebih lama lagi, terpaksa naik boat berbendera biru tersebut dengan harga tiket 40 baht (Rp. 16.400).

Sesampai di dermaga Sathorn Pier, perjalanan dilanjutkan dengan BTS, dari BTS station Saphan Taksin ke BTS station Sala Daeng dengan harga tiket 28 baht (Rp. 11.480). Setelah sampai di BTS Sala Daeng, berjalan kaki seperti biasa menuju hotel dam mampir ke minimarket seven eleven (7-11) untuk membeli makan siang yang tertunda dan istirahat sebentar di hotel sebelum melanjutkan ke lokasi yang akan dituju berikutnya.


MBK Shopping Center Bangkok

Setelah cukup beristirahat, sekitar pukul 19.00 perjalanan dilanjutkan ke pusat perbelanjaan MBK Shopping Center Bangkok, untuk sampai di MBK, saya menggunakan transportasi BTS dari BTS station Sala Daeng menuju BTS station National Stadium dengan harga tiket 25 baht (Rp. 10.250), setelah sampai di BTS station National Stadium, bangunan mall MBK sudah terlihat, kita tinggal berjalan kaki melalui jalan penghubung antara BTS dengan bangunan untuk masuk ke mallnya.
MBK shopping center bangkok
MBK Shopping Center Bangkok

Mallnya tidak jauh beda dengan mall yang berada di  Surabaya, di bagian depan mall memang terdapat tenant dengan barang-barang yang mahal, namun agak ke tengah mall atau di bagian belakang terdapat penjual dengan kios ala ITC kalau di Indonesia, yang menjual beraneka ragam barang, pakaian, souvenir yang lumayan murah, saya sempat tergiur untuk membeli beberapa pakaian di mall MBK ini.

Khaosan Road

Perjalanan dari MBK Shopping Mall berlanjut ke Khaosan Road, sempat kebingungan juga ke Khaosan Road harus naik apa ?, karena kawasan Khaosan Road tidak dilalui jalur BTS, alternatif transportasi menuju Khaosan Road bisa menggunakan bus, tuk-tuk atau taksi. Saya memilih menggunakan taksi saat itu untuk menuju ke kawasan Khaosan Road. Biaya taksi dari MBK Shopping Mall ke Khaosan Road sebesar 150 baht (Rp. 61.500) dari harga nego karena taksi tanpa argo (kurang tahu pasti biaya taksi tersebut terlalu murah, mahal atau biaya yang seharusnya), perjalanan dari MBK ke Khaosan Road sekitar 20 sampai dengan 30 menitan.
backpackers bangkok
Sampai juga di Khaosan Road - Bangkok

Khaosan Road merupakan salah satu nama jalan di Bangkok dan tempat berkumpulnya para backpackers dari seluruh dunia, menurut cerita jalan ini lebih terasa ramai di malam hari daripada siang hari. Sesampainya di daerah Khasoan Road, suasana ramai langsung terasa dengan suara gaduh iringan musik dari beberapa cefe yang berjejer di jalan tersebut. Langkah kaki terus berjalan menikmati suasana malam di jalanan paling terkenal di Bangkok tersebut, sekilas suasana di Khaosan Road di Bangkok ini seperti gabungan antara Jalan Malioboro di Yogyakarta dan Jalan Legian di Bali, penjual baju, makanan, souvenir dan lainya tersebar di kanan kiri jalan seperti di Jalan Malioboro, dan cefe yang tersebar di sepanjang jalan dengan suara musiknya yang keras seperti di Jalan Legian Bali
Khaosan Road Bangkok Thailand
Suasana Khaosan Road

Ada apa di Khaosan Road - Bangkok? yang menjadi pusat perhatian di Khasoan Road adalah beberapa pedagang bergerobak yang menjual makanan yang tidak pada umumnya, berupa kalajengking, kecoa, ulat, belalang, belatung  dan binatang yang membuat geli lainnya yang dikeringkan dan tidak tahu dimasak seperti apa dan tidak tahu rasanya seperti apa, mungkin Anda mau mencoba makanan tersebut jika berkunjung ke Khaosan Road? bahkan untuk memfoto makanan tersebut, pedagang mengenakan tarif foto sebesar 10 baht (Rp. 4.100)
Khaosan Road Bangkok
Wisata kuliner di Khaosan Road - Bangkok

Saya menyempatkan makan malam di Khaosan Road, kawasan ini juga tidak luput dari menu yang serba babi (pork), tapi saya beruntung menemukan Ibu penjual risoles ayam bertuliskan halal seharga 20 baht (Rp. 8.200), seakan belum kenyang saya juga memesan kebab ayam seharga 60 baht (Rp. 24.600) yang penjualnya seorang cewek manis asal Vietnam.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, namun suasana Khaosan Road makin ramai saja, waktunya kembali ke hotel untuk istirahat. Perjalanan dari Khaosan Road menuju Wall Street Inn Hotel di Surawong kawasan Silom menggunakan taksi dengan biaya taksi sebesar 100 baht (Rp. 41.000).

Pengeluaran hari kedua : (kurs 1 baht = Rp. 410)
  • Makan pagi di seven eleven  (39 baht) ---> Rp. 15.990
  • Tiket BTS Sala Daeng - Saphan Taksin (28 baht) ---> Rp. 11.480
  • Toilet di BTS Saphan Taksin (5 baht) ---> Rp. 2.050
  • Boat bendera orange dari dermaga Sathorn Pier - Tha Tien (13 baht) ---> Rp. 5.330
  • Tiket masuk Wat Pho (100 baht) ---> Rp. 41.000
  • Tiket masuk The Grand Palace (500 baht) ---> Rp. 205.000
  • Minuman softdrink di The Grand Palace (20 baht) ---> Rp. 8.200
  • Buah segar (20 baht) ---> Rp. 8.200
  • Boat menyebarang ke Wat Arun PP (2.5 baht + 2.5 baht) ---> Rp. 2.050
  • Mineral water di Wat Arun (10 baht) ---> Rp. 4.100
  • Boat  bendera biru dari dermaga Tha Tien - Sathorn Pier (40 baht) ---> Rp. 16.400
  • Tiket BTS Saphan Taksin - Sala Daeng (28 baht) ---> Rp. 11.480
  • Makanan dan minuman di seven eleven (44 baht) ---> Rp. 18.040  *makan siang yang tertunda
  • Tiket BTS Sala Daeng - National Stadium (25 baht) ---> Rp. 10.250
  • Beli pakaian dan oleh-oleh di MBK (847 baht) ---> Rp. 347.270 *pengeluaran tak terencana, tergiur barang murah
  • Camilan di seven eleven (33 baht) ---> Rp. 13.530
  • Taksi MBK - Khaosan Road (150 baht, patungan jadi 75 baht) ---> Rp. 30.750
  • Foto makanan di Khaosan Road (10 baht) ---> Rp. 4.100
  • Beli risoles ayam di Khaosan Road (20 baht) ---> Rp. 8.200
  • Beli kebab ayam di Khaosan Road (60 baht) ---> Rp. 24.600
  • Taksi Khaosan Road - Hotel (100 baht, patungan jadi 50 baht) ---> Rp 20.500
Total pengeluaran hari kedua : Rp 808.520


Kelanjutan dari artikel ini klik link berikut : Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 3 (Berkunjung ke museum Madame Tussauds Bangkok dan perjalanan dari Bangkok ke Pattaya)



Selasa, 01 Maret 2016

Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 1

Perjalanan ke Bangkok dan Pattaya di Thailand ini sebenarnya sudah saya rencanakan dari beberapa tahun lalu, namun selalu tertunda karena keraguan untuk berangkat menikmati Tempat Wisata di Bangkok dan Pattaya - Thailand kerana berbagai alasan, diantaranya, karena sulitnya mengajak teman yang mau bergabung untuk trip ke Thailand ini, alasan keamanan saat itu di Bangkok terjadi demo besar-besaran anti pemerintah, dan yang pasti kurangnya informasi yang saya ketahui tentang akomodasi selama di Bangkok - Pattaya Thailand, termasuk transportasi menuju tempat-tempat wisata di Bangkok dan Pattaya yang membuat saya makin ragu dan mengurungkan niat untuk berangkat ke Thailand.

Namun keinginan untuk trip ala backpackers ke Bangkok dan Pattaya - Thailand selalu muncul, apalagi kalau mengingat trip ini untuk liburan sekaligus untuk bahan blog Informasi Tips Wisata ini, semangat untuk berkunjung ke Thailand semakin menjadi. Berburu tiket promo ke Bangkok pun saya gencarkan, karena tanpa tiket promo, penerbangan dari Surabaya ke Bangkok bisa lebih dari 3 juta PP. Sampai akhirnya saya mendapatkan tiket promo dari Air Asia untuk penerbangan Surabaya ke Bangkok PP dengan harga Rp. 1.666.000, tanpa pikir panjang tiket tersebut segera saya pesan, dan gayung bersambut, ada teman yang mau join juga untuk trip kali ini.
trip to bangkok thailand
Trip perjalanan Surabaya - Bangkok

Tiket pesawat sudah ditangan, langkah selanjutnya adalah mempelajari tempat wisata di Bangkok dan Pattaya dan bagaimana tranportasi untuk berkeliling Bangkok dan Pattaya, berbekal bertanya teman sana-sini yang sudah pernah ke Bangkok - Pattaya, juga mencari informasi di google dengan mempelajari tulisan rekan-rekan traveler yang menceritakan pengalaman mereka di blog mereka masing-masing (seperti yang saya lakukan sekarang hee hee) akhirnya saya punya gambaran juga tentang kondisi tempat wisata di Bangkok - Pattaya dan transportasi untuk menuju tempat tersebut. Untuk hotel, saya memutuskan bermalam di Wall Street Inn Hotel di daerah Silom saat Bermalam di Bangkok dan A-One Star Hotel saat bermalam di Pattaya, hotel-hotel tersebut saya pesan sebelumnya melalui www.agoda.com.

Perjalanan trip backpackers dari Surabaya ke Bangkok dan Pattaya di Thailand ini saya rencanakan selama 4 hari 3 malam (4D3N) dengan rincian dua malam di Bangkok dan semalam di Pattaya. Dengan kurs 1 baht saat itu Rp. 410. Setelah melakukan persiapan dan masa tunggu berbulan-bulan sejak pemesanan tiket pesawat, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu untuk explore Bangkok dan Pattaya datang juga, the journey begin !!!


Hari pertama 31 Januari 2016, Perjalanan Surabaya - Bangkok

Setelah packing sehari sebelumnya, jam 9 pagi saya sudah harus berangkat menuju Bandar Udara International Juanda, penerbangan dari bandara Juanda - Surabaya ke bandara Don Mueang - Bangkok ini menggunakan maskapai Air Asia QZ 302, berangkat dari Surabaya pukul 11.35 dan estimasi sampai Bangkok pukul 15.40, jadi 4 jam lebih perjalanan menuju Bangkok dari Surabaya, tidak ada perbedaan waktu antara Surabaya dan Bangkok. Setelah proses check in dan boarding sekarang giliran antri di Imigrasi bandara untuk stamp paspor.

Beberapa tips yang bisa saya share untuk penerbangan international (bagi para pemula) agar proses lebih cepat tanpa ada kendala adalah sebagai berikut :
  • Datanglah ke bandara lebih awal, jangan terlalu mepet dengan jam penerbangan
  • Persiapkan tiket dan paspor selama proses check in di counter maskapai
  • Jika Anda membawa barang bawaan tanpa sewa bagasi (cuma bawaan kabin) pastikan berat bawaan kabin tersebut tidak melebihi berat yang ditetapkan oleh pihak maskapai, biasanya barang bawaan kabin hanya dibatasi 7 kg
  • Pastikan dalam bawaan kabin Anda tidak terdapat senjata tajam (bahkan gunting pun tidak boleh), dan tidak ada cairan yang melebihi 100 ml (shampo, hand & body lotion, parfum dan barang cair lainnya), jika Anda tetap memaksa membawa cairan yang melebihi 100 ml di bawaan kabin, Anda harus rela barang tersebut di sita oleh pihak bandara
  • Selama mengantri di Imigrasi, antrilah dengan rapi dan tunggu giliran Anda menghadap ke petugas Imigrasi untuk pengecekan dan stamp paspor (pastikan paspor Anda masih berlaku, minimal 6 bulan sebelum masa berlakunya habis)
  • Tidak ada salahnya Anda membawa bolpoin (pen), karena selama di dalam pesawat, pramugari akan membagikan kertas yang harus Anda isi dan diserahkan di pihak imigrasi bandara di negara yang Anda kunjungi 

Setelah semua proses itu selesai, kita tinggal bersantai di ruang tunggu sambil menunggu panggilan untuk masuk ke dalam pesawat. Penerbangan Air Asia saat itu on time, tepat pukul 11.35 pesawat lepas landas dari Bandara Juanda menuju Bandara Don Mueang - Bangkok. Penerbangan Surabaya - Bangkok sekitar 4 jam, pasti terasa jenuh duduk selama itu dan rasa lapar pun mulai terasa, akhirnya saya memesan makanan ke pramugari yang bertugas, teman saya beruntung pesanan nasinya masih ada, tetapi saya cuma dapat mie cup karena nasi sudah habis dipesan oleh penumpang yang lain, mie cup plus air mineral ini seharga Rp. 45.000.
menu makanan pesawat
Pengganjal lapar saat penerbangan Surabaya - Bangkok

Tepat pukul 15.30 pesawat landing di Bandara Don Mueang - Bangkok, ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke Thailand. Ada 2 bandara di Bangkok, yaitu Suvarnabhumi dan Don Mueang, Bandara Don Mueang dikhususkan untuk penerbangan low cost dan difungsikan untuk mengurangi kepadatan penerbangan di Bandara Suvarnabhumi. Langkah selanjutnya adalah mencari pintu kedatangan untuk keluar dari bandara dan proses imigrasi bandara. Proses imigrasi di bandara Don Mueang juga berjalan lancar tanpa ada satu pertanyaan dari petugas imigrasi (alhamdulillah).
pemeriksaan imigrasi
Proses imigrasi di Bandara Don Mueang - Bangkok

Saya menyempatkan mengganti kartu sim card dengan sim card Thailand, agar selama perjalanan keliling Bangkok - Pattaya mobile data di HP bisa tetap on untuk searching data dan penggunaan GPS serta Google Maps untuk antisipasi jika tersesat (semoga tidak). Kartu sim card ini bisa di dapatkan setelah turun satu lantai dari pemeriksaan imigrasi, ada salah satu gerai "true" yang khusus menjual sim card khusus bagi para tourist atau pendatang, tinggal memilih mau paket yang mana dan kita akan dibantu penjualnya untuk setting HP sampai kartu sim card tersebut bisa digunakan langsung, saat itu saya memilih paket 7 hari unlimited internet seharga 299 Baht (setara 299 x Rp. 410 = Rp. 122.590). Proses di bandara mulai turun dari pesawat, pemeriksaan imigrasi, mampir di toilet, mengganti kartu HP, sedikit berfoto di bandara memakan waktu hampir 1 jam.
penjualan sim card thailand di bandara don mueang
Gerai True untuk membeli sim card di Bandara Don Mueang - Bangkok

truemove sim card
Ganti sim card Thailand seharga 299 baht untuk 7 hari unlimited

Langkah selanjutnya adalah dari Bandara Don Mueang menuju pusat kota Bangkok, bisa menggunakan taksi atau bus, untuk yang mau praktis dan tidak mau ribet bisa memilih taksi, tinggal memesan taksi melalui taxi service counter di depan passanger terminal dengan biaya pemesanan 50 baht diluar biaya taksi. Saat itu saya memilih menggunakan bus lalu oper BTS untuk menuju pusat kota Bangkok, kita bisa menunggu bus melalui pintu exit 6 saat keluar dari bandara. Ada beberapa bus yang standby, pilihlah bus A1 dengan rute bandara Don Mueang dan turun di BTS station yang terdekat dengan bandara yaitu BTS Mo Chit. Bus berangkat sekitar pukul 16.30 dengan membayar 30 baht (Rp. 12.300), dari bandara Don Mueang menuju BTS Station Mo Chit sekitar 30 menit perjalanan. Selama perjalanan saya menyempatkan melihat kanan kiri, ternyata kota Bangkok tidak jauh beda dengan pemandangan kota Jakarta atau Surabaya.

bandara bangkok
Exit 6 di Bandara Don Mueang - Bangkok, tempat menunggu shuttle bus menuju BTS Mo Chit
shuttle bus bandara don mueang bangkok
Shuttle bus A1 dari bandara Don Mueang yang melewati BTS Station Mo Chit

Bus akhirnya sampai juga di BTS Station Mo Chit, di Mo Chit ini ada 2 jenis kereta yang bisa Anda pilih, yang pertama adalah MRT yang jalurnya berada di dalam tanah, dan yang kedua adalah BTS yang jalurnya berada di atas jalan raya dengan pagar beton sebagai penyangga jalan railway keretanya. Jadi jangan bingung ya apa itu MRT dan BTS (karena saya dulu sempat bingung apa itu MRT, BTS, ARL).
BTS station bangkok
Turun dari bus, BTS Station Mo Chit sudah langsung terlihat

peta mrt bts bangkok terbaru
Dari BTS Mo Chit ini saya berencana menuju Wall Street Inn Hotel tempat saya menginap di daerah Surawong  Silom Bangkok, untuk menuju ke lokasi hotel dari BTS Station Mo Chit saya harus turun di BTS Station Sala Daeng dengan harga tiket 42 baht (Rp. 17.220), sebelum sampai di Sala Daeng harus turun di BTS Station Siam untuk pergantian kereta karena beda jalur. Jalur BTS di Bangkok ada 2 line, yaitu Sukhumvit Line yang menghubungkan BTS Mo Chit ke BTS Bearing dan Silom Line yang menghubungkan BTS National Stadium ke BTS Bang Wa, dengan station pertukaran di BTS Siam, untuk lebih jelasnya liat peta jalur BTS dan MRT di samping ini (klik pada gambar untuk memperbesar tampilan gambar)

Untuk pembelian tiket BTS juga sangat mudah, kita tinggal menuju ke mesin pembelian tiket yang berada di sekitar station BTS, mesin tiket tersebut hanya menerima koin 1 baht, 5 baht dan 10 baht untuk pembayaran, jika tidak mempunyai koin bisa ditukarkan di petugas yang ada di sekitar mesin tiket.
tickets bts bangkok
Mesin tiket BTS di Bangkok

Langkah-langkah penggunaan mesin tiket BTS di Bangkok dan cara penggunaan kartunya sebagai berikut :
  • Perhatikan peta jalur BTS di mesin tiket
  • Lihat angka yang ada di station BTS tujuan Anda, angka tersebut menunjukkan berapa baht yang harus di bayar (kisaran 15 sampai 52)
  • Pada mesin tiket, pencet angka sesuai yang tertera di station BTS tujuan Anda (select fare)
  • Masukan koin 1, 5 atau 10 baht sesuai jumlah angka yang Anda pencet (insert coins)
  • Jika jumlah koin yang di masukkan sudah pas atau lebih, maka tiket akan keluar secara otomatis (take ticket)
  • Jika jumlah coin yang Anda masukkan tadi berlebih, mesin akan mengembalikan sisanya (take change)
  • Jika tiket sudah di tangan, kita lanjut menuju gerbang pemeriksaan tiket, tiket tinggal kita masukkan ke lubang yang ada di gerbang (gate), maka gate akan terbuka otomatis, jangan lupa ambil kembali tiketnya dan simpan (tiket jangan sampai hilang karena diperlukan nanti saat keluar di BTS tujuan)
  • Setelah sampai di station BTS tujuan, masukkan lagi tiketnya dan kita bisa melenggangkan kaki keluar dari station
Foto dulu sambil menunggu kereta datang di BTS Station
Perjalanan dengan menggunakan kereta BTS dari Station Mo Chit ke Sala Daeng sekitar 40 menit, sesampai di BTS station Sala Daeng saya segera mencari lokasi hotel tempat saya menginap, sempat kebingungan juga sih untuk menemukan lokasi hotelnya, tetapi setelah beberapa menit jalan kaki mencari lokasi hotel, akhirnya ketemu juga Wall Street Inn Hotel tempat saya menginap selama 2 hari di Bangkok. Tepat pukul 18.00 saya sudah sampai di hotel, jarak antara lokasi hotel dengan BTS Station Sala Daeng juga tidak terlalu jauh, sekitar 7 menit jalan kaki.
Kondisi jalan dari BTS Sala Daeng menuju Wall Street Inn Hotel Bangkok
Wall Street Inn Hotel tempat saya menginap 2 hari di Bangkok
Sesampai di hotel, istirahat sebentar untuk mandi dan membereskan barang bawaan, dan lanjut berjalan kaki di sekitar hotel untuk mencari makan malam, melihat kondisi sekeliling hotel serta menikmati suasana malam di kota Bangkok. Sempat kesulitan juga mencari makan di sini, bukannya tidak ada yang berjualan makanan, tetapi kebanyakan menu makanan yang di jual mengandung babi (pork), waduuuhh jadi galau harus makan apa ??, kaki terus berjalan menyusuri jalanan dengan menahan lapar, sampai akhirnya saya dan teman yang lain memutuskan untuk makan di salah satu gerai fast food disekitar BTS station Sala Daeng, yaahhh .... jauh-jauh ke Bangkok menu yang di makan juga sama saja nasi putih plus ayam dengan saos. 
fast food
Makanan pertama di Bangkok, menu fast food
Ternyata hotel tempat saya menginap dekat dengan pasar malam Patpong Night Market, tentu saja setelah perut kenyang terisi, langkah kaki berlanjut menuju Patpong Night Market. Beragam barang, pakaian, souvenir, dan bermacam barang lainnya di jual di pasar malam ini, ramai sekali dan harga juga murah serta masih bisa di tawar, saya sempat membeli satu baju yang lumayan bagus dari segi bahan dan model seharga 100 baht (Rp. 41.000) murah kan !!, hari semakin malam, waktunya kembali ke hotel untuk istirahat mengumpulkan tenaga untuk explore Bangkok keesokan harinya.

Pengeluaran hari pertama : (kurs 1 baht = Rp 410)
  • Makan Mie Cup + Air Mineral di pesawat ---> Rp 45.000
  • Beli sim card Thailand (299 baht) ---> Rp 122.590 
  • Shuttle bus Don Mueang - Mo Chit (30 baht) ---> Rp. 12.300
  • Tiket BTS Mo Chit - Sala Daeng (42 baht) ---> Rp 17.220
  • Makan malam fast food (69 baht) ---> Rp 28.290
  • Beli baju di Patpong Night Market (100 baht) ---> Rp 41.000
  • Beli cemilan dan minuman di seven eleven (51 baht) ---> Rp 20.910
Total Pengeluaran hari pertama : Rp. 287.310


Kelanjutan dari artikel ini klik link berikut : Rute Keliling Bangkok dan Pattaya - Thailand part 2 (Explore Bangkok dengan mengunjungi Wat Pho, The Grand Palace, Wat Arun dan Khaosan Road)