Minggu, 29 Maret 2015

Petisi: Hentikan Operasi Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng

Petisi: Hentikan Operasi Pabrik Semen di Pegunungan Kendeng
Aksi aparat kepolisian menghalangi Ibu-ibu yang protes terhadap operasi pabrik semen.
Mari dukung sebuah petisi oleh Melanie Subono melalui situs petisi dunia Change.org:
Hentikan operasi pabrik semen yang menggusur warga di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah!

Berikut isi petisinya:

Hari cinta Sedunia, 14 februari 2015

Jam 16.17 waktu setempat. 

Hari ke 244 di tenda perlawanan warga, demi rumahnya, melawan pembangunan pabrik Semen Indonesia. 

Bersama para ibu yang telah dihina disiksa dan dipukuli secara rutin oleh mafia rakus yang ingin mengambil tanah mereka. 

Bertahan. 

Setiap jengkal tanah adalah setetes darah dan harga diri. 

Saat yang kaya makin jadi kaya, begitu pula si miskin. Sama antara pejabat dan rakyat. Tidak puas "menjual" lahan lahan bagus tanah air, sekarang pegunungan Kendeng Jawa Tengah , Rembang sudah "dilacur" pejabat untuk Semen Indonesia, menyusul daerah daerah lain. 

Di Lumbung Padi indonesia, yang sudah berubah menjadi penyumbang bencana terbesar Indonesia. Tanah cantik para petani yang sudah diduduki puluhan pabrik semen yang orientasinya adalah EKSPOR. 

Ratusan ribu orang terancam kemiskinan dan penelitian mengatakan kalau ini diteruskan maka per 2050 sebagian Jawa sudah bisa dipastikan hilang dari Peta. 

Hari ini, gunung indah dan hijau dengan sumber air alami ini sudah dirubah oleh para mafia rakus menjadi daerah kekeringan. 2 JUTA orang JawaTengah sekarang sudah kekurangan air. 

Dengan ledakan besar pemecah batu setiap jam 12 siang 10 menit dari rumah rakyat, mungkin mereka berharap suatu hari kita merubah makanan pokok kita dari nasi menjadi semen. 

Kali ini masih ada satu kesempatan untuk kita menghentikan. Karena Seorang Menteri bisa mengeluarkan surat dan begitu juga seorang Gubernur.

Karena suara rakyat harus didengar. 

Karena kalau tidak, mafia akan terus merajalela di area lain Indonesia. 

Karena, kita adalah manusia dan pejabat kita konon adalah manusia punya hati yang bisa membaca dan merasakan. 

Buat yang mau baca lengkap kerugian yang bs terjadi kalau ini berjalan bisa buka di :


Dan kalau kamu setuju, tanda tangani ini yang akan langsung disampaikan ke Ibu Siti Nurbaya dan Pak Ganjar Pranowo sebagai dua wakil suara kita yang bisa menghentikan ini. 

Untuk indonesia. Rumah kita. 


Petisi tersebut ditujukan kepada:
  1. gubernur jawa tengah ganjar pranowo
  2. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo
  3. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc
  4. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar


Hentikan operasi pabrik semen yg menggusur warga di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah!


Sumber: Change.org

Kamis, 26 Maret 2015

Coral Day, Secercah Impian untuk Memulihkan Pulau Bangka

Kegiatan Coral Day KitaBangga 2014 di Desa Lihunu Pulau Bangka. Foto: Yuris Triawan
Terumbu karang yang sering diistilahkan sebagai hutan tropis lautan. Diperkirakan seperempat dari total populasi di lautan tergantung pada keberadaan terumbu karang sebagai tempat tinggal dan sumber makanan. Tanpa terumbu karang, banyak spesies di laut akan kehilangan tempat tinggal dan tidak lagi memiliki tempat untuk berkembang biak. 

Sebaran terumbu karang di lautan diperkirakan hanya sekitar 0,1% dari total luas lautan. Jutaan orang di dunia secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada keberadaan terumbu karang sebagai sumber makanan, mata pencaharian dan juga untuk obat-obatan.

“The Economics of Ecosystems and Biodiversity (TEEB) dalam sebuah penelitian menemukan bahwa terumbu karang menghasilkan hingga US $ 1,25 juta per hektar dari pariwisata, perlindungan pantai, bioprospecting dan perikanan per tahun." Sumber: UNEP, Coral Reefs – Valuable but Vulnerable.

Keberadaanya merupakan sumbangsih yang menakjubkan bagi kehidupan masyarakat. Sayangnya, aktifitas manusia telah mengancam keberadaan terumbu karang. Ancaman ini bervariasi dari over-fishing (penangkapan ikan berlebihan), invasi spesies yang disebabkan oleh intervensi manusia seperti masalah lionfish di perairan Karibia, pengelolaan wisata bahari/memancing yang tidak bertanggung jawab serta polusi air. Akibatnya, terumbu karang berada dalam ancaman bahaya dan mengurangi ukuran (sebaran populasi dan jumlah) serta kualitasnya dari tahun ke tahun.
The Colourful Corals. Foto: Indah Susanti
Even an eel Murray feels save inside hard corals. Foto: Indah Susanti

Karang dan kaitannya dengan Terumbu Karang

Saya bukan ahli biologi kelautan sehingga pengetahuan saya didasarkan pada informasi dari artikel yang saya baca. Karang sebenarnya adalah hewan invertebrata [1]. Mereka memiliki kerangka, perut, mulut, dan tentakel. Tentakel digunakan untuk menangkap plankton untuk makanan. Sebuah karang tunggal disebut polip. Hidup secara berkelompok antara ratusan atau ribuan polip dan terhubung dengan jaringan hidup untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas inilah yang biasanya terlihat sebagai karang oleh kita tetapi sebenarnya terdiri dari banyak polip koral.

Karang dibagi menjadi karang keras dan karang lunak. Karang keras adalah struktur bangunan terumbu karang. Kerangka gabungan tersebut menjadi penyokong kehidupan bagi karang lunak dan spesies laut lainnya sebagai sumber makanan maupun habitat. Struktur gabungan yang menjadi penyokong kehidupan karang inilah yang dikenal sebagai terumbu karang dan dibangun oleh jutaan polip karang yang dikembangkan selama bertahun-tahun.
Corals as food resource for fish. Foto: Indah Susanti
Corals are perfect place for juveniles to hide. Foto: Indah Susanti
Nemo from Bangka Island. Foto: Indah Susanti

Coral Day, Secercah Harapan untuk Sebuah Pulau Kecil

Sejak tahun 2009, sekelompok orang Indonesia yang peduli dengan keberadaan terumbu karang memulai suatu gerakan Coral Day dengan tujuan untuk mempertahankan serta memulihkan karang dari kerusakan. Tanggal 8 Mei dipilih sebagai Coral Day karena periode memancing nelayan Indonesia biasanya dimulai awal Mei. Kegiatan ini mempromosikan pemulihan karang dengan menanam struktur bibit terumbu karang, dari spesies karang yang dominan di dasar laut dan mengadakan beberapa kegiatan edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat lokal akan pentingnya peran karang itu.

Coral Day tahun ini akan diselenggarakan di Pulau Bangka, tepatnya di Desa Libas. Mungkin sebagian dari pembaca pernah membaca tulisan saya tahun lalu yang bercerita tentang perjuangan warga di pulau tersebut. Pulau kecil ini terletak di Provinsi Sulawesi Utara - Indonesia. Meskipun menuai banyak aksi protes dari penduduk lokal dan aktivis lingkungan, aktivitas pertambangan bijih besi tetap belangsung dipulau ini. Perairan/laut disekitar  pulau kini tercemar akibat tanah sedimentasi dari aktivitas pertambangan. Air laut yang dulu biru telah berubah menjadi coklat keruh dan lapisan lumpur menutupi dasar laut. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan laut akan mati sebagai dampaknya.

Ulva Takke, pendiri LSM Suara Pulau yang bergerak Pulau Bangka menuliskan kisah yang menyedihkan. Setiap hujan turun selalu membuatnya menangis membayangkan betapa semakin banyak terumbu karang tertutup oleh sedimentasi lumpur dari aktivitas tambang. Dia mengadakan program edukatif berkala untuk memperkenalkan pentingnya terumbu karang, hutan bakau dan padang lamun untuk siswa sekolah. Sayangnya program ini dihentikan, sebab daerah yang biasanya mereka kunjungi tidak bisa lagi digunakan akibat tercemar serta tertutup oleh tanah berlumpur.

Berikut kutipan tulisan Ulva Takke yang ditujukan kepada Asisten Menteri Perikanan Indonesia dan Indah Susanti tertanggal 1 Desember 2014.
“Saat ini setiap hujan di pulau saya menangis membayangkan berapa luasan terumbu karang yang akan tertimbun oleh lumpur/sedimen dari tambang. Miris juga karena sekarang saya nggak bisa lagi membawa anak-anak SD Desa Kahuku dan Ehe untuk belajar tentang mangrove, padang lamun dan terumbu karang di kampung sendiri karena semua sudah ditimbun.” 
Joko Widodo bersama band rock Slank. Kaka mengenakan kaos putih. Foto: Cikarang Slank Fans Club

Dalam perjuangannya, gerakan Selamatkan Pulau Bangka (Save Bangka Island), hingga saat ini telah berlangsung selama empat tahun. Di satu sisi aktivitas pertambang juga terus berlangsung, meskipun kini Joko Widodo telah menjabat sebagai presiden. Salah satu pendukung gerakan Save Bangka Island, Kaka Slank, musisi yang juga dikenal publik sebagai pendukung Joko Widodo sudah beberapa kali mengadakan pertemuan. Ironisnya, pertemuan tersebut tidak menghasilkan apa-apa untuk membantu sebuah pulau kecil seperti yang dibutuhkan.

Terlepas dari situasi yang ironis ini serta pertambangan yang sedang berlangsung, Ulva Takke dan sebagian dari penduduk pulau masih belum mau menyerah demi sebuah impian untuk memiliki terumbu karang yang sehat di pulau mereka.
Kegiatan Coral Day KitaBangga 2014 di Desa Lihunu Pulau Bangka. Foto: Yuris Triawan

Coral Day di Kepulauan Kita Bangga (Kinabuhutan-Talise-Bangka-Gangga) [2]

Kegiatan Coral Day akan diselenggarakan di Desa Libas - Pulau Bangka dan juga akan menyertakan tiga pulau yang berdekatan lainnya. Keempat pulau ini secara lokal yang dikenal sebagai kepulauan Kita Bangga (We are Proud in English). Menurut jadwal kegiatan ini akan berlangsung pada Sabtu 9 Mei 2015. Panitia dan relawan akan menanam rangkaian karang baru di beberapa titik strategis yang jauh dari kemungkinan terkena dampak polusi air akibat pertambangan.

Bagi para penyelam yang ingin berpartisipasi dalam instalasi karang juga diperkenankan. Akan ada pembekalan sebelum instalasi karang dan itu merupakan kesempatan besar untuk belajar bagaimana cara menanam dan merawat karang di dasar laut.

Jika Anda tertarik, silahkan hubungi e-mail: info@suarapulau.org bisa juga untuk reservasi dan rekomendasi untuk akomodasi selama Anda berada disana.

Pihak penyelenggara juga mengajak masyarakat untuk turut mengadopsi karang atau menyumbang sebagai bentuk dukungan pada kegiatan ini. Berikut adalah bebera pilihan untuk anda:

1) Bagi yang bermukim di Indonesia, adopsi karang dan sumbangan bisa berkontribusi melalui website Wujudkan Coral Day Kita Bangga
|| For residents in Indonesia, the coral adoption and donation can be contributed through website Wujudkan Coral Day Kita Bangga.

2) Bagi yang bermukim di luar Indonesia, informasi adopsi karang dan formulir silahkan bertanya melalui e-mail: info@suarapulau.org 

|| For residents outside of Indonesia, the coral adoption information and form can be asked through e-mail: info@suarapulau.org

Contoh adopsi karang. Foto: CoralDayIndo

Contoh instalasi karang. Foto: CoralDayIndo

Menyelenggarakan Coral Day di sebuah pulau yang hampir setengahnya dikuasai pertambangan serta peraiaran lautnya yang rusak memang terdengar seperti lelucon yang menyedihkan, tetapi bukankah butuh banyak keberanian membangun sebuah impian untuk terumbu karang yang lestari sebelum lenyap akibat keserakahan, ketidakpedulian dan kelalaian...?

Ingin tahu apa yang terjadi dengan Pulau Bangka, simak foto-foto dokumentasi dibawah ini: 

Keadaan Pulau Bangka yang didokumentasikan Basecamp Petualang setahun yang lalu. [3]

Pulau yang hijau dan laut biru, lokasi titik awal tempat aktivitas perusahaan tambang.
Pulau yang hijau dan laut biru, lokasi titik awal tempat aktivitas perusahaan tambang.
Spanduk penolakan pertambangan yang dibentangkan di rumah warga.
Spanduk penolakan pertambangan yang dibentangkan di rumah warga.
Mangrove, padang lamun, laut biru dan pasir putih, lokasi Coral Day Kitabangga 2014.
Mangrove, padang lamun, laut biru dan pasir putih, lokasi Coral Day Kitabangga 2014.
Mangrove, padang lamun, laut biru dan pasir putih, lokasi Coral Day Kitabangga 2014.

Bandingkan dengan situasi yang terjadi di Pulau Bangka sekarang ini. [4]

Laut yang dulunya biru kini keruh berlumpur.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Pulau Bangka yang indah sedang dikeruk oleh aktivitas pertambangan.
Laut yang dulunya biru kini keruh berlumpur.


Catatan Sumber:
Tulisan ini sebelumnya di posting dalam bahasa Inggris oleh penulis di situs pribadinya "indahs: travel story & photography" [indahs.com], untuk berbagi informasi maka tulisan ini diterjemahkan dan diposting kembali oleh Basecamp Petualang.

Tulisan ini bertujuan untuk berbagi informasi mengenai spesies kehidupan laut tertentu dan untuk mempromosikan perlindungan mereka lakukan. Semua foto yang ada diambil oleh Indah Susanti kecuali dinyatakan lain.

Keterangan:
[1] Hewan Invertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang punggung/belakang (vertebrata), juga sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata.

[2] baca tentang Coral Day Kita Bangga (2014) sebelumnya disini 

[3] Foto2 dokumentasi Pulau Bangka setahun sebelumnya adalah dok. Basecamp Petualang

[4] Foto2 dokumentasi situasi terahkir di Pulau Bangka diupload Jull Takaliuang di group Save Bangka Island


Semoga Bermanfaat... #SaveBangkaIsland

Selasa, 24 Maret 2015

Menuju Coral Day 2015 KiTaBangGa

Menuju Coral Day 2015 KiTaBangGa
Info grafis, Jika terumbu karang hancur.
Menuju Coral Day 2015 KiTaBangGa

Coral Day 2015 yang akan diadakan di desa Libas, pulau Bangka, Sulawesi Utara! Latar belakang diadakannya event ini adalah untuk meningkatkan awarenes masyarakat luas tentang betapa pentingnya terumbu karang. Image ini adalah gambaran, apa yang terjadi jika terumbu karang lenyap. Mengerikan ya? Nah, fenomenanya, banyak terumbu karang rusak, baik karena kondisi alam mau pun karena kecerobohan manusia. Diperkirakan, jika kita terus tak peduli, maka dalam 20 - 40 tahun yang akan datang, terumbu karang akan benar-benar habis.

Menuju Coral Day 2015 KiTaBangGa
Coral Day Kitabangga 2015.

Mengenal Coral Day KITABANGGA

Coral reefs represent some of the world's most spectacular beauty spots, but they are also the foundation of marine life: without them many of the sea's most exquisite species will not survive. - Sheherazade Goldsmith

Tidak banyak yang menyadari bahwa terumbu karang adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan bawah laut DAN juga berpengaruh bagi kehidupan masyarakat. Padahal terumbu karang merupakan elemen vital, yakni sebagai penyedia sumber makanan dan tempat tinggal bagi beragam spesies dalam ekosistem bawah laut. Selain itu, terumbu karang pun bisa menahan abrasi pulau plus menjadi daya tarik wisata sehingga bisa membantu kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Bayangkan jika terumbu karang tidak ada, nelayan-nelayan akan kehilangan mata pencahariannya serta pulau-pulau akan banyak yang mengalami abrasi.

Namun pada kenyataannya, jumlah terumbu karang memang semakin lama semakin berkurang karena banyak penyebab, dari masalah alam seperti pengaruh perubahan iklim, sampai ke masalah perbuatan tangan manusia yang kurang berhati-hati. Menurut perkiraan, sampai 20 tahun yang akan datang terumbu karang akan punah sama sekali. Kondisi seperti ini tentunya menjadi ancaman bagi stabilitas ekosistem, yang secara langsung juga berpengaruh pada kehidupan kita, manusia. Kita akan kehilangan sumber nutrisi serta protein yang berasal dari spesies bawah laut.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pada Hari Bumi 22 April 2010 dicanangkanlah sebuah gerakan untuk menyelamatkan terumbu karang yang disebut Coral Day. Pelaksaan event Coral Day ini berhasil pada empat tahun terakhir, yakni di pulau Serangan (Bali) di tahun pertama, di Belitung di tahun kedua, pulau Seribu di tahun ketiga, di tiga tempat tersebut secara serentak di tahun keempat. Pada intinya event Coral Day ini adalah untuk meningkatkan awareness masyarakat mengenai pentingnya terumbu karang bagi kehidupan manusia

Di tahun 2015 event Coral Day akan diadakan di desa Libas, pulau Bangka, Sulawesi Utara.

Pulau Bangka ini terletak di posisi strategis perairan Kepulauan Kinabuhutan – Talise – Bangka dan Gangga (yang disingkat menjadi Kepulauan KitaBangga). Di perairan kepulauan ini terdapat beragam mamalia seperti lumba-lumba dan dugong. Selain itu ada pula spesies langka seperti ikan purba Coelacanth Sulawesi (Latimeria Menadoensis), ikan hiu sirip putih, ikan hiu sirip hitam, penyu, ikan Napoleon dan kuda laut pigmi. Keempat rangkaian pulau tersebut juga merupakan daerah penyangga taman Nasional Bunaken dan berlokasi di daerah coral triangle. Bisa dikatakan bahwa terumbu karang adalah penopang kehidupan masyarakat di kepulauan KitaBangga.

Sangat disayangkan perairan di wilayah ini mengalami kerusakan akibat penggunaan bom dan potassium sianida dan sedang dalam proses menumbuhkan kembali terumbu karang. Lalu ada hal-hal lain yang tidak menguntungkan kelestarian terumbu karang di kepulauan ini yang mungkin teman-teman bisa dicari beritanya di berbagai situs dengan keyword pulau Bangka, Sulawesi Utara.

Hal inilah yang menyebabkan kepulauan ini dijadikan tempat pelaksanaan Coral Day 2015 ini. Selain untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya terumbu karang, juga untuk mendesak terbentuknya marine protection area, sehingga seluruh spesies di dalamnya terlindungi. Pada event ini juga akan diadakan penanaman kembali terumbu karang yang telah rusak.


Selengkapnya Klik Disini 


Menuju Coral Day 2015 KiTaBangGa
#NB

Panitia penyelenggara Coral Day 2015 membutuhkan dukungan teman-teman Coral Lovers dan Mereka yang Peduli pada Lingkungan agar event ini bisa terlaksana di: (Klik Disini) 

Juga bantuan untuk menyebarkan tulisan ini pada teman-teman dan handai taulan, agar lebih banyak lagi yang peduli.

Jumat, 27 Februari 2015

Sulawesi, Pulau di Indonesia dengan Fauna Terunik

Peta Sulawesi
Alfred Russel Wallace, salah satu peneliti Inggris yang juga bersama-sama Darwin melahirkan teori evolusi, menjelaskan bahwa Sulawesi merupakan daerah di Indonesia dengan satwa terunik.

Setelah menjelajahi Indonesia, Wallace mengeluarkan suatu pernyataan yang disebut garis Wallace. Garis tersebut membusur dari Bali dan Lombok menuju ke antara Kalimantan dan Sulawesi, sebelah selatan Philipina dan sebelah utara Hawaii yang menandai perbedaan flora dan fauna pada daratan yang terpisah ketika zaman es.

Wallacea mencakup pulau-pulau di area yang ditandai merah, garis biru menandakan Garis Weber. Source Wikipedia
Sedangkan wilayah Sunda Besar yang terdiri dari Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali, merupakan bagian paparan Sunda dan faunanya sama dengan fauna daratan Asia. Pulau-pulau di bagian timur Bali yang merupakan bagian daratan Australia merupakan bagian dari paparan Sahul yang meliputi kepulauan Aru, Irian dan Australia. Dengan begitu, Sulawesi merupakan pulau terpisah dari kedua dataran tersebut, sehingga Wallace mengklaim Sulawesi sebagai daerah di Indonesia yang memiliki flora & fauna tersendiri. Berikut ini adalah beberapa fauna unik tersebut.

Kera Hitam / Yaki (Macaca Nigra). Foto: stefanounterthiner.com
Kera Hitam / Yaki (Macaca Nigra)
Hewan primata ini berciri khas dengan rambut berwarna hitam di sekujur tubuh kecuali punggung dan selangkangan yang agak terang. Kepala hitam berjambul, muka tidak berambut, moncong lebih menonjol. Kera Hitam Sulawesi hidup pada daerah yang berhutan atau daerah perkebunan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara.

Kera Hitam / Yaki (Macaca Nigra) di Taman Wisata Alam Tangkoko-Batuputih. Foto: Basecamp Petualang | GYT
Kera Hitam / Yaki (Macaca Nigra). Foto: stefanounterthiner.com
Kera Hitam Sulawesi terkenal cerdas dan ramah, namun sayangnya, perburuan manusia atas satwa langka itu tidak terkendali. Kera Hitam ini diperdagangkan di sejumlah pasar di Minahasa dan Tomohon.

Seekor anoa dataran rendah. Foto: Wikipedia
Anoa
Anoa adalah salah satu satwa endemik pulau Sulawesi. Anoa juga menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi Tenggara. Anoa sering disebut dengan kerbau kecil, karena memang memang mirip kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing.

Satwa yang dilindungi oleh pemerintah ini terdiri dari dua species, yaitu anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua satwa ini tinggal dalam hutan yang jarang dijamah manusia. Jumlah anoa diperkirakan sekitar 5000 ekor dan hanya ada di Sulawesi. Ulah manusia menghancurkan populasi Anoa, Anoa seringkali diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya.

Kura-kura Paruh betet. Foto: Satwaunik
Kura-Kura Paruh Betet
Kura-Kuta Paruh Betet merupakan salah satu dari 7 reptil langka di Indonesia, Bahkan termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles—2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition. Bentuk mulutnya yang meruncing menyerupai paruh Burung Betet, membuatnya dinamai “Kura-Kura Paruh Betet”. Satwa ini tidak dapat ditemukan di tempat lain selain di pulau Sulawesi bagian utara.

Populasinya kini diperkirakan hanya mencapai 250 ekor, hal ini disebabkan oleh perburuan, penebangan kayu komersial, pertanian skala kecil, dan pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Minimnya populasi juga diperparah oleh rendahnya tingkat reproduksi Kura-Kura Paruh Betet ini.

Tarsius di dalam rongga pohon yang menjadi "rumahnya". Foto: Basecamp Petualang | GYT
Tarsius
Tarsius adalah primata yang sangat unik. Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar, bola matanya berdiameter sekitar 16 mm dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang. Nama Tarsius diambil karena mereka memiliki tulang tarsal memanjang yang membentuk pergelangan kaki mereka, sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya.

Tarsius tarsier, primata terkecil di Indonesia. Foto: google
Tarsius memakan serangga seperti kecoa, jangkrik, reptil kecil, burung, dan kelelawar. Mereka hanya bisa ditemukan di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng.

Burung Maleo (Macrocephalon maleo). Foto: [sandeshkadur.com]
Burung Maleo
Burung Maleo (Macrocephalon maleo) hanya bisa ditemukan di di Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Donggala dan Kabupatren Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah. Burung Maleo memiliki tonjolan besar di atas kepala. Karena tonjolannya itu, Burung Maleo bisa mendeteksi panas bumi untuk menetaskan telurnya. Konon, Burung Maleo akan pingsan setelah mengeluarkan telurnya, ini karena ia harus mengeluarkan telur dalam ukuran yang sangat besar, yaitu kira-kira 5 kali lebih besar dari telur ayam kampong.

Keunikan telur Burung Maleo tersebut membuat banyak orang yang memburunya, kini Burung Maleo terancam punah, jumlahnya diperkirakan kurang dari 10 ribu ekor.

Babirusa (Babyrousa celebensis).  Foto: Wikipedia
Babirusa
Disebut Babirusa karena hewan ini memang mirip sekali Babi, ukuran badannya jauh lebih besar dari babi biasa. Babirusa juga punya taring panjang yang mencuat ke atas menembus moncongnya.

Satwa ini tergolong herbivora, suka sekali menyantap buah-buahan dan tumbuhan seperti mangga, jamur dan dedaunan. Babirusa memilih mencari makan pada malam hari, agar terhindar dari binatang buas yang sering menyerang. Sebenarnya babi rusa termasuk hewan yang pemalu, namun akan sangat buas jika ada yang mengganggunya. Babirusa adalah salah satu hewan langka, ia hanya terdapat di sekitar Pulau Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan Maluku, jumlah mereka diperkirakan hanya tinggal 4000 ekor. 

Babirusa yang menjelajah hutan terpencil Sulawesi. Foto: Coke Smith | cokesmithphototravel.com | blog.nature.org
Demikianlah beberapa satwa unik yang ada di Sulawesi, masih banyak satwa lainnya yang tidak terungkap disini. Jika ingin menyaksikan ragam fauna Sulawesi, Anda bisa berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Disana terdapat sekitar 117 jenis mamalia, 88 jenis burung, 29 jenis reptilia, dan 19 jenis amfibi. Jangan lupa untuk tidak pernah menyakiti mereka, apalagi memburunya, karena kelestarian mereka tengah terancam punah.




Sumber: Tourismnews | Wikipedia

Rabu, 25 Februari 2015

PETISI: Penebangan hutan untuk perlindungan iklim? Tidak, terima kasih!

PETISI: Penebangan hutan untuk perlindungan iklim? Tidak, terima kasih!
EU memutuskan kebijakan biofuel
Parlemen Uni Eropa akan kembali memutuskan politik-biofuel yang mengatur jumlah campuran bahan bakar nabati. Hingga kini setiap tahunnya terbakar 1,9 juta ton minyak sawit di dalam motor diesel di EU. Pembangunan perkebunan sawit menyebabkan rusaknya hutan hujan dan matinya orang utan. Kita harus bertindak sekarang!

PETISI:

Dengan bahan bakar dari ladang, Uni Eropa ingin menjadikan berkendaraan lebih ramah lingkungan. Bahan bakar yang dijual di pom bensin mengandung prosentasi biofuel yang tinggi. Pada tahun lalu di seluruh wilayah Uni Eropa dicampur 1,9 juta ton minyak sawit ke dalam diesel. Untuk itu perkebunan sawit membutuhkan tanah seluas 7000 kilometer persegi dimana disana sebelumnya tumbuh hutan hujan dan jadi habitat sekitar 5000 orang utan. Meskipun hutan hujan ditebang, Uni Eropa menggolongkan minyak sawit sebagai produksi berkelanjutan.

Aktivis lingkungan, ahli pembangunan dan ilmuwan sudah sejak lama menuntut penghentian energi tumbuhan yang merugikan ini. Politisi di Brüssel gagal dengan politik energi mereka. Hal ini dikemukakan studi independen yang ditugaskan Uni Eropa: biodiesel dari minyak sawit dan kedelai serta rapa lebih merusak dari pada diesel fosil dari minyak bumi.

Uni Eropa harus segera menghentikan politik biofuel mereka. Meskipun begitu industri agraria terus saja berupaya agar tetap berbisnis. Setiap tahunnya sekitar 15 triliun rupiah (kurs sekarang) mengalir subsidi biofuel di Eropa baik yang langsung maupun tidak langsung. Oktober 2012 komisi Uni Eropa telah mengajukan sebuah usulan untuk membatasi campuran biofuel di bahan bakar sebanyak 5%. Sejak itu Uni Eropa melakukan perundingan tentang angka, andil dan pantauan. Maka ratusan pelobi industri berusahalah mempengaruhi politisi. Parlemen Eropa dan Dewan Mentri telah mengambil suara namun tanpa konsensus. Akhirnya parlemen Uni Eropa pada musim semi 2015 ini kembali mengambil keputusan yang kompromis.

Tolong Anda tanda tangani tulisan kami kepada Uni Eropa dan bersama kami dan tuntut penghentian biofuel sekarang juga.

Sebuah aksi bersama dengan Umweltinstitut München e.V.

Klik tautan dibawah untuk mendukung petisinya: 


PETISI: Penebangan hutan untuk perlindungan iklim? Tidak, terima kasih!
Ilustrasi - Ekspansi perkebunan kelapa sawit memicu pembalakan liar di Indonesia (ANTARA/Zabur Karuru)

Latar Belakang

14 juta ton biofuel setiap tahunnya dicampur ke dalam bensin dan diesel di Uni Eropa. Tahun 2020 jumlahnya menjadi 30 juta ton untuk mengantikan minyak bumi sebanyak 10%. Jumlah biofuel yang terus meningkat ini membutuhkan bahan mentah seperti minyak sawit dan minyak kedelai yang diimport dari luar negri. Di Amerika Selatan hutan hujan dan sabana dibakar demi penanaman tebu yang berguna bagi produksi etanol dan monokulutr kedelai bagi produksi bio diesel.

Di Asia Tenggara hutan hujan ditebang terutama untuk perkebunan sawit. Malaysia dan Indonesia memiliki andil sebesar 90% di pasar dunia dan merupakan produsen minyak sawit sekaligus penghancur hutan hujan terbesar di dunia. 39 organisasi lingkungan di Indonesia dengan sebuah tulisan kepada EU (dalam bahasa Inggris) menggugah dan menuntut segera penghentian penggunaan minyak sawit untuk biodiesel. Perkebunan sawit itu bersertifikasi „Roundtable on Sustainable Palm Oil“ (RSPO). Minyak sawit yang diproduksi oleh Uni Eropa diangap sebagai „berkelanjutan“ dan bisa dicampur ke dalam biodiesel. 1,9 juta ton minyak sawit, minyak tumbuhan yang termurah ini, mengalir ke pasar biodiesel Eropa. Salah satu produsen biofuel terbesar di Jerman adalah Verbio AG yang memproduksi setiap tahun, menurut keterangan dari dalam, sekitar 450.000 ton biodiesel, 300.000 ton bioetanol dan 480 gigawatt-jam biometan. Perusahaan ini menjual produksinya langsung ke perusahaan dan pedagang minyak mineral, pom bensin, ekspedisi, pembangkit listrik BUMN dan armada kendaraan.

Pada surat kabar Mitteldeutsche Zeitung pimpinan Verbio di akhir April 2013 mengatakan: „Kami dipaksa menghentikan pengelolaan minyak rapa dalam negeri untuk biodiesel“. Minyak sawit akan menganti minyak rapa. Hanya dengan begitu perusahaan dapat kembali mendapatkan keuntungan. „Aturan politik tidak memberikan kami pilihan lain“, demikian pimpinan Verbio. Biodiesel dari Argentina dan Indonesia disubsidi, lalu dieksport ke Eropa. Minyak sawit murah dari Asia Tenggara digolongkan oleh Uni Eropa sebagai produksi berkelanjutan, meskipun hutan hujan ditebang. Biodiesel dari minyak sawit 30% lebih murah dari minyak rapa. Kelompok perusahaan Neste Oil dari Finlandia dan juga ADM dan Cargil dari Amerika Serikat sudah sejak lama menempuh bisnis ini. Dan mereka mengerjakan perkebunan sawitnya sendiri atau usaha patungan dengan perusahaan minyak sawit seperti Wilmar dan IOI. Neste Oil memiliki dua kilang biodiesel besar yang berada di Singapur dan Rotterdam untuk pasar di Eropa. Kilang biodiesel di Rotterdam tahun 2012 mengimport 400.000 ton minyak sawit untuk kebutuhan pasar Eropa.

PETISI: Penebangan hutan untuk perlindungan iklim? Tidak, terima kasih!
Ilustrasi Biofuel

Data bahan mentah biodiesel Uni Eropa untuk produksi "Biodiesel" Uni Eropa (jumlah keseluruhan sekitar 9,4 juta ton) tahun 2012

Minyak rapa 5,4 juta ton (=57%)

Minyak sawit 1,9 juta ton (=20%)

Minyak kedelai 0,5 juta ton (5,3%)

Minyak bunga matahari 0,1 juta ton (=1,1%)

Lemak(sisa dari hewan yang dipotong) 0,5 juta ton (=5,3%)

Minyak jelantah dan minyak daur ulang 1 juta ton (=10,6%)


Pemakaian minyak sawit untuk "Biodiesel" di Uni Eropa

2006: 0,4 juta ton

2012: 1,9 juta ton

Peningkatan 365%

Sumber: IISD 9-2013: The EU Biofuel Policy and Palm Oil: Cutting subsidies or cutting rainforest? http://www.iisd.org/gsi/sites/default/files/bf_eupalmoil.pdf


Komposisi "biodiesel" Jerman 2013

Minyak rapa 53%

Minyak sawit 25%, minyak kedelai 11% dan minyak kelapa 11% = 47% biofuel bahan mentah yang diimpor dari wilayah tropis

Basis: uji coba dari 60 pom bensin yang berbeda-beda mereknya di Jerman pada musim panas 2013

Sumber: UFOP Agustus 2013, basis bahan mentah dari andil biofuel di bahan bakar diesel




Ayoo dukung petisi: Penebangan hutan untuk perlindungan iklim? Tidak, terima kasih!


#Info: Klik tautan-tautan yang ada diatas untuk mengunduh file PDF-nya

Jumat, 13 Februari 2015

Mengapa Kita Perlu Melindungi Yaki (Macaca Nigra)

Mengapa Kita Perlu Melindungi Yaki (Macaca Nigra)
Selamatkan monyet hitam, Forum F21 menggelar aksi moral bertajuk 'Malo makang Yaki (malu makan Yaki)' di kawasan Terminal Karombasan Manado, Sulawesi Utara, Selasa (5/8). Foto: Merdeka.com
Seperti manusia, primata Yaki (Macaca nigra) juga tinggal dalam kelompok sosial dan membutuhkan keluarga dan teman untuk bertahan hidup. Yaki adalah monyet istimewa karena mereka hanya hidup secara liar di Sulawesi Utara dan tidak di tempat lain di dunia!

Yaki memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Mengapa? Yaki memakan hingga 145 jenis buah-buahan tumbuhan hutan yang berbeda dan menyebarkan biji-bijinya di seluruh hutan agar bisa bertumbuh menjadi pohon baru. 

Yaki menjaga hutan tetap sehat dan hutan menjaga manusia agar tetap sehat dengan menyediakan air, udara, makanan, dan sumber daya lain. Hutan juga menjaga manusia dari bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Sayangnya, yaki mengalami penurunan populasi sebesar lebih dari  80% dalam 40 tahun terakhir dan oleh karena itu mereka mendapat status Sangat Terancam oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). 
Mengapa Kita Perlu Melindungi Yaki (Macaca Nigra)
Dukungan SLANK untuk kampanye Selamatkan Yaki. #Selamatkanyaki adalah kampanye untuk menyelamatkan hewan Yaki (macaca nigra) primata asli Sulawesi Utara dari kepunahan. Foto: google|iniopa.com
Ancaman utama terhadap populasi yaki adalah perburuan dan perusakan habitat. Seiring pertumbuhan penduduk, manusia membutuhkan semakin banyak ruang untuk membangun pemukiman dan lahan pertanian. Ketika mereka memotong pohon untuk menciptakan ruang bagi manusia, rumah yaki (hutan) semakin lama semakin kecil. Yaki tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup di hutan sehingga mereka terpaksa mencari makan di lahan pertanian untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Yaki dilindungi hukum negara. Dalam UU No. 5 Tahun 1990 dinyatakan dengan jelas bahwa dilarang menangkap, memelihara, memburu, dan memindahkan yaki (Macaca nigra), yang berlaku pada kulit maupun tubuhnya, baik utuh maupun sebagian, baik hidup maupun mati. Hukuman bagi pelanggar undang-undang ini adalah 5 tahun penjara dan denda 100 juta Rupiah.

Salah satu alasan yaki memiliki status Sangat Terancam adalah kurang efektifnya penegakan hukum. Banyak orang berburu dan menjual satwa yang terancam punah tanpa dihukum – setidaknya, hingga saat ini. Kami berharap keadaan ini akan berubah dan bersedia bekerja sama dengan pihak berwenang untuk melindungi sisa populasi yaki di alam liar.

Sebagai penutup, kami berharap Anda bisa mempertimbangkan hal ini: Jika ada lebih dari 1 juta masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara dan tersisa 5.000 ekor yaki di alam liar  – berapa banyak keluarga di Minahasa yang akan memakan yaki pada Natal tahun ini sebelum spesies ini punah?

Bagaimana Anda bisa membantu? Beritahu keluarga dan teman-teman mengenai yaki dan pentingnya kita melindungi mereka! Tolak dengan sopan  hidangan yang berisi daging satwa yang terancam punah seperti yaki. Kirimkan pesan pada kami di Facebook atau email info@selamatkanyaki.com dan kami akan mengirim banner informasi yang bisa Anda cetak dan sebarkan di desa Anda! Bantu kamI menyebarkan pesan mengenai pentingnya satwa liar seperti yaki,  demi masa depan masyarakat Minahasa yang lebih baik dan kehidupan yang harmonis di sisi satwa liar Minahasa!

Mengapa Kita Perlu Melindungi Yaki (Macaca Nigra)
Apa yang harus dilakukan ketika melihat perdagangan yaki di pasar/yaki dijadikan peliharaan.
(Klik untuk memperbesar gambar)
Mengapa Kita Perlu Melindungi Yaki (Macaca Nigra)
Yaki informasi banner oleh Selamatkan Yaki – silahkan dicetak dan sebarkan.
(Klik untuk memperbesar gambar)

Penulis oleh Thirza Loffeld, Pendidikan dan Advocacy Koordinator di Selamatkan Yaki. Selamatkan Yaki adalah program konservasi yang bertujuan untuk melindungi sisa populasi yaki (Macaca nigra) di alam liar. Selamatkan Yaki memberikan penyadartahuan dan menghubungi pihak penting lainnya. Kunjungi website kami: www.selamatkanyaki.com


Baca juga:

Satwa ini dilindungi berdasarkan:

Tentang : Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa

Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya

Semoga bermanfaat...