Selasa, 08 September 2015

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi
Luas Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai mencapai empat kabupaten. Foto: Harley Bayu Sastha | DestinAsian

Di balik lanskapnya yang ajaib, Rawa Aopa Watumohai memikul tanggung jawab besar dalam gerakan pelestarian lahan basah dunia.

Dari 45 taman nasional di Indonesia, Rawa Aopa Watumohai mungkin terdengar paling asing. Dan layaknya taman nasional yang asing, perannya bagi lingkungan kerap jauh melampaui pamornya.

Saya datang di musim kemarau. Satu fakta yang mencengangkan dari Rawa Aopa adalah ukurannya. Suaka di ujung tenggara Sulawesi ini membentang di empat kabupaten sekaligus. Luasnya sekitar 105.000 hektare, jauh lebih luas dari Jakarta.

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi
Sesuai dengan namanya, Rawa Aopa juga terdiri atas rawa. Rawa ini merupakan yang terbesar di Sulawesi. Foto: Harley Bayu Sastha | DestinAsian

Burung adalah satwa ikonisnya. Tempat yang berada di Zona Wallacea ini merupakan habitat bagi 155 jenis burung, dengan 32 di antaranya tergolong langka. Mereka berkeliaran di lima ekosistem yang mengukir lanskap: rawa, hutan pantai, sabana, bakau, serta hutan hujan dataran rendah. Salah satu koleksinya sempat menciptakan sensasi, yakni kacamata Sulawesi. Sempat raib selama puluhan tahun, burung dengan ciri lingkaran putih di sekeliling mata itu kini mulai terlihat kembali di Rawa Aopa.

“Di musim teratai, biasanya kita bisa melihat banyak burung di atas daun,” ujar Darman, staf Balai Taman Nasional, saat kami menyusuri rawa. Dia menunjuk beberapa ekor burung yang menyempil di antara tumbuhan dan ilalang. “Jika musim migrasi, burung aroweli sangat mudah dilihat di sini,” ujarnya lagi. Aroweli, burung langka yang dilindungi, lebih popular dengan nama bangau putih susu.

Kami mengarungi kompleks rawa terluas di Sulawesi hingga hari beranjak senja. Dari atas perahu, Rawa Aopa terlihat bak sebuah baskom raksasa. Baskom yang punya peran vital dalam memasok air bagi sungai dan rumah di sekitarnya,termasuk ke Kota Kendari yang berjarak tiga jam.

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi
Pohon-pohon tinggi menjadi habitat alami burung. Foto: Harley Bayu Sastha | DestinAsian

Warga umumnya terkonsentrasi di zona bakau dan menyandarkan hidup dari menangkap ikan, udang, dan kepiting. Saat hasil tangkapan tak menjanjikan, mereka bertani rumput laut. Warga dan alam hidup rukun. Demi menjaga lingkungan, kampung-kampung nelayan sudi mematuhi larangan mendirikan bangunan baru.

Tapi bukan berarti tempat ini sepenuhnya bebas masalah. Di Watumohai, gunung berhutan di Rawa Aopa, populasi rusa jauh terkikis akibat perburuan liar. Guna melestarikannya, pihak taman nasional terpaksa menciptakan area penangkaran. Keputusan yang janggal. Buat apa memiliki kawasan yang dilindungi jika masih harus membangun penangkaran di dalamnya.

Padang sabana adalah lanskap yang paling menakjubkan di Rawa Aopa. Kompleks seluas 23.000 hektare ini memadukan padang rumput dengan tumbuhan agel, lontar, bambu berduri, serta belukar.

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi
Selain burung, taman nasional ini juga menjadi rumah rusa. Foto: Harley Bayu Sastha | DestinAsian

Untuk menjangkau sabana, saya menaiki motor dan meniti jalan lebar yang, menurut warga, didirikan atas bantuan pemerintah Australia. Setelah 15 menit berbelok dari jalan raya, sabana terhampar di hadapan. Bentuknya mirip padang golf alami.

Selanjutnya kami menyeberangi sungai dan menembus hutan, juga melewati lokasi bertelurnya maleo dan kakatua jambul kuning. Setelah dua jam, kami kembali tiba di padang sabana lainnya, tapi kali ini sosoknya lebih ajaib: bukit-bukit rumput yang saling berkelindan layaknya gelombang di lautan hijau. Mirip lokasi syuting Teletubbies.

“Ini baru sebagian,” kata Putu, teknisi Pengendali Ekosistem Hutan, menyela lamunan saya. “Di balik ini masih ada bukit-bukit lainnya yang lebih bagus.”

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi
Sapi-sapi yang juga memanfaatkan taman nasional Rawa Aopa untuk mencari makan. Foto: Harley Bayu Sastha | DestinAsian

Rawa Aopa bukan hanya penting bagi Indonesia. Pada 6 Maret 2011, taman nasional ini dinobatkan dunia sebagai Situs Ramsar, yakni area lahan basah yang didedikasikan bagi konservasi. Ramsar merujuk pada sebuah kota di Iran yang menjadi tempat ditandatanganinya Konvensi Lahan Basah oleh tujuh negara. Kendati namanya asing, Rawa Aopa ternyata menjadi bagian gerakan global yang berniat menjaga kelestarian bumi.

Rawa Aopa Watumohai; Taman Nasional Raksasa di Sulawesi
Padang rumput luas dengan bukit-bukit hijau. Foto: Harley Bayu Sastha | DestinAsian




Teks dan foto oleh Harley Bayu Sastha
Dipublikasikan perdana di majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2015 (“Suaka Sulawesi”)

Sumber: DestinAsian

Selasa, 01 September 2015

Petisi; Katakan kepada PBB: HTI bukan hutan!

Petisi; Katakan kepada PBB: HTI bukan hutan!
HTI yang secara ekologis tidak bernilai justru di mata PBB adalah hutan.
Petisi; Katakan kepada PBB: HTI bukan hutan!

Hutan memiliki ragam kehidupan, merupakan habitat ribuan hewan, tumbuhan serta jutaan manusia – hutan tanaman industri sama sekali bukan hutan, melainkan gurun berwarna hijau. Meskipun begitu PBB mengindahkan monokultur dengan istilah hutan, dan demikian membuka pintu bagi perusakan alam. Katakakan pada PBB: HTI bukanlah hutan.

Pandangan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB FAO tentang hutan sudah sejak lama memiliki kesalahan yang fundamental: FAO mendefinisikan hutan dengan mudahnya sebagai lahan yang ditutupi pohon.

Hutan hujan tropis ditebang dan dikonversi menjadi perkebunan karet, hutan subtropis dan hutan iklim gugur yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi ditebang agar jalan untuk HTI pinus dan eukalyptus jadi terbuka – menurut definisi FAO masalah ini bukan sebagai kerugian hutan (no net deforestation). Jika lahan rumput dirusak atau lahan petani kecil dicuri dan dibajak untuk ditanami monokultur tanaman industri, FAO menyebutnya afforestasi.

Menerima definisi hutan dari FAO yang tidak mencakup aspek keanekaragaman biologis, sosial, kultur dan spiritualnya, akan membantu perluasan HTI yang membawa kerugian bagi komunitas setempat, hutan yang sebenarnya dan sistim ekologi lainnya. Bahkan HTI eukalyptus yang genetiknya telah dirubah dengan salah FAO menyebutnya sebagai "hutan".

FAO menempuh jalan pemecahan masalah perubahan iklim yang salah; yaitu hutan hanya dianggap penyimpan karbon. Definisi yang salah ini sudah sejak lama dikritik oleh banyak NGO, gerakan sosial dan ilmuwan.

Di bulan September FAO menyelenggarakan kongres hutan dunia di Durban yang akan banyak dihadiri pihak industri kayu. Secara bersamaan berlangsung juga kongres tentang "Civil Society Alternative Program."

Bersama dengan beberapa NGO dan gerakan sosial dari seluruh dunia Selamatkan Hutan Hujan disana akan angkat suara menentang alasan atas penebangan hutan dan menuntut pihak yang bertanggung jawab.

Tolong Anda dukung petisi ini yang akan kami serahkan di FAO kongres hutan dunia.


Dukung petisinya di situs Selamatkan Hutan Hujan
(klik tombol tautan dibawah untuk menuju halaman petisi)

Petisi; Katakan kepada PBB: HTI bukan hutan!



Petisi tersebut ditujukan kepada: 

Sekretaris Jendral FAO José Graziano da Silva dan ketua kongres hutan dunia Trevor Abrahams dan Tiina Vahanen

Definisi UNO tentang hutan menguntungkan HTI dan menyebabkan penebangan hutan. HTI atau perkebunan bukanlah hutan.

dengan isi surat sebagai berikut:

Yang terhormat Sekretaris Jendral FAO José Graziano da Silva,  
yang terhormat Trevor Abrahams, dan yang terhormat Tiina Vahanen, 
FAO mendefinisikan hutan sebagi wilayah yang luasnya lebih dari 0,5 hektar, dimana 10 persennya ditutupi pucuk pohon yang tingginya lebih dari 5 meter. 
Definisi ini menyempitkan arti hutan yang hanya berdasarkan lahan yang ditutupi pohon. Anda mengenyampingkan keanekaragaman pepohonan secara struktural, fungsional dan biologis, dimana hal ini semua sebenarnya membentuk sebuah hutan. Selain itu Anda juga mengenyampingkan arti budaya dari komunitas yang hidup dari hutan. 
Definisi FAO menolong para peminat lobby kayu dan pengusaha HTI untuk kertas, bubur kertas, karet dan energi bio. FAO bahkan mengijinkan jenis-jenis pepohonan yang genetisnya telah dirubah digolongkan sebagai „hutan“. Fungsi hutan yang hanya sebagai penyimpan karbondioksida memungkinkan perusahaan untuk mensahkan HTI sebagai „hutan tanaman“. 
Dengan begitu mereka bisa menjual sertifikat karbon (carbon credits). Hal ini bukanlah jalan keluar bagi perubahan iklim karena pada saat proses perubahan hutan menjadi HTI karbon yang berada di tumbuhan dan tanah menjadi terlepas. 
Perluasan HTI, contohnya dari eukalyptus, pinus dan akasia, secara langsung atau tidak langsung merupakan pendorong penebangan hutan. Hal ini menyebabkan keanekaragaman hayati jadi rusak, kehidupan jutaan masyarakat adat serta penduduk lainnya yang hidupannya tergantung dari hutan terganggu serta terjadinya perubahan iklim. Menurut FAO diseluruh dunia terdapat 300 juta manusia yang hidupannya tergantung langsung dari hutan. 
Definisi FAO yang keliru itu melegitimasikan dan mendukung segala perkembangan yang merusak ini. 
Dalam prinsip dasarnya FAO menyatakan dirinya sebagai organisasi yang melaksanakan kegiatan internasional untuk memberantas kelaparan. Bersamaan dengan itu FAO ingin sebuah forum netral, didalamnya „seluruh negara saling bertemu dengan kesetaraan“. Untuk memenuhi keinginan ini FAO harus merubah definisi hutannya: Keluar dari definisi yang hanya berasal dari pandangan dan keuntungan pengusaha kayu, bubur kayu, kertas dan karet. Bentuk definisi yang merefleksikan fakta ekologis dan pandangan masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan! 
Proses membentuk definisi hutan yang benar harus mengikutsertakan penduduk yang hidupnya bergantung dari hutan dan tidak boleh berada dibawah pengaruh pihak pelaku HTI, seperti yang berlaku hingga kini. 
Selama World Forestry Congress dari FAO di Durban (Afrika Selatan) gabungan besar dari gerakan sosial, NGO dan aktivis menuntut FAO dan institusi lainnya untuk membuat definisi hutan yang baru. Proses ini harus dilaksanakan oleh pihak komunitas hutan. 
Kami yakin bahwa definisi hutan dari FAO harus dirubah dan HTI tidak boleh lagi didefinisikan sebagai hutan. 
Dengan hormat

Selasa, 30 Juni 2015

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Novtama Dikecam Netizen

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Novtama Dikecam Netizen
Foto Novtama dan bekantan hasil buruan. Foto: ©facebook.com

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Pengguna Instagram Dikecam [1]

Salah satu pengguna Instagram dikecam oleh netizen dan kalangan pencinta lingkungan karena berpose dengan bekantan, salah satu satwa Indonesia yang dilindungi.

Bersama fotonya, Novtamaputra, demikian nama akun pengguna Instragram itu, mengatakan, "Hasil berburu...."

Dalam foto Novtamaputra, tampak seseorang mengangkat bekantan dengan dua tangannya, berpose sambil tersenyum. Tak jelas kondisi bekantan, mati atau hidup.

Sejumlah netizen mengecam Novtamaputra. Pengguna Instagram bernama Dianalmira, misalnya, mengatakan, "Orang sarappppppp.. Ga Ounya hati!"

Sementara itu, Iidsatria mengungkapkan, "Hewan langka untuk dilindungi bukan untuk diburu dan dimakan."

Minta maaf

Menerima banyak kecaman, Novtama akhirnya minta maaf kepada publik karena telah mengunggah foto bersama hewan dilindungi.

"Untuk semua orang saya mohon maaf karena telah mengupload foto ini," katanya juga lewat Instagram.

"Ini adalah hasil buruan orang di kebun keluarga di kampung, tepatnya di Kabupaten Murung Raya," imbuhnya.

"Saya sangat minta maaf karena di foto ini saya tulis 'hasil berburu', tapi sebenarnya bukan saya yang berburu," kata Novtama.

Novtama juga mengaku tidak memakan daging bekantan tersebut. Dia juga mengaku hanya datang ke kampung untuk liburan.

Tetap tidak etis

Anisa Ratna, Sekretaris Garda Satwa Indonesia, mengatakan, "Kami sangat menyayangkan. Bekantan dari tahun 2000 sudah masuk kategori endangered animal alias terancam punah, masuk Appendix 1."

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 Pasal 21 ayat 2, siapa pun yang membawa, menangkap, membunuh, dan menjual satwa bisa dikenai denda Rp 100 juta dan 5 tahun penjara.

Dalam permintaan maafnya, Novtama mengungkapkan bahwa foto dirinya dan bekantan diunggah hanya untuk bercanda.

Namun, Anisa mengungkapkan, sampai saat ini, belum ada yang bisa membuktikan ke mana bekantan itu.

Ia menambahkan, jika pun bercanda, guyonan ini memancing orang untuk berpikir tidak masalah memburu satwa dilindungi.

Berdasarkan informasi yang diterima Garda Satwa Indonesia, Novtama akan dipanggil kepolisian Selasa (30/6/2015) untuk memberi keterangan tentang aksinya.

Populasi bekantan di dunia hanya tinggal 25.000. Penting untuk menjaga hewan yang populasinya tak sampai 5 persen populasi manusia itu. 

Pamer Bekantan Hasil Buruan, Novtama Dikecam Netizen
Akun Novtamaputra dan bekantan hasil berburu.

Jadikan Bekantan sebagai buruan, Novtama harus dihukum [2]

Anggota Scorpion Wildlife Trade Monitoring Group Marison Guciano mengatakan meski pelaku pembunuh mahasiswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu sudah meminta maaf. 

Namun proses hukum harus tetap ditegakkan untuk pelaku pembunuh bekantan itu.

"Harus ada tindakan tegas terhadap pelaku kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi. Harus diproses hukum," tutur Marison dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Selasa (30/6).

Menurut Marison, pelaku Novtama melanggar undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Novtama, kata dia juga melanggar undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 

Sebelumnya, pemilik akun instagram novtamaputra memosting foto hasil buruan bekantan. Pose dia bersama bekantan diberi di instagram berjudul 'hasil berburu'. 

Foto ini diposting pelaku melalui Instagram ini, dan disebarluaskan lewat Facebook hingga menuai banyak kecaman dari netizen. Salah satu netizen Arya ExoArya yang mengatakan oknum aparatur negara cuma beraninya sama bekantan. 

"Kalau disuruh berantas koruptor berani enggak dia," kata dia.

Kemudian netizen lain Fia Rose Calisty II menilai pemburu bekantan itu tidak mencerminkan perilaku yang baik. Padahal pemburu itu mengenakan seragam Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

"Sayang banget cowok ganteng begini tapi begonya bukan main. Semoga yang bersangkutan hanya kurang diedukasi saja soal bekantan ini, semoga saja yang bersangkutan tidak tahu kalau bekantan itu satwa langka yang dilindungi," cetus Amelya Navratilova.


Selamatkan Satwa Langka Indonesia... 

Sumber: 
[1] Kompas

Senin, 29 Juni 2015

Kejam! Foto Pembunuhan Harimau Sumatra Tuai Kecaman

Foto Pembunuhan Harimau Sumatra Tuai Kecaman
Sadis...! beberapa orang nampak berfoto bahagia bersama Harimau Sumatra yang sudah tewas. Foto: ©facebook.com
Harimau Sumatera adalah satwa dilindungi yang populasinya semakin mengecil akibat berkurangnya habitat dan perburuan liar. Perburuan atau pembunuhan harimau sumatera itu melanggar hukum. Menurut UU nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku pembunuhan satwa dilindungi seperti harimau itu bisa diancam hukaman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. 

Foto warga bantai harimau tuai kecaman [1]

Seekor Harimau Sumatera telah tewas disiksa oleh sekelompok orang di Pemantangsiantar, Sumatera Utara. Harimau Sumatera tersebut juga berlumpuran darah dengan diikat oleh tali.

Pelaku pembantaian hewan yang dilindungi malah memposting foto Harimau Sumatera itu di Facebook dengan nama Manullang Aldosutomo. Berdasarkan foto yang diperoleh merdeka.com dari facebook. Penyiksaan Harimau Sumatera itu mengundang komentar banyak dari netizen. 

Salah satu pemilik facebook Muda Putra Siadari mengatakan binatang satwa tidak boleh disiksa apalagi dimusnahkan. "Hati-hati ngeshare foto Bang. Apa lagi membunuh binatang yang dilindungi. Bisa berurusan sama kepolisian kalau ada yang ngelapor," komentarnya.

Tak hanya itu, netizen lain Sugi menyebutkan sekelompok orang yang menyiksa Harimau Sumatera itu tidak mempunyai hati nurani. Sebab Harimau Sumatera adalah binatang satwa yang dilindungi oleh negara. 

"Kenapa harus diperlakukan seperti itu. Ini yang dinamakan manusia tapi bersifat layaknya binatang," cetusnya.

Foto ini menambah deretan binatang yang dibantai secara sadis, sebelumnya seekor orangutan tewas secara tragis di tangan manusia. Tak hanya jadi buruan, hewan ini juga dibantai bahkan dimasak sebagai santapan.

Tak malu dengan tindakannya itu, pelaku pembantaian hewan yang dilindungi malah memposting foto proses memasak di Facebook dengan nama Polo Panitia Hari Kiamat. Yang lebih parah, dia menulis orangutan itu dibakar untuk buka puasa.

Kejam! Foto Pembunuhan Harimau Sumatra Tuai Kecaman
Dicari Pelaku Pembantaian Harimau Sumatera yang Diunggah di Facebook

Halaman resmi ProFauna: [2]
Dicari Pelaku Pembantaian Harimau Sumatera yang Diunggah di Facebook

Belum hilang dari ingatan masyarakat tentang pembantaian primata yang diduga orangutan di Kalimantan Tengah yang diunggah di facebook oleh akun Polo Panitia Hari Kiamat, kini muncul berita tentang dugaan pembantaian seekor harimau sumatera. Pembantaian harimau itu juga diunggah di media sosial facebook.

Harimau sumatera adalah satwa dilindungi yang populasinya semakin mengecil akibat berkurangnya habitat dan perburuan liar. Perburuan atau pembunuhan harimau sumatera itu melanggar hukum. Menurut UU nomor tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku pembunuhan satwa dilindungi seperti harimau itu bisa diancam hukaman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Jika anda mengetahui pelaku pembunuhan harimau tersebut atau mengenal orang-orang yang terlihat dalam foto yang diunggah di facebook tersebut, harap menginformasikannya ke lembaga Protection of Forest & Fauna (PROFAUNA) lewat email: profauna@profauna.net, SMS center 081336657164, 081615711592 atau telpon 08563693611.

PROFAUNA akan meneruskan informasi tersebut ke aparat penegak hukum. Ayo bantu kami menemukan pelaku pembunuhan harimau tersebut! Ingat terungkapnya kasus pembantaian orangutan di Kalteng itu juga tidak terlepas dari bantuan anda menyebarluaskan informasi tersebut!


Sumber: 

Referensi:

Sabtu, 23 Mei 2015

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Danau Matano terletak di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 

Namanya belum setenar Danau Toba di Medan, Sumatera Utara, tapi pesona Danau Matano gak bisa dipandang sebelah mata. Danau Matano terletak di Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. 

Pelesiran ke sini, mustahil kamu tidak jatuh cinta dengan danau yang diklaim sebagai yang terdalam di Asia Tenggara. Mata kamu bakal dimanjakan dengan jernihnya biru air danau, yang membuatmu bisa melihat danau hingga kedalaman 20 meter!

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Pantai Salonsa, Danau Matano. Foto: Wikipedia

Danau Matano terbentuk dari ribuan mata air akibat gerakan tektonik di litosfer. Kini, danau ini menjadi rumah buat aneka ikan serta burung danau terbang dan dikelilingi Pegunungan Verbeek nan hijau. 

Tak hanya itu, sejumlah fauna eksotis, seperti kepiting bungka, udang, siput, keong air tawar dan yang paling kesohor dari Danau Matano, ikan purba buttini yang memiliki nama latin Glossogobius matanensis juga menempati danau ini. Meski bentuk ikan purba ini cukup aneh karena bola matanya menonjol keluar dengan kulit berwarna kecokelatan, dagingnya terasa gurih saat dimakan sehingga menjadi ikan yang paling digemari masyarakat setempat.

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Butini, ikan endemik Danau Matano, yang kini sulit ditemukan. Foto: Mongabay.co.id

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Source: Google

Karakteristik Matano juga unik karena posisinya yang lebih rendah dari permukaan laut. Hal ini merupakan fenomena alam langka yang hanya bisa ditandingi oleh Laut Mati. Menyelami Danau Matano dipercaya bakal memuaskan para diver, tapi berenang di pinggir Matano juga menawarkan pengalaman tak kalah menyenangkan.

Suhu air di Danau Matado tidak dingin, karena danau ini termasuk danau cryptodepression, yang bagian dasarnya lebih dalam dari permukaan laut. Kamu juga bisa berenang ataupun bermain kayak di Pantai Ide, pokoknya, kalo kamu pecinta air dan aktivitas berhubungan dengan air lainnya, dijamin betah di sini!

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Dasar Danau Matano berada hampir 200 meter dibawah permukaan laut.
Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Peta lokasi danau Matano.

Enaknya lagi, meski lokasi pantai ini terletak di kawasan perusahaan tambang PT Vale Indonesia Tbk, Pantai Ide terbuka untuk umum bahkan tanpa biaya masuk untuk menikmati keindahan pantainya. Pantai Ide juga memiliki dermaga sepanjang 50 m yang menjorok ke pinggir danau. Kalau lagi beruntung, kamu bisa menyaksikan pemandangan menakjubkan, yakni senja di danau dengan latar pelangi yang mengalungi Pegunungan Verbeek.

Buat kamu yang mencintai wisata sejarah, menyambangi Danau Matano gak ada salahnya. Di bibir danau ini yang sebagian adalah tebing batu papan, juga terdapat beberapa lubang yang di dalamnya sisa peninggalan sejarah. Barang-barang seperti tombak, parang, dan peralatan rumah yang terbuat dari besi kuningan, yang diprediksi sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Ada juga gua yang lokasinya berada tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk. Di gua ini, banyak terdapat tulang belulang dan tengkorak manusia serta dihuni banyak kelelawar. Warga setempat menyebut gua tersebut Gua Tengkorak. Konon, tengkorak tersebut sudah ada sejak ratusan tahun silam sebelum masyarakat setempat mengenal ajaran agama. Mereka yang telah meninggal dunia dimasukkan ke dalam liang batu.

Danau Matano, Terdalam di Asia Tenggara
Pesona senja di Danau Matano, Sorowako, Sulawesi Selatan.

Buat kamu yang bosan dengan wisata air yang begitu-begitu saja, memasukkan Danau Matano sebagai salah satu tujuan wisata dijamin nggak akan bikin kamu nyesel!

Berikut adalah daftar Keunikan Danau Matano: 
Selain karena terbentuk dari peristiwa alam yang langka dan kedalamannya, Danau Matano memiliki keunikan lainnya.

1. Danau ini bersifat isothermal , artinya suhu air di permukaan dan suhu air di dasar danau itu berbeda kurang dari dua derajat Celcius. 

2. Di dekat Desa Matano yang terletak di sekitar danau ini, terdapat mata air yang mucul dari dasar danau. 

3. Di kedalaman 200-300 meter terdapat kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau.

4. Di danau ini pun terdapat flora dan fauna yang endemik di Sorowako, artinya tidak dapat ditemukan di tempat lainnya.


Nah, karena berbagai keunikannya itu, pemerintah setempat membuat danau ini sebagai tempat tujuan wisata. Selain itu, berbagai kegiatan olahraga air, seperti kano, kayak, jetski, snorkeling, menyelam, layar, renang dan lainnya juga sering dilakukan di danau ini. 

Oh, ya, asal kamu tahu saja nih. Sejumlah pakar ekologi telah merekomendasikan Danau Matano menjadi salah satu world heritage  dan biodiversity hotspot  yang harus dijaga kelestariannya.

Selamat Berpetualang... :)


Sumber:

Kamis, 30 April 2015

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Dahsyatnya longsoran salju yang menghantam Basecamp Everest.  Foto: Robert Schmidt/AFP
Foto Dramatis dari Base camp Everest Saat Gempa 7,9 SR Mengguncang Nepal

Fotografer AFP Roberto Schmidt sedang berada di base camp Everest ketika gempa berkekuatan 7,9 skala richter (SR) mengguncang Nepal, Sabtu (25/4) kemarin. Ini adalah foto-foto dramatisnya dari lokasi.

"Fotografer AFP Roberto Schmidt, di base camp Everest saat gempa terjadi, sudah mengirimkan foto pertamanya," tulis AFP dalam akun twitternya, Minggu (26/4/2015).

Di antara foto tersebut, ada penampakan dahsyatnya longsoran salju yang menghantam base camp. Gulungan salju berwarna putih terlihat memenuhi layar kamera.

Selain itu, ada juga berbagai gambar tenda-tenda para pendaki gunung Everest yang hancur akibat hantaman longsoran salju. Tenda-tenda tersebut tak ada lagi yang berdiri. Semua berantakan.

Di foto lain, terlihat gambar para pendaki sedang menggotong tandu. Beberapa lainnya mencari kemungkinan korban yang bisa dievakuasi.

Base camp Everest 1 dan 2 menampung ratusan pendaki. Mereka dilaporkan semua selamat. Namun upaya evakuasi cukup sulit karena medan menuju base camp terhalang longsoran salju.

Saat ini, proses evakuasi baru bisa dilakukan lewat helikopter.

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Dahsyatnya longsoran salju yang menghantam Basecamp Everest.  Foto: Robert Schmidt/AFP

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Dahsyatnya longsoran salju yang menghantam Basecamp Everest.  Foto: Robert Schmidt/AFP

Tenda-tenda para pendaki tampak tidak beraturan akibat terkena dampak longsoran. Laporan terakhir yang dilansir CNN-IBN, 18 orang pendaki ditemukan tewas.

Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Tenda-tenda para pendaki tampak tidak beraturan akibat terkena dampak longsoran. Laporan terakhir yang dilansir CNN-IBN, 18 orang pendaki ditemukan tewas.
Foto Dramatis dari Basecamp Everest Saat Gempa Mengguncang Nepal
Longsoran salju (avalanche) di sisi selatan Gunung Everest saat terjadi gempa di Nepal pada Sabtu (25/04/2015). Foto : Northmen PK


Sumber:

Agence France-Presse | Twitter

Detik

Sabtu, 11 April 2015

Balikpapan Terpilih Sebagai ‘The Most Loveable City’ Kampanye We Love Cities

CINTAI KOTA: Balikpapan berkesempatan menjadi kota yang paling dicintai dunia dalam ajang Earth Hour City Challenge. Foto: Pojoksatu.id
Kota Balikpapan berhasil menempati urutan pertama dalam kampanye We Love Cities yang merupakan rangkaian dari inisiatif Earth Hour City Challenge (EHCC), dan berhak menyandang gelar ‘The Most Loveable City 2015’

Terpilihnya kota Balikpapan setelah bersaing bersama 47 kota finalis  EHCC  di 17 negara. Hasil ini diperoleh dari pemilihan publik melalui website dan media sosial. Masyarakat dari seluruh dunia dapat memilih kota kesayangannya melalui beragam cara seperti mengklik tombol vote di website www.welovecities.org, mengirimkan tweet,  mengunggah foto dan video melalui Instagram, maupun memberikan saran untuk perbaikan kota pilihan  mereka. Kampanye interaktif ini berlangsung sejak 26 Januari 2015 hingga perayaan Earth Hour tanggal 28 Maret 2015. 

Walikota Balikpapan Rizal Effendi menerimalangsung penghargaan ini dari CEO WWF Korea di Seoul, Korea Selatan, hari ini (9/4). “Atas nama warga Kota Balikpapan saya mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat dalam kampanye We Love Cities sehingga Kota Balikpapan berhasil meraih predikat sebagai ‘The Most Loveable City’. 

Pencapaian ini menjadi dorongan tersendiri bagi komitmen Pemerintah Kota untuk bersama seluruh warga menjadikan Balikpapan sebagai kota berkelanjutan yang ramah lingkungan, nyaman untuk dihuni dan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. Program-program untuk pengelolaan sampah, penggunaan lampu hemat energi untuk penerangan jalan umum dan juga pendidikan lingkungan bagi siswa di lingkungan Kota Balikpapan akan terus menjadi bagian dari aksi nyata kami untuk mempertahankan Balikpapan sebagai kota clean land, clean water dan clean air,” ungkap Rizal Effendi.

Balikpapan Terpilih Sebagai ‘The Most Loveable City’ Kampanye We Love Cities
CEO WWF Korea Selatan, Jean-Paul Paddack menyerahkan sertifikat The World Most Loveable City 2015 kepada Walikota Balikpapan, Rizal Effendi. Balikpapan berhasil mengalahkan Paris dengan selisih sekitar 4.000 suara.
Foto: © WWF-Indonesia

Earth Hour City Challenge (EHCC) adalah inisiatif WWF untuk mengapresiasi kota yang menginspirasi dalam rangka mewujudkan kota berkelanjutan yang ramah lingkungan dan nyaman bagi warganya. Pada penyelenggaraan yang ke-4 yang jatuh pada tahun ini, EHCC diikuti oleh 163 kota dari 17 negara. Kota peserta dari Indonesia adalah Balikpapan, Bandung, Bogor, Cimahi, Jakarta dan Semarang. Dari tiap negara peserta ditetapkan 3 finalis, yang mana finalis dari Indonesia adalah Balikpapan, Jakarta dan Semarang.

Pemenang EHCC tingkat nasional dan global ditetapkan  melalui proses penjurian atas informasi, data, rencana aksi dan program kerja masing-masing kota yang dilaporkan lewat platform Carbon Climate Registry (cCr) – dikelola oleh ICLEI – Local Governments for Sustainability, sebagai mitra kerja WWF dalam EHCC.

Dari 3 kota finalis yang mewakili Indonesia, Jakarta ditetapkan oleh dewan juri sebagai  Indonesia National Earth Hour Capital 2015 karena konsistensinya dalam menjalankan BRT/busway sebagai alternatif transportasi publik, memiliki rencana aksi yang cukup komprehensif untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta adanya komitmen pendanaan untuk program-program tersebut.

Dewan juri internasional EHCC yang beranggotakan para ahli pembangunan kota dan perubahan iklim, juga menetapkan Seoul sebagai Global Earth Hour Capital 2015. “Melalui partisipasi dalam Earth Hour City Challenge, WWF berharap kota-kota di Indonesia bukan hanya terinspirasi tetapi juga menginspirasi kota lain di dunia dalam upaya pengembangan kota berkelanjutan. Selamat kepada Jakarta dan Balikpapan atas pencapaian yang diraih tahun ini, WWF mengajak kota lain di Indonesia untuk menunjukkan komitmen Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga kelestarian sumber daya alam melalui partisipasi dalam Earth Hour City Challenge berikutnya,” kata CEO WWF-Indonesia, Dr. Efransjah.

Berikut adalah foto-foto dokumentasi kampanye We Love Cities "We Love Balikpapan" yang dikumpulkan Basecamp Petualang dari berbagai sumber: 

Ikatan Orang Tua Murid SD Nasional KPS Balikpapan yang ikut mengkampanyekan gerakan We Love Balikpapan.
Foto: TRIBUN KALTIM / ANJAS PRATAMA
Yeah WE LOVE BALIKPAPAN! Street Campaign Earth Hour Balikpapan.
Foto: Twitter | @EHBalikpapan & ‏@MigasTPMA
KODIM 0905/BALIKPAPAN mendukung gerakan "WE LOVE BALIKPAPAN"
Foto: kodam-mulawarman.mil.id
We Love Balikpapan di depan kantor Walikota Balikpapan.
Foto: Kaltim Post Online


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Nenden N. Fathiastuti, Public Relations Manager, WWF-Indonesia
Email: nfathiastuti@wwf.or.id, Hp: +62 811 1909 148

Noverica Widjojo, Media Relations Officer, WWF-Indonesia
Email: nwidjojo@wwf.or.id, Hp: +62 812 1958 1985


Artikel diatas kami sadur dari situs resmi WWF Indonesia (klik disini)