Tampilkan postingan dengan label KONSERVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KONSERVASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

Petisi; Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan


Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara
Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara. Foto: Google

Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara

Pemberian ijin peningkatan produksi batubara dari 4 jt ton menjadi 20 jt ton serta pengangkutan lewat Sungai Kedang Kepala telah mengakibatkan terganggunya habitat Pesut Mahakam. Sungai Kedaung Kepala merupakan sungai kedua habitat utama Pesut Mahakam yang diduga terganggu oleh Bayan Resources.

Studi yang telah dilakukan oleh Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) dari tahun 1999 hingga sekarang menunjukkan bahwa populasi Pesut telah diambang kepunahan dengan jumlah populasi kurang dari 90 ekor! 

Studi juga menunjukkan bahwa tersisa 3 dari 5 anak sungai yang dulunya dapat dipergunakan oleh pesut tanpa gangguan ponton batubara (tapi untuk berapa lama, tidak ada yang tahu?!).  Anak-anak sungai ini dipergunakan pesut untuk mencari makan, bermain-main, kawin dan melahirkan. Sementara sungai Mahakam lebih banyak dipakai oleh pesut untuk berenang dari satu muara anak sungai ke muara anak sungai lainnya. Dikarenakan ponton mengeluarkan suara kebisingan yang melebihi 80 desibel dan sangat mengganggu pesut, maka pesut lebih memilih untuk menghindar dan tidak masuk anak sungai tersebut.

Suara bising tersebut dapat menghalau pantulan sonar pesut sehingga membuatnya sulit berorientasi dan dapat berkibat ditabrak ponton.  Apalagi untuk mencari makan, sudah tidak dapat dilakukan lagi.  Studi genetis juga telah membuktikan bahwa DNA pesut sudah berbeda secara signifikan dengan jenis terdekat yang berada di pesisir seperti muara Mahakam, Teluk Balikpapan dan daerah atau negara lainnya dan ada wacana untuk menggantikan nama Orcaella brevirostris dengan Orcaella mahakamensis.  Ironisnya pada saat pesut sudah lebih banyak dikenal dan disayangi oleh publik umum, tantangan menghadapi ancaman malah bertambah lebih banyak oleh kebijakan pemerintah yang tidak mendukung upaya kelestariannya.

Bukannya menghentikan, gubernur malah memberi ijin peningkatan produksi batubara pada PT. Bara Tabang menjadi 20 jt ton secara bertahap, tahun pertama 4 jt, kedua 8 jt dan ketiga 15 jt.

Kenyataannya, tahun 2016 ini ijin produksi masih 4 jt ton/tahun, namun melihat banyaknya ponton yang hilir mudik di sungai kedang kepala siapa yang bisa menjamin bahwa jumlah produksi tidak lebih dari itu? Menurut informasi dari masyarakat, belasan ponton beroperasi tiap harinya, bahkan lebih banyak dari sebelum petisi ini digaungkan, jadi apa benar secara bertahap, atau hanya untuk mengelabui masyarakat saja?

Alasan peningkatan produksi karena instruksi Pemerintah Pusat bahwa dalam MP3EI Kalimantan adalah koridor energi dan Kaltim kebagian “jatah” menghidupi atau menghasilkan 10.000 MW (tidak semua untuk Kaltim) dari total 30.000 MW, apa lagi kalau bukan dari PLTGU berbahan bakar batubara.

Oleh karena itu, walaupun harga batubara dipasaran dunia anjlok, tetap saja perusahaan dapat untung dengan menjual dipasaran domestik, karena program pemerintah dipakai sebagai argumen.

Kenapa tidak difikirkan sumber energi terbarukan, seperti yang berasal dari angin, matahari, air, arus, dsb?  Apa karena kurang menguntungkan dari segi “pendapatan” pribadi?

Di lain sisi, keberadaan Pesut Mahakam terus menerus diganggu oleh penguasa, sebagai salah satu satwa terlangka di Indonesia dan dunia, sudah menjadi kewajiban bersama bagi kita untuk benar-benar menjaganya, bukan sekedar lip service untuk memenangkan hati demonstran, kemudian dikhianati tak lama kemudian?

Apakah kerakusan akan membuat Pesut Mahakam punah?  Setelah batubara habis, apa yang tersisa bagi generasi penerus?  Kalimantan menjadi tidak lebih baik dari permukaan bulan, banyak lubang, gersang, dan akhirnya menjadi gurun pasir dimana anak cucu kita tidak akan bisa hidup layak.

Mari selamatkan Kalimantan, flora fauna Borneo, demi anak cucu dan menandatangani petisi ini untuk memohon transport ponton di anak-anak sungai Mahakam dihentikan.  Anda juga dapat tweet link petisi ini ke @jokowi, @bravonur, dan @susipudjiastuti dengan permohonan perhatian satwa endemik Kalimantan ini.

Petisi ini dibuat oleh Yayasan Konservasi RASI 

Petisi; Selamatkan Pesut Mahakam dari kebisingan ponton batu bara ditujukan kepada: 
> Presiden RI Jokowi
> Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Siti Nurbaya)
> Kementerian Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti)
> Gubernur Kalimantan Timur (Awang Faroek Ishak)

Tandatangani petisi ini di Change.org [klik disini] 


Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan
Kondisi Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) kian memprihatinkan, terbukti kini sangat sulit melihat satwa langka ini di habitatnya. Padahal awal 1990-an masih sering terlihat saat pagi dan petang hari. Itu menandakan mamalia ini kian terdesak, namun komitmen Pemda dipertanyakan karena tampaknya lebih perduli membangun tugu pesut ketimbang menyelamatkannya, terlihat dari dana APBD setiap tahun dalam upaya penyelamatan habitatnya tidak terlihat.
(Iskandar Datu/ANTARA)

Pesut Mahakam Fauna Identitas Provinsi Kalimantan Timur

Pesut atau lumba-lumba air tawar adalah spesies mamalia air yang menghuni wilayah perairan tawar di India, Indocina, Filipina dan Kalimantan. Tidak ada catatan fosil. Pesut pertama kali dideskripsikan oleh Sir Richard Owen tahun 1866 berdasarkan satu spesiemen yang ditemukan tahun 1852, di pelabuhan Vishakhapatnum di pantai timur India. Pesut adalah salah satu spesies dari genus Orcaella. Kadang-kadang pesut terdaftar dalam beragam famili yang terdiri dari ia sendiri dan pada Monodontidae dan dalam Delphinapteridae. Sekarang ada persetujuan bahwa pesut termasuk famili Delphinidae.

Secara genetis, pesut berhubungan dekat dengan paus pembunuh. Nama spesies brevirostris berasal dari bahasa Latin yang berarti berparuh pendek. Tahun 2005, analisis genetik menunjukkan bahwa lumba-lumba sirip pendek Australia merupakan spesies kedua dari genus Orcaella.

Seluruh tubuh berwarna kelabu hingga biru tua, bagian bawahnya berwarna lebih pucat. Tidak ada pola yang khas. Sirip punggung kecil dan membulat di tengah punggung. Dahinya tinggi dan membulat; tidak bermoncong. Sirip tangan lebar membulat. Spesies di Kalimantan yang mirip adalah Porpoise tak bersirip, Neophocaena phocaenoides, mirip tapi tidak punya sirip punggung: lumba-lumba bungkuk, Sausa chinensis, lebih besar, moncong lebih panjang dan sirip punggung lebih besar.

Dalam berbagai bahasa Orcaella brevirostris (nama Latin) adalah: Inggris: Irrawaddy dolphin, Dialek lokal Chilika: Baslnyya Magaratau Bhuasuni Magar (lumba-lumba penghasil minyak), Oriya: Khem dan Khera, Perancis: Orcelle, Spanyol: Delfín del Irrawaddy, Jerman: Irrawadi Delphin, Burma: Labai, Indonesia: Pesut, Melayu: Lumbalumba, Khmer: Ph’sout, Lao: Pha’ka and Filipino: Lampasut. Dalam bahasa Thai, salah satu namanya adalah pía loma hooa baht, karena kepalanya yang membundar dianggap menyerupai mangkuk rahib Budhha, hooa baht.

Penampilan pesut mirip dengan beluga, meski lebih berkerabat dengan orka. Spesies ini mempunyai melon (jaringan berlemak dan berminyak di kepala). Moncongnya tidak khas. Sirip punggung yang terletak dua pertiga posterior di punggung, pendek, tumpul, dan segitiga. Sirip tangan panjang dan lebar. Secara keseluruhan ia berwarna cerah, namun lebih putih di bawah tubuh daripada di punggung. Pesut dewasa beratnya lebih dari 130 kg dan panjangnya 2,3 m psaat dewasa. Panjang maksimum yang tercatat adalah jantan 2,75 m dari Thailand.

Lumba-lumba ini dianggap mencapai kedewasaan seksual pada 7 sampai 9 tahun. Di belahan bumi utara, perkawinan dilaporkan berlangsung pada bulan Desember sampai Juni. Masa hamilnya 14 bulan, melahirkan seekor anak setiap 2 hingga 3 tahun. Saat lahir panjangnya 1 m dan beratnya 10 kg. Anak itu disapih setelah berumur dua tahun. Umur pesut dapat mencapai 30 tahun.


Selamatkan Pesut Mahakam dari Ancaman Kepunahan
Kampanye pelestarian Pesut Mahakam dalam rangka memperingati hari Lumba-lumba air tawar sedunia, Oktober 2014 silam. Sumber: Google

Kamis, 25 Februari 2016

Daftar Taman Nasional di Indonesia

Daftar Taman Nasional di Indonesia
Peta sebaran Taman Nasional di Indonesia. Sumber tertera
Negeri kita, Indonesia adalah negara besar yang diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa. Keanekaragaman hayati Indonesia sudah tak diragukan lagi. 

Demi melindungi keanekaragaman tersebut dari kepunahan, pemerintah menetapkan sejumlah kawasan sebagai kawasan pelestarian alam, yang dinamakan Taman Nasional. Taman Nasional menurut UU No. 5 Tahun 1990 adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. 

Kawasan Pelestarian Alam sendiri adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Jumlah Taman Nasional yang dimiliki Indonesia sejauh ini berjumlah 50 dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Taman-taman ini adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati Indonesia yang harus dijaga benar-benar. 

Daftar Taman Nasional di Indonesia
Taman Nasional Bunaken di Manado Sulawesi Utara. sumber foto

Apa saja Taman Nasional tersebut? Berikut daftarnya.

No.
Nama
Lokasi
Luas (hektar)
Tahun Ditetapkan
1.
Gunung Leuser **
Kab. Aceh Tenggara, Kab. Aceh Selatan,
Kab. Aceh Singkil-Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kab. Langkat-Provinsi Sumatera Utara
1.094.692
1980
2.
Siberut *
Pulau Siberut, Kab. Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat
190.500
1993
3.
Kerinci Seblat *
Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan
1.375.349,867
1999
4.
Bukit Tigapuluh
Kab. Indragiri Hulu, Kab. Indragiri Hilir-Provinsi Riau, Kab. Bungo Tebo, Kab. Tanjung Jabung-Provinsi Jambi
144.223
2002
5.
Bukit Duabelas
Kab. Sarolangun Bangko, Kab. Bungo
Tebo, Kab. Batanghari Provinsi Jambi
60.500
2000
6.
Berbak *
Kabupaten Tanjung Jabung, Provinsi Jambi
162.700
1992
7.
Sembilang
Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan
205.750
2001
8.
Bukit Barisan Selatan *
Kab. Tanggamus, Kab. Lampung Barat-Provinsi Lampung, Kab. Bengkulu Selatan-Provinsi Bengkulu
365.000
1982
9.
Way Kambas *
Kab. Lampung Tengah, Kab. Lampung
Timur-Provinsi Lampung
125.621,3
1999
10.
Batang Gadis
Kab. Mandailing Natal Provinsi, Sumatera Utara
108.000
2004
11.
Tesso Nilo
Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri  Hulu, Provinsi Riau
38.576
2004
12.
Ujung Kulon
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
122.956
1980
13.
Kepulauan Seribu
Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta
 107.489
2002
14.
Gunung Halimun
Kab. Bogor, Kab. Sukabumi -Provinsi Jawa Barat,       Kab. Lebak-Provinsi Banten
40.000
1992
15.
Gunung Gede Pangrango *
Kab. Bogor, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi-Provinsi Jawa Barat
15.000
1980
16.
Karimunjawa
Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
110.117,3
1997
17.
Bromo Tengger Semeru
Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang, Kab. Malang-Provinsi Jawa Timur
50.276,2
1982
18.
Meru Betiri
Kab. Jember, Kab. Banyuwangi-Provinsi Jawa Timur
58.000
1982
19.
Baluran
Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur
25.000
1980
20.
Alas Purwo
Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur
43.420
1992
21.
Gunung Merapi
Kab. Magelang, Kab. Boyolali, Kab. Klaten-Provinsi Jawa Tengah, Kab Sleman-Provinsi DI Yogyakarta
6.410
2004
22.
Gunung Merbabu
Kab. Magelang, Kab. Semarang, Kab. Boyolali-Provinsi Jawa Tengah
 5.725
2004
23.
Gunung Ciremai
Kab. Kuningan, Kab. Majalengka-Provinsi Jawa Barat
 15.500
2004
24.
Bali Barat
Kab. Buleleng, Kab. Jembrana-Provinsi Bali
19.002,89
1995
25.
Gunung Rinjani
Kab. Lombok Barat, Kab. Lombok Timur-Provinsi Nusa Tenggara Barat
41.330
1997
26.
Komodo **
Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur
173.300
1995
27.
Manupeu-Tanah Daru
Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
87.984,09
1998
28.
Laiwangi-Wanggameti
Kab. Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur
47.014
1998
29.
Kelimutu
Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur
5.356,5
1997
30.
Gunung Palung
Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat
90.000
1990
31.
Danau Sentarum *
Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat
132.000
1999
32.
Betung Kerihun
Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat
800.000
1995
33.
Bukit Baka-Bukit Raya
Kab. Sintang-Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur-Provinsi Kalimantan Tengah
181.090
1992
34.
Tanjung Puting *
Kab. Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah
415.040
1996
35.
Kutai
Kabupaten Kutai, Provinsi Kalimantan Timur
198.629
1995
36.
Kayan Mentarang
Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur
 1.360.500
1996
37.
Sebangau
Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya-Provinsi Kalimantan Tengah
568.700
2004
38.
Bunaken
Kab. Minahasa, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara
 89.065
1991
39.
Bogani Nani Wartabone
Kab. Bolaang Mongondow-Provinsi
Sulawesi Utara, Kab. Gorontalo, Provinsi Gorontalo
287.115
1992
40.
Lore Lindu *
Kab. Donggala, Kab. Poso, Provinsi Sulawesi Tengah
217.991,18
1999
41.
Taka Bonerate
Kabupaten Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan
530.765
1992
42.
Rawa Aopa Watumohai
Kab. Kendari, Kab. Buton, Kab. Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara
105.194
1990
43.
Wakatobi
Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara
1.390.000
2002
44.
Kepulauan Togean
Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah
362.605
2004
45.
Bantimurung-Bulusaraung
Kab. Maros, Kab. Pangkep-Provinsi Sulawesi Selatan
43.750
2004
46.
Manusela
Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku
189.000
1997
47.
Aketajawe-Lolobata
Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara
167.300
2004
48.
Teluk Cenderawasih
Kab. Manokwari, Kab. Paniai-Provinsi Papua
1.453.500
2002
49.
Lorentz *
Kab. Paniai, Kab. Fak-fak, Kab. Merauke, Prov. Papua
 2.450.000
1997
50.
Wasur
Kabupaten Merauke, Provinsi Papua
 413.810
1990

Keterangan :
* Cagar Biosfer
* World Heritage Sites


Sumber: BLH Subang