Selasa, 30 Juni 2015

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Novtama Dikecam Netizen

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Novtama Dikecam Netizen
Foto Novtama dan bekantan hasil buruan. Foto: ©facebook.com

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Pengguna Instagram Dikecam [1]

Salah satu pengguna Instagram dikecam oleh netizen dan kalangan pencinta lingkungan karena berpose dengan bekantan, salah satu satwa Indonesia yang dilindungi.

Bersama fotonya, Novtamaputra, demikian nama akun pengguna Instragram itu, mengatakan, "Hasil berburu...."

Dalam foto Novtamaputra, tampak seseorang mengangkat bekantan dengan dua tangannya, berpose sambil tersenyum. Tak jelas kondisi bekantan, mati atau hidup.

Sejumlah netizen mengecam Novtamaputra. Pengguna Instagram bernama Dianalmira, misalnya, mengatakan, "Orang sarappppppp.. Ga Ounya hati!"

Sementara itu, Iidsatria mengungkapkan, "Hewan langka untuk dilindungi bukan untuk diburu dan dimakan."

Minta maaf

Menerima banyak kecaman, Novtama akhirnya minta maaf kepada publik karena telah mengunggah foto bersama hewan dilindungi.

"Untuk semua orang saya mohon maaf karena telah mengupload foto ini," katanya juga lewat Instagram.

"Ini adalah hasil buruan orang di kebun keluarga di kampung, tepatnya di Kabupaten Murung Raya," imbuhnya.

"Saya sangat minta maaf karena di foto ini saya tulis 'hasil berburu', tapi sebenarnya bukan saya yang berburu," kata Novtama.

Novtama juga mengaku tidak memakan daging bekantan tersebut. Dia juga mengaku hanya datang ke kampung untuk liburan.

Tetap tidak etis

Anisa Ratna, Sekretaris Garda Satwa Indonesia, mengatakan, "Kami sangat menyayangkan. Bekantan dari tahun 2000 sudah masuk kategori endangered animal alias terancam punah, masuk Appendix 1."

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 Pasal 21 ayat 2, siapa pun yang membawa, menangkap, membunuh, dan menjual satwa bisa dikenai denda Rp 100 juta dan 5 tahun penjara.

Dalam permintaan maafnya, Novtama mengungkapkan bahwa foto dirinya dan bekantan diunggah hanya untuk bercanda.

Namun, Anisa mengungkapkan, sampai saat ini, belum ada yang bisa membuktikan ke mana bekantan itu.

Ia menambahkan, jika pun bercanda, guyonan ini memancing orang untuk berpikir tidak masalah memburu satwa dilindungi.

Berdasarkan informasi yang diterima Garda Satwa Indonesia, Novtama akan dipanggil kepolisian Selasa (30/6/2015) untuk memberi keterangan tentang aksinya.

Populasi bekantan di dunia hanya tinggal 25.000. Penting untuk menjaga hewan yang populasinya tak sampai 5 persen populasi manusia itu. 

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Novtama Dikecam Netizen
Akun Novtamaputra dan bekantan hasil berburu.

Jadikan Bekantan sebagai buruan, Novtama harus dihukum [2]

Anggota Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group Marison Guciano mengatakan meski pelaku pembunuh mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu sudah meminta maaf. 

Namun proses hukum harus tetap ditegakkan untuk pelaku pembunuh bekantan itu.

"Harus ada tindakan tegas terhadap pelaku kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi. Harus diproses hukum," tutur Marison dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Selasa (30/6).

Menurut Marison, pelaku Novtama melanggar undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Novtama, kata dia juga melanggar undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 

Sebelumnya, pemilik akun instagram novtamaputra memosting foto hasil buruan bekantan. Pose dia bersama bekantan diberi di instagram berjudul 'hasil berburu'. 

Foto ini diposting pelaku melalui Instagram ini, dan disebarluaskan lewat Facebook hingga menuai banyak kecaman dari netizen. Salah satu netizen Arya ExoArya yang mengatakan oknum aparatur negara cuma beraninya sama bekantan. 

"Kalau disuruh berantas koruptor berani enggak dia," kata dia.

Kemudian netizen lain Fia Rose Calisty II menilai pemburu bekantan itu tidak mencerminkan perilaku yang baik. Padahal pemburu itu mengenakan seragam Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

"Sayang banget cowok ganteng begini tapi begonya bukan main. Semoga yang bersangkutan hanya kurang diedukasi saja soal bekantan ini, semoga saja yang bersangkutan tidak tahu kalau bekantan itu satwa langka yang dilindungi," cetus Amelya Navratilova.


Selamatkan Satwa Langka Indonesia... 

Sumber: 
[1] Kompas

Senin, 29 Juni 2015

Kejam! Foto Pembunuhan Harimau Sumatra Tuai Kecaman

Foto Pembunuhan Harimau Sumatra Tuai Kecaman
Sadis...! beberapa orang nampak berfoto bahagia bersama Harimau Sumatra yang sudah tewas. Foto: ©facebook.com
Harimau Sumatera adalah satwa dilindungi yang populasinya semakin mengecil akibat berkurangnya habitat dan perburuan liar. Perburuan atau pembunuhan harimau sumatera itu melanggar hukum. Menurut UU nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku pembunuhan satwa dilindungi seperti harimau itu bisa diancam hukaman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. 

Foto warga bantai harimau tuai kecaman [1]

Seekor Harimau Sumatera telah tewas disiksa oleh sekelompok orang di Pemantangsiantar, Sumatera Utara. Harimau Sumatera tersebut juga berlumpuran darah dengan diikat oleh tali.

Pelaku pembantaian hewan yang dilindungi malah memposting foto Harimau Sumatera itu di Facebook dengan nama Manullang Aldosutomo. Berdasarkan foto yang diperoleh merdeka.com dari facebook. Penyiksaan Harimau Sumatera itu mengundang komentar banyak dari netizen. 

Salah satu pemilik facebook Muda Putra Siadari mengatakan binatang satwa tidak boleh disiksa apalagi dimusnahkan. "Hati-hati ngeshare foto Bang. Apa lagi membunuh binatang yang dilindungi. Bisa berurusan sama kepolisian kalau ada yang ngelapor," komentarnya.

Tak hanya itu, netizen lain Sugi menyebutkan sekelompok orang yang menyiksa Harimau Sumatera itu tidak mempunyai hati nurani. Sebab Harimau Sumatera adalah binatang satwa yang dilindungi oleh negara. 

"Kenapa harus diperlakukan seperti itu. Ini yang dinamakan manusia tapi bersifat layaknya binatang," cetusnya.

Foto ini menambah deretan binatang yang dibantai secara sadis, sebelumnya seekor orangutan tewas secara tragis di tangan manusia. Tak hanya jadi buruan, hewan ini juga dibantai bahkan dimasak sebagai santapan.

Tak malu dengan tindakannya itu, pelaku pembantaian hewan yang dilindungi malah memposting foto proses memasak di Facebook dengan nama Polo Panitia Hari Kiamat. Yang lebih parah, dia menulis orangutan itu dibakar untuk buka puasa.

Kejam! Foto Pembunuhan Harimau Sumatra Tuai Kecaman
Dicari Pelaku Pembantaian Harimau Sumatera yang Diunggah di Facebook

Halaman resmi ProFauna: [2]
Dicari Pelaku Pembantaian Harimau Sumatera yang Diunggah di Facebook

Belum hilang dari ingatan masyarakat tentang pembantaian primata yang diduga orangutan di Kalimantan Tengah yang diunggah di facebook oleh akun Polo Panitia Hari Kiamat, kini muncul berita tentang dugaan pembantaian seekor harimau sumatera. Pembantaian harimau itu juga diunggah di media sosial facebook.

Harimau sumatera adalah satwa dilindungi yang populasinya semakin mengecil akibat berkurangnya habitat dan perburuan liar. Perburuan atau pembunuhan harimau sumatera itu melanggar hukum. Menurut UU nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku pembunuhan satwa dilindungi seperti harimau itu bisa diancam hukaman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Jika anda mengetahui pelaku pembunuhan harimau tersebut atau mengenal orang-orang yang terlihat dalam foto yang diunggah di facebook tersebut, harap menginformasikannya ke lembaga Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) lewat email: profauna@profauna.net, SMS center 081336657164, 081615711592 atau telpon 08563693611.

PROFAUNA akan meneruskan informasi tersebut ke aparat penegak hukum. Ayo bantu kami menemukan pelaku pembunuhan harimau tersebut! Ingat terungkapnya kasus pembantaian orangutan di Kalteng itu juga tidak terlepas dari bantuan anda menyebarluaskan informasi tersebut!


Sumber: 

Referensi:

Sabtu, 23 Mei 2015

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Danau Matano terletak di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 

Namanya belum setenar Danau Toba di Medan, Sumatera Utara, tapi pesona Danau Matano gak bisa dipandang sebelah mata. Danau Matano terletak di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 

Pelesiran ke sini, mustahil kamu tidak jatuh cinta dengan danau yang diklaim sebagai yang terdalam di Asia Tenggara. Mata kamu bakal dimanjakan dengan jernihnya biru air danau, yang membuatmu bisa melihat danau hingga kedalaman 20 meter!

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Pantai Salonsa, Danau Matano. Foto: Wikipedia

Danau Matano terbentuk dari ribuan mata air akibat gerakan tektonik di litosfer. Kini, danau ini menjadi rumah buat aneka ikan serta burung danau terbang dan dikelilingi Pegunungan Verbeek nan hijau. 

Tak hanya itu, sejumlah fauna eksotis, seperti kepiting bungka, udang, siput, keong air tawar dan yang paling kesohor dari Danau Matano, ikan purba buttini yang memiliki nama latin Glossogobius matanensis juga menempati danau ini. Meski bentuk ikan purba ini cukup aneh karena bola matanya menonjol keluar dengan kulit berwarna kecokelatan, dagingnya terasa gurih saat dimakan sehingga menjadi ikan yang paling digemari masyarakat setempat.

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Butini, ikan endemik Danau Matano, yang kini sulit ditemukan. Foto: Mongabay.co.id

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Source: Google

Karakteristik Matano juga unik karena posisinya yang lebih rendah dari permukaan laut. Hal ini merupakan fenomena alam langka yang hanya bisa ditandingi oleh Laut Mati. Menyelami Danau Matano dipercaya bakal memuaskan para diver, tapi berenang di pinggir Matano juga menawarkan pengalaman tak kalah menyenangkan.

Suhu air di Danau Matado tidak dingin, karena danau ini termasuk danau cryptodepression, yang bagian dasarnya lebih dalam dari permukaan laut. Kamu juga bisa berenang ataupun bermain kayak di Pantai Ide, pokoknya, kalo kamu pecinta air dan aktivitas berhubungan dengan air lainnya, dijamin betah di sini!

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Dasar Danau Matano berada hampir 200 meter dibawah permukaan laut.
Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Peta lokasi danau Matano.

Enaknya lagi, meski lokasi pantai ini terletak di kawasan perusahaan tambang PT Vale Indonesia Tbk, Pantai Ide terbuka untuk umum bahkan tanpa biaya masuk untuk menikmati keindahan pantainya. Pantai Ide juga memiliki dermaga sepanjang 50 m yang menjorok ke pinggir danau. Kalau lagi beruntung, kamu bisa menyaksikan pemandangan menakjubkan, yakni senja di danau dengan latar pelangi yang mengalungi Pegunungan Verbeek.

Buat kamu yang mencintai wisata sejarah, menyambangi Danau Matano gak ada salahnya. Di bibir danau ini yang sebagian adalah tebing batu papan, juga terdapat beberapa lubang yang di dalamnya sisa peninggalan sejarah. Barang-barang seperti tombak, parang, dan peralatan rumah yang terbuat dari besi kuningan, yang diprediksi sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Ada juga gua yang lokasinya berada tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk. Di gua ini, banyak terdapat tulang belulang dan tengkorak manusia serta dihuni banyak kelelawar. Warga setempat menyebut gua tersebut Gua Tengkorak. Konon, tengkorak tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam sebelum masyarakat setempat mengenal ajaran agama. Mereka yang telah meninggal dunia dimasukkan ke dalam liang batu.

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Pesona senja di Danau Matano, Sorowako, Sulawesi Selatan.

Buat kamu yang bosan dengan wisata air yang begitu-begitu saja, memasukkan Danau Matano sebagai salah satu tujuan wisata dijamin nggak akan bikin kamu nyesel!

Berikut adalah daftar Keunikan Danau Matano: 
Selain karena terbentuk dari peristiwa alam yang langka dan kedalamannya, Danau Matano memiliki keunikan lainnya.

1. Danau ini bersifat isothermal , artinya suhu air di permukaan dan suhu air di dasar danau itu berbeda kurang dari dua derajat Celcius. 

2. Di dekat Desa Matano yang terletak di sekitar danau ini, terdapat mata air yang mucul dari dasar danau. 

3. Di kedalaman 200-300 meter terdapat kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau.

4. Di danau ini pun terdapat flora dan fauna yang endemik di Sorowako, artinya tidak dapat ditemukan di tempat lainnya.


Nah, karena berbagai keunikannya itu, pemerintah setempat membuat danau ini sebagai tempat tujuan wisata. Selain itu, berbagai kegiatan olahraga air, seperti kano, kayak, jetski, snorkeling, menyelam, layar, renang dan lainnya juga sering dilakukan di danau ini. 

Oh, ya, asal kamu tahu saja nih. Sejumlah pakar ekologi telah merekomendasikan Danau Matano menjadi salah satu world heritage  dan biodiversity hotspot  yang harus dijaga kelestariannya.

Selamat Berpetualang... :)


Sumber:

Kamis, 30 April 2015

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Dahsyatnya longsoran salju yang menghantam Basecamp Everest.  Foto: Robert Schmidt/AFP
Foto Dramatis dari Base camp Everest Saat Gempa 7,9 SR Mengguncang Nepal

Fotografer AFP Roberto Schmidt sedang berada di base camp Everest ketika gempa berkekuatan 7,9 skala richter (SR) mengguncang Nepal, Sabtu (25/4) kemarin. Ini adalah foto-foto dramatisnya dari lokasi.

"Fotografer AFP Roberto Schmidt, di base camp Everest saat gempa terjadi, sudah mengirimkan foto pertamanya," tulis AFP dalam akun twitternya, Minggu (26/4/2015).

Di antara foto tersebut, ada penampakan dahsyatnya longsoran salju yang menghantam base camp. Gulungan salju berwarna putih terlihat memenuhi layar kamera.

Selain itu, ada juga berbagai gambar tenda-tenda para pendaki gunung Everest yang hancur akibat hantaman longsoran salju. Tenda-tenda tersebut tak ada lagi yang berdiri. Semua berantakan.

Di foto lain, terlihat gambar para pendaki sedang menggotong tandu. Beberapa lainnya mencari kemungkinan korban yang bisa dievakuasi.

Base camp Everest 1 dan 2 menampung ratusan pendaki. Mereka dilaporkan semua selamat. Namun upaya evakuasi cukup sulit karena medan menuju base camp terhalang longsoran salju.

Saat ini, proses evakuasi baru bisa dilakukan lewat helikopter.

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Dahsyatnya longsoran salju yang menghantam Basecamp Everest.  Foto: Robert Schmidt/AFP

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Dahsyatnya longsoran salju yang menghantam Basecamp Everest.  Foto: Robert Schmidt/AFP

Tenda-tenda para pendaki tampak tidak beraturan akibat terkena dampak longsoran. Laporan terakhir yang dilansir CNN-IBN, 18 orang pendaki ditemukan tewas.

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Tenda-tenda para pendaki tampak tidak beraturan akibat terkena dampak longsoran. Laporan terakhir yang dilansir CNN-IBN, 18 orang pendaki ditemukan tewas.
Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Longsoran salju (avalanche) di sisi selatan Gunung Everest saat terjadi gempa di Nepal pada Sabtu (25/04/2015). Foto : Northmen PK


Sumber:

Agence France-Presse | Twitter

Detik

Sabtu, 11 April 2015

Balikpapan Terpilih Sebagai ‘The Most Loveable City’ Kampanye We Love Cities

CINTAI KOTA: Balikpapan berkesempatan menjadi kota yang paling dicintai dunia dalam ajang Earth Hour City Challenge. Foto: Pojoksatu.id
Kota Balikpapan berhasil menempati urutan pertama dalam kampanye We Love Cities yang merupakan rangkaian dari inisiatif Earth Hour City Challenge (EHCC), dan berhak menyandang gelar ‘The Most Loveable City 2015’

Terpilihnya kota Balikpapan setelah bersaing bersama 47 kota finalis  EHCC  di 17 negara. Hasil ini diperoleh dari pemilihan publik melalui website dan media sosial. Masyarakat dari seluruh dunia dapat memilih kota kesayangannya melalui beragam cara seperti mengklik tombol vote di website www.welovecities.org, mengirimkan tweet,  mengunggah foto dan video melalui Instagram, maupun memberikan saran untuk perbaikan kota pilihan  mereka. Kampanye interaktif ini berlangsung sejak 26 Januari 2015 hingga perayaan Earth Hour tanggal 28 Maret 2015. 

Walikota Balikpapan Rizal Effendi menerimalangsung penghargaan ini dari CEO WWF Korea di Seoul, Korea Selatan, hari ini (9/4). “Atas nama warga Kota Balikpapan saya mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat dalam kampanye We Love Cities sehingga Kota Balikpapan berhasil meraih predikat sebagai ‘The Most Loveable City’. 

Pencapaian ini menjadi dorongan tersendiri bagi komitmen Pemerintah Kota untuk bersama seluruh warga menjadikan Balikpapan sebagai kota berkelanjutan yang ramah lingkungan, nyaman untuk dihuni dan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. Program-program untuk pengelolaan sampah, penggunaan lampu hemat energi untuk penerangan jalan umum dan juga pendidikan lingkungan bagi siswa di lingkungan Kota Balikpapan akan terus menjadi bagian dari aksi nyata kami untuk mempertahankan Balikpapan sebagai kota clean land, clean water dan clean air,” ungkap Rizal Effendi.

Balikpapan Terpilih Sebagai ‘The Most Loveable City’ Kampanye We Love Cities
CEO WWF Korea Selatan, Jean-Paul Paddack menyerahkan sertifikat The World Most Loveable City 2015 kepada Walikota Balikpapan, Rizal Effendi. Balikpapan berhasil mengalahkan Paris dengan selisih sekitar 4.000 suara.
Foto: © WWF-Indonesia

Earth Hour City Challenge (EHCC) adalah inisiatif WWF untuk mengapresiasi kota yang menginspirasi dalam rangka mewujudkan kota berkelanjutan yang ramah lingkungan dan nyaman bagi warganya. Pada penyelenggaraan yang ke-4 yang jatuh pada tahun ini, EHCC diikuti oleh 163 kota dari 17 negara. Kota peserta dari Indonesia adalah Balikpapan, Bandung, Bogor, Cimahi, Jakarta dan Semarang. Dari tiap negara peserta ditetapkan 3 finalis, yang mana finalis dari Indonesia adalah Balikpapan, Jakarta dan Semarang.

Pemenang EHCC tingkat nasional dan global ditetapkan  melalui proses penjurian atas informasi, data, rencana aksi dan program kerja masing-masing kota yang dilaporkan lewat platform Carbon Climate Registry (cCr) – dikelola oleh ICLEI – Local Governments for Sustainability, sebagai mitra kerja WWF dalam EHCC.

Dari 3 kota finalis yang mewakili Indonesia, Jakarta ditetapkan oleh dewan juri sebagai  Indonesia National Earth Hour Capital 2015 karena konsistensinya dalam menjalankan BRT/busway sebagai alternatif transportasi publik, memiliki rencana aksi yang cukup komprehensif untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta adanya komitmen pendanaan untuk program-program tersebut.

Dewan juri internasional EHCC yang beranggotakan para ahli pembangunan kota dan perubahan iklim, juga menetapkan Seoul sebagai Global Earth Hour Capital 2015. “Melalui partisipasi dalam Earth Hour City Challenge, WWF berharap kota-kota di Indonesia bukan hanya terinspirasi tetapi juga menginspirasi kota lain di dunia dalam upaya pengembangan kota berkelanjutan. Selamat kepada Jakarta dan Balikpapan atas pencapaian yang diraih tahun ini, WWF mengajak kota lain di Indonesia untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga kelestarian sumber daya alam melalui partisipasi dalam Earth Hour City Challenge berikutnya,” kata CEO WWF-Indonesia, Dr. Efransjah.

Berikut adalah foto-foto dokumentasi kampanye We Love Cities "We Love Balikpapan" yang dikumpulkan Basecamp Petualang dari berbagai sumber: 

Ikatan Orang Tua Murid SD Nasional KPS Balikpapan yang ikut mengkampanyekan gerakan We Love Balikpapan.
Foto: TRIBUN KALTIM / ANJAS PRATAMA
Yeah WE LOVE BALIKPAPAN! Street Campaign Earth Hour Balikpapan.
Foto: Twitter | @EHBalikpapan & ‏@MigasTPMA
KODIM 0905/BALIKPAPAN mendukung gerakan "WE LOVE BALIKPAPAN"
Foto: kodam-mulawarman.mil.id
We Love Balikpapan di depan kantor Walikota Balikpapan.
Foto: Kaltim Post Online


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Nenden N. Fathiastuti, Public Relations Manager, WWF-Indonesia
Email: nfathiastuti@wwf.or.id, Hp: +62 811 1909 148

Noverica Widjojo, Media Relations Officer, WWF-Indonesia
Email: nwidjojo@wwf.or.id, Hp: +62 812 1958 1985


Artikel diatas kami sadur dari situs resmi WWF Indonesia (klik disini)

Jumat, 10 April 2015

Permudah Pusat Informasi Melalui SBS Atlas

SBS Atlas. |© WWF-Indonesia
Sunda Banda SescapeSBS (Bentang Laut Sunda Banda), terbentang dari Bali, Nusa Tenggara, Maluku Tenggara, Kupang hingga bagian Selatan pulau Sulawesi dengan luas kawasan kurang lebih 151,3 juta ha. 

Kawasan ini merupakan rumah bagi beberapa spesies yang dilindungi, seperti setasean, hiu, dan ikan-ikan bernilai ekonomis tinggi seperti ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) serta merupakan habitat makan penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), namun sayangnya terancam oleh berbagai kegiatan yang merusak lingkungan

Lembaga non pemerintah yang bekerja di wilayah SBS atau di luar SBS, bahkan lembaga pemerintah pun tidak memiliki kesamaan data mengenai spesies dan kekayaan alam lainnya di wilayah Bentang Laut Sunda Banda. Hal tersbut mendorong WWF-Indonesia untuk membuat atlas untuk SBS (SBS Atlas) untuk berkumpulnya seluruh data yang dimiliki berbagai pihak.

SBS Atlas dikembangkan bersama WWF-US dan World Fish Centre untuk menyebarkan data yang telah terkumpul dan disajikan dalam bentuk spasial yang dapat diaskes oleh siapa saja dengan mudah.  Resmi diluncurkan pada tanggal 26 Februari 2015 pada kegiatan Pertemuan Multi Pihak Kelautan dan Perikanan Lingkup Bentang Laut Sunda Banda.

Tampilan website SBS atlas. |© WWF-Indonesia
Melalui laman http://sbsatlas.reefbase.org/, berbagai informasi dapat diakses dan diunduh, seperti, batasan wilayah SBS dan tiga sub-seascape (Inner Banda, Lesser Sunda dan Southern-Eastern Sulawesi), data ekologi (habitat lamun, bakau, terumbu karang, beberapa spesies ikan penting dan terancam), informasi oseanografi (sebaran klorofil a, arus, salinitas, dll), informasi sosial (demografi dan pola pemanfaatan), informasi spesies (populasi ikan, jalur migrasi penyu, dan penampakan mamalia laut), dan perikanan (mengacu pada indikator EAFM).

Kehadiran SBS Atlas ini diharapkan dapat memotivasi semangat sharing data antar lembaga dan menjadi pooling data untuk memfasilitasi semangat tersebut. Seiring dengan peningkatan upaya konservasi akibat ditetapkannya wilayah SBS sebagai wilayah prioritas konservasi, sistem pool data seperti ini memudahkan akses informasi, menghindari adanya ketumpang tindihan data, dan akhirnya mendukung perkembangan upaya konservasi kawasan SBS kedepannya.

Informasi yang tersedia di SBS Atlas ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi analisa atau kajian lebih lanjut. SBS Atlas ini merupakan living atlas yang dapat dan akan diperbaharui setiap satu tahun sekali seiring dengan perkembangan informasi yang terkumpul.

Terumbu karang sehat di Alor. Foto: © Dwi Ariyoga | WWF-Indonesia

Penulis : Amkieltiela (Marine Science and Knowledge Management Officer)


Sumber: WWF Indonesia

Sejarah Kerajaan Tambora yang Ikut Musnah Bersama Letusan Tambora

Sejarah Kerajaan Tambora yang Ikut Musnah Bersama Letusan Tambora
Ilustrasi letusan mahadasyat Gunung Tambora, 10-11 April 1815, 200 tahun yang lalu. [1]
Gunung Tambora berada di sisi barat daya Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Terletak di antara dua kabupaten, yakni Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.

National Geographic Indonesia melakukan penjelajahan bertajuk "200 Tahun Gelegar Tambora"  pada pertengahan Februari lalu. Tim ini terdiri atas Mahandis Yoanata (teks editor), Firman Firdaus (editor), Warsono (kartografer), dan Dwi Oblo (fotografer) menjelajahi sisi alam dan budaya gunung yang pernah menyandang gunung api tertinggi di Asia Tenggara.

"Tidak banyak yang tahu bahwa dulunya, tanah yang ditinggali penduduk Tambora merupakan wilayah salah satu kerajaan besar di Nusantara."

Gunung Tambora, menurut penelitian para ahli arkeologi dan ahli geologi, memiliki letusan terdahsyat dalam sejarah ingatan manusia. Gelegar megakolosal gunung itu mendera Bumi pada 10-11 April 1815, menewaskan sedikitnya 71.000 orang yang tinggal di kawasan sekitar gunung tersebut, termasuk Pulau Lombok dan Bali. Sebuah kaldera tercipta dengan garis tengah sekitar enam kilometer.

Sejarah Kerajaan Tambora yang Ikut Musnah Bersama Letusan Tambora
Jalan yang terputus seperti ini kerap dijumpai oleh tim penjelajahan "200 Tahun Gelegar Tambora" di pesisir utara Pulau Sumbawa. (Dwi Oblo)

Selama beberapa tahun ke depan sejak letusan mahadahsyat tersebut, tidak ada satupun kehidupan yang tersisa. Permukaan daratan tertutup oleh selimut abu vulkanik, menyisakan hanya bebatuan dan tanah yang gersang. Sementara keanehan iklim mendera kawasan Eropa dan Amerika Utara: hilangnya musim panas pada 1816.

Setelah beberapa puluh tahun, tanah yang diselimuti abu vulkanik itu kemudian ditumbuhi vegetasi subur, menjadikannya lahan yang baik untuk bercocok tanam.

Sekitar seratus tahun usai letusan, para pendatang baru menempati tanah Tambora. Sehamparan kebun kopi milik warga Belanda menjadi tengara peradaban baru di Tambora. Kini, tanaman kopi yang tumbuh subur sebagai salah satu sumber mata pencaharian bagi warga sekitar. Para warga Tambora masa kini datang dari daerah di Sumbawa sendiri, Lombok, Flores, hingga Jawa.

"Mereka baru mengetahui fakta adanya kerajaan Tambora bertahun-tahun sejak mereka menempati tanah tersebut," jelas Mahandis. "Setelah para  ilmuwan melakukan  pencarian jejak pada wilayah yang diduga merupakan situs arkeolgi permukiman Tambora, barulah penduduk setempat mengerti tentang keberadaan Kerajaan Tambora."

Sejarah Kerajaan Tambora yang Ikut Musnah Bersama Letusan Tambora
Seorang pendaki menapaki jalur menuju puncak Gunung Tambora dengan ketinggian 2.850 meter yang terlihat di kejauhan. National Geographic Indonesia melakukan ekspedisi (Warsono/National Geographic Indonesia)

Terdapat dua kerajaan yang menghimpun kekuasaan di pinggang gunung ini: Tambora dan Pekat. Keduanya lenyap bersama seluruh warganya karena diterjang murka Tambora pada April 1815. Pada 1980-an, dan hingga kini, warga setempat kerap menemukan harta dan perabotan yang terserak dari sebuah perkampungan masa silam.

Dalam perjalanan menuju Tambora, tim ekspedisi juga menyambangi situs arkeologi bersimbol Siwa dan Buddha di wilayah pesisir utara Kabupaten Bima. Situs Wadu Pa'a, atau Batu Pahat, sebuah pesan arif dari leluhur yang mengajarkan kerukunan kepada kita dan semesta.

Sejarah Kerajaan Tambora yang Ikut Musnah Bersama Letusan Tambora
Melintasi sabana, seekor kijang terekam saat tim penjelajahan (Dwi Oblo/National Geographic Indonesia)




Keterangan:

[1] Foto ilustrasi letusan Tambora
Hujan deras mendera sebuah permukiman di pinggang Tambora, sesaat sebelum gunung itu bererupsi dahsyat. Lalu, hujan abu dan gemuruh mulai meneror warga untuk segera mengungsi. Malangnya, luncuran awan panas telah menerjang permukiman sebelum semua warga meninggalkan desa, mungkin kala erupsi megakolosal pada 10 April 1815. Selama beberapa tahun terakhir, ahli arkeologi berhasil mengidentifikasi kembali repihan permukiman itu: Deretan rumah berpanggung nan bersahaja, beratap ijuk dan berdinding anyaman bambu. (Sandy Solihin) Sumber: NGI